Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Dianggap Tidak Masuk Akal

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com– Baru-baru ini, Pemerintah Kota Tasikmalaya sangat bangga atas penurunan angka kemiskinan dari 10,84% menjadi 9,34%. Namun, hal ini menuai kontroversi karena dianggap tidak rasional jika melihat realita di masyarakat.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Bagas Suryono, menyesalkan sikap pemerintah yang dengan percaya diri mengumumkan hal ini kepada publik. Menurutnya, hal tersebut tidak masuk akal karena tidak sesuai dengan kondisi masyarakat. “Maka wajar respons publik jadi negatif dan tidak percaya,” ujarnya kepada Radar, Selasa (20/10/2026).

Mengomentari penurunan angka kemiskinan yang diambil dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Bagas menilai pemkot belum melihat secara utuh datanya. Karena hasil rapat kerja antara Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya dengan BPS, data yang terinput belum sampai setengahnya. “Bulan kemarin, informasi BPS itu data baru update 30%, jadi terlalu dini untuk mengklaim kemiskinan menurun,” ungkapnya.

BPK Bongkar Hitungan SiLPA Pemkot Tasikmalaya!Penataan Dadaha Kurang Progresif, Pemkot Tasikmalaya Masih Siapkan Masterplan

Belum lagi kontroversi masalah perubahan desil yang banyak dikeluhkan masyarakat, di mana sebagian warga miskin ekonomi tiba-tiba masuk kelas menengah ke atas. Hal ini juga perlu menjadi bahan untuk dicermati. “Kalau memang banyak warga miskin desilnya tinggi, ya jelas statistik kemiskinan menurun, jadi yang menurunkan kemiskinan itu sebetulnya pendataan BPS,” ucapnya.

Sementara itu, wali kota dan jajarannya menyatakan penurunan angka kemiskinan seolah-olah hasil kinerja pemerintah dan berbagai unsur lainnya. Padahal pihaknya sendiri tidak melihat ada kebijakan pemkot yang dapat menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. “Coba program pemkot apa yang bisa menurunkan kemiskinan seperti itu? program lulumpatan? selorohnya.

Pihaknya meminta pemerintah supaya pejabat pemerintah khususnya wali kota mampu memberikan edukasi yang objektif terhadap masyarakat. Supaya tidak sekadar memperlihatkan keberhasilan tanpa indikator dan data yang jelas serta utuh. “Ya harus objektif dan komprehensif, jangan hanya karena terlihat bagus lalu diumumkan begitu saja,” terangnya.(Rangga Jatnika)

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan