7 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Minta Maaf Meski Tidak Melakukan Kesalahan

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Beauties, pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu meminta maaf meski mereka tidak berbuat salah? Hampir di segala situasi, mereka akan meminta maaf. Bukan karena mereka berbuat salah, tapi karena itu adalah respons utamanya saat ada hal di luar kendali terjadi dan rencana tidak berjalan sesuai harapan.

Mereka merasa bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas banyak hal, termasuk yang di luar kendali. Permintaan maaf yang berlebihan sering kali berasal dari pola yang lebih dalam yang membentuk cara kita menjalani hidup.

Lantas, bagaimana ciri kepribadian perempuan yang sering bilang “maaf” meski tidak berbuat salah? Dirangkum dari Times of India, The Expert Editor, dan VegOut Magz, yuk, simak ulasannya!

Menghindari Konflik

Konflik memang bisa membuat suasana jadi menegangkan dan membuat orang merasa tidak nyaman. Nah, hal inilah yang selalu dihindari oleh perempuan yang terlalu sering meminta maaf, Beauties.

Bagi mereka, tidak apa mengorbankan diri sendiri demi menghindari konflik atau perselisihan sekecil apa pun. Mereka akan mengambil tanggung jawab atas kegagalan tim, meminta maaf atas kesalahan orang lain, apa pun untuk menghindari ketidaknyamanan potensi konflik.

Biasanya, perilaku ini bisa muncul saat masa kecil, Beauties. Bagi mereka, konflik artinya bahaya, pengabaian, atau penarikan diri secara emosional.

Seorang People Pleaser

Mereka merasa bahwa dirinya yang bertanggung jawab atas banyak hal, termasuk yang di luar kendali. Mereka adalah sosok yang perfeksionis, bergantung pada validasi eksternal, punya empati tinggi dan jiwa kepemimpinan, hingga cenderung people pleaser.

7 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang “Maaf” Meski Tidak Berbuat Salah/Foto: Magnific.com

Ciri kepribadian orang yang sering bilang “maaf” cenderung seorang people pleaser. Mereka mengutamakan kepentingan dan kenyaman orang lain meski itu artinya mereka harus mengorbankan diri sendiri. Di sisi lain, mereka juga kesulitan untuk menolak permintaan orang lain, Beauties.

Sifat people pleaser ini terbentuk dari pola asuh semasa kecil, lingkungan sekitar, hingga rasa tidak nyaman saat harus berhadapan dengan konflik. Seiring berjalannya waktu, kata “maaf” menjadi jalan pintas bagi mereka untuk menjaga kedamaian dan menjadi sebuah cara untuk meredam situasi bahkan sebelum konflik muncul.

Mudah Memahami Sudut Pandang Orang Lain

Di sisi lain, mereka yang sering bilang “maaf” adalah sosok yang punya empati tinggi dan mudah memahami sudut pandang orang lain. Mereka bisa membayangkan diri mereka berada di posisi orang lain, sehingga mereka tidak mudah menghakimi. 

Mereka juga mudah mencapai kesepakatan dengan orang lain, dan ini adalah sebuah kekuatan. Sifat ini membuat mereka tampil hangat, kooperatif, dan piawai dalam menjalin hubungan sosial.

Namun, kepribadian ini bisa menjadi bumerang ketika tidak dibarengi dengan sifat tegas atau ketika mereka mudah merasa cemas. Pada titik itulah, perilaku ini berubah menjadi “akomodasi kompulsif”, yaitu terus-menerus meminta maaf, memberikan penjelasan yang berlebihan, atau membatasi diri sendiri semata-mata untuk menghindari konflik.

Punya Harga Diri Rendah

Ketika seseorang meminta maaf atas segalanya, pada dasarnya mereka mengatakan bahwa kebutuhan, pikiran, dan kehadiran mereka kurang penting daripada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka punya harga diri yang rendah.

7 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang “Maaf” Meski Tidak Berbuat Salah/Foto: Freepik

Orang yang terlalu sering meminta maaf punya pemikiran dan keyakinan bahwa kebutuhan dan kehadiran mereka kurang penting daripada orang lain. Singkatnya, mereka punya harga diri yang rendah.

Orang dengan harga diri rendah menggunakan permintaan maaf sebagai cara untuk mengecilkan diri mereka sendiri. Mereka sering mengatakan, “Maaf mengganggu”, “Maaf saya mengambil terlalu banyak ruang, waktu, dan energi kalian”, hingga “Maaf, bolehkah saya lewat sebentar?”. Mereka meminta maaf karena berbicara dalam pertemuan, memiliki pendapat, hingga sesederhana hadir di ruangan.

Semakin banyak mereka meminta maaf untuk sesuatu yang bukan sebuah kesalahan, semakin mereka mengecilkan diri sendiri. Perlahan tapi pasti, perilaku ini dapat mengikis rasa harga diri.

Bergantung pada Validasi Eksternal

Kebiasaan terus-menerus meminta maaf sering kali berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan atau validasi eksternal. Mereka punya pola pikir bahwa nilai diri mereka bergantung apakah semua orang di sekitar mereka menyukai mereka.

Para peneliti kesehatan mental menunjukkan bahwa pola ini biasanya terbentuk sejak dini, di lingkungan rumah di mana kasih sayang terasa bersyarat, yaitu sesuatu yang harus mereka peroleh melalui perilaku yang baik. Hal ini bukan sekadar soal bersikap sopan, melainkan tentang melindungi diri sendiri dari penolakan atau ketidaksetujuan orang lain.

Perfeksionis

Ciri kepribadian orang yang selalu minta maaf padahal tidak berbuat salah adalah mereka sosok yang perfeksionis. Mereka menetapkan standar yang mustahil bagi diri mereka sendiri.

7 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang “Maaf” Meski Tidak Berbuat Salah/Foto: Freepik

Di sisi lain, mereka adalah sosok yang perfeksionis. Ada standar tinggi yang mereka tetapkan untuk diri sendiri.

Akibatnya, setiap kesalahan kecil rasanya seperti akhir dari segalanya. Tuntutan untuk memenuhi standar tinggi dan ingin semuanya berjalan sempurna membuat mereka akhirnya meminta maaf jika tidak bisa menggapainya.

Ketidaksempurnaan, sekecil apa pun, membuat mereka merasa bahwa mereka telah mengecewakan orang lain. Mereka akan meminta maaf dan berharap permintaan maaf itu dapat mengurangi dari dampak ketidaksempurnaan kecil itu.

Punya Jiwa Kepemimpinan

Sebenarnya, orang yang sering bilang “maaf” punya jiwa kepimpinan yang lebih besar dari yang disadari. Para peneliti menemukan bahwa ketika perempuan berhenti melontarkan permintaan maaf yang berlebihan dan beralih ke cara berkomunikasi yang lebih lugas, hasilnya jauh lebih baik.

Sebuah studi menunjukkan bahwa perempuan yang meminta maaf dengan menggunakan bahasa yang percaya diri dan tegas dinilai jauh lebih kompeten. Dorongan untuk terlalu sering meminta maaf sebenarnya berdekatan dengan potensi kepemimpinan yang sesungguhnya. Hanya saja, kebiasaan ini perlu sedikit disesuaikan kembali.

Bukan berarti harus berhenti meminta maaf sama sekali, Beauties. Namun, lain kali saat kata “maaf” terlontar begitu saja secara otomatis, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: apakah kita benar-benar merasa bersalah, atau kita hanya berusaha agar orang lain merasa nyaman? Mengubah kebiasaan kecil, seperti mengganti kalimat “maaf aku terlambat” menjadi “terima kasih sudah menunggu”, dapat membantu kita mengubah pola kebiasaan tersebut secara perlahan.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan