Sekilas Sejarah Kabupaten Tasikmalaya

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Kabupaten Tasikmalaya awalnya dikenal sebagai Kabupaten Sukapura. Akarnya berasal dari Sukakerta, sebuah kerajaan kecil bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran yang berpusat di Dayeuh Tengah, Salopa. Penguasa pertama Sukakerta adalah Sri Gading Anteg, yang hidup pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.

Namun pada 1579, Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh. Sejak saat itu, Sukakerta bersama federasi kerajaan-kerajaan kecil Sunda lainnya sepakat bersatu di bawah Kerajaan Sumedanglarang.

Saat Sumedanglarang dipimpin oleh Gesan Ulun, wilayah Priangan berada di tengah tekanan tiga kekuatan Islam: Kesultanan Cirebon di utara, Kesultanan Banten di barat, dan Kesultanan Mataram di timur.

Prabowo menunjuk seorang pria kelahiran Tasikmalaya sebagai Wakil Jaksa Agung. Hari Anak Nasional diwarnai perundungan, sehingga UPTD PPA Kota Tasikmalaya menyoroti peran keluarga sebagai sumber masalah.

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram dengan cepat berkembang menjadi kerajaan besar. Serangkaian ekspansi militernya berhasil menaklukkan dua pertiga Pulau Jawa. Untuk mewujudkan ambisinya menguasai seluruh Pulau Jawa, Mataram harus menaklukkan Tatar Sunda. Oleh karena itu, penaklukan wilayah Priangan menjadi kunci pembuka.

Sejak akhir abad ke-16, Mataram mulai melakukan infiltrasi dengan memengaruhi dan memaksa para pemimpin Priangan agar tunduk dan bersekutu. Satu per satu wilayah Priangan jatuh ke tangan Mataram, dimulai dengan takluknya Galuh pada 1595, diikuti dengan penyerahan Sumedanglarang pada 1613. Sejak saat itu, Sukakerta berubah menjadi koloni Mataram setingkat umbul.

Ki Wirawangsa sebagai Umbul Sukakerta, didukung oleh Ki Samahita, Umbul Sindangkasih, Ki Astamangala, Umbul Cihaurbeuti, dan Uyang Sarana dari Indihiang, menentang keputusan Dipati Ukur. Menurut mereka, keputusan Dipati Ukur merupakan tindakan makar terhadap Sultan Mataram. Selain itu, pasukan gabungan Banten dan VOC dianggap memiliki kekuatan militer yang jauh lebih kuat.

Ki Wirawangsa berpendapat, apabila penyerangan tetap dilakukan, pasukan Priangan akan mengalami kekalahan dan para umbul beserta rakyatnya harus menanggung risiko yang sangat berat.

Walaupun sebagian besar umbul mendukungnya, Dipati Ukur tetap bersikeras pada keputusannya. Ki Wirawangsa bersama tiga umbul pendukungnya akhirnya menarik pasukan demi menyelamatkan rakyat dari risiko peperangan yang akan dihadapi.

Prediksi Ki Wirawangsa terbukti benar. Pasukan Dipati Ukur dipukul mundur oleh pasukan Banten dan VOC. Darah ribuan rakyat Priangan pun tertumpah di Batavia. Akibat kegagalan tersebut, pada 1630 Dipati Ukur beserta ribuan pasukannya ditangkap dan dihukum mati oleh Sultan Agung di Mataram.

Baca juga berita lainnya di Halaman Berita

Tinggalkan Balasan