
TASIKMALAYA, Thecuy.com – Efisiensi anggaran ternyata bukan teori. Ia mulai terasa. Perusahaan yang biasa mendapat pekerjaan dari pemerintah mulai sepi. Ada yang bahkan sudah mengurangi pegawai harian dan bulanan.
Begitulah kalau uang pemerintah dikurangi peredarannya. Ekonomi ikut tersedak. Tetapi jangan buru-buru menyalahkan efisiensi.
Bisa jadi yang perlu dikurangi bukan dagingnya. Lemaknya. Itu yang sekarang harus dilihat Pemkot Tasikmalaya.
10 Syarat Menuju Kursi KADIN!Pengelolaan Parkir di Kota Tasikmalaya Langganan Gagal! Inovasi Silih Berganti, Target Tak Pernah Tercapai
Efisiensi melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025 mestinya menjadi kesempatan untuk membuka seluruh APBD. Bukan sekadar mencari angka yang bisa dipotong.
Pemerhati Anggaran, Nandang Suherman mencoba melihat APBD 2026. Ada angka-angka yang menarik. Makan-minum: sekitar Rp16,2 miliar. Perjalanan dinas: sekitar Rp16,2 miliar. ATK, cetak, cover: sekitar Rp16,3 miliar. Pakaian dinas: sekitar Rp2,4 miliar. Iklan dan pemotretan: sekitar Rp3,3 miliar. Internet: sekitar Rp4,7 miliar.
Tidak ada yang salah dengan makan-minum. Pejabat juga manusia. Rapat juga perlu minum. Tetapi Rp16,2 miliar?
Pertanyaannya bukan: boleh atau tidak.Pertanyaannya: masih perlu sebanyak itu?Rapat Kok Masih Mahal? Pemkot sudah bicara digitalisasi. Sudah bicara e-government. Sudah punya internet. Rapat bisa lewat layar.
Dokumen bisa dikirim secara digital. Tanda tangan semakin elektronik. Tapi makan-minum tetap jalan. Perjalanan dinas juga jalan.
Jangan-jangan teknologinya sudah digital, tetapi kebiasaannya masih analog. Rapat virtual memang tidak menghasilkan susuguh.
Itulah mungkin sebabnya rapat virtual kadang kurang menarik. Tidak ada nasi kotak. Tidak ada kopi. Tidak ada perjalanan.
Lumba-Lumba Terdampar dan Mati di Pantai Timur PangandaranBeringin Tasikmalaya Mencari Pewaris!
Padahal kalau perjalanan dinas Rp16,2 miliar dan makan-minum Rp16,2 miliar, jumlahnya sudah Rp32,4 miliar.
Itu bukan angka kecil. Itu uang rakyat.ATK Rp16,3 Miliar Ini yang lebih menarik.ATK, cetak, cover sekitar Rp16,3 miliar.Di zaman kertas semakin sedikit. Di zaman dokumen digital. Di zaman pemerintah mendorong paperless. ATK malah masih belasan miliar.
Mungkin yang perlu didigitalisasi bukan hanya dokumennya. Kebiasaan juga.Sebab kalau semua sudah digital tetapi anggaran ATK tetap gemuk, berarti ada sesuatu yang belum ikut berubah.
Dokumen yang Terus Dibuat Ada lagi kebiasaan birokrasi yang kelihatannya sangat pintar. Membuat dokumen. Rencana tahunan. Laporan tahunan. Kajian ekonomi.Kajian lalu lintas. Kajian lingkungan. Kajian tata ruang.
Baca juga Berita lainnya di News Page
Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].