Apple telah resmi memasuki pasar smartphone lipat dengan iPhone Duo, sebuah peluncuran yang datang lebih lambat dibandingkan pesaing seperti Samsung, Google, Huawei, dan produsen Android lainnya. Dari sudut pandang perusahaan berbasis di Cupertino, tujuan ini lebih dari sekadar menjadi yang pertama. Dalam wawancara dengan Tom’s Guide, CEO Apple John Ternus dan Senior Vice President of Worldwide Marketing Greg Joswiak membahas beberapa pertimbangan penting sebelum mengadopsi teknologi lipat pada iPhone. Mereka menyoroti rasa permukaan layar saat disentuh, kontinuitas antarmuka ketika perangkat dibuka dan ditutup, serta kesiapan aplikasi pihak ketiga untuk mengoptimalkan layar iPhone yang lebih besar. “Apple menunggu sampai memiliki konsep produk yang memenuhi standar perusahaan dalam kualitas, daya tahan, dan desain,” kata John Ternus, sebagaimana dikutip dari Tom’s Guide, Sabtu (12/9/2026). Fitur nano‑texture menjadi momen penting bagi perangkat tersebut. Ketika Ternus melihat teknologi ini diterapkan pada prototipe iPhone Duo, ia berkata, “Rasanya seperti, ‘ya, itu dia,’” menggambarkan reaksinya saat melihat teknologi itu terpasang pada prototipe lipat Apple. Meskipun nano‑texture bukan teknologi baru bagi Apple—telah digunakan pada beberapa perangkat sebelumnya—iPhone Duo memerlukan pendekatan berbeda karena layar fleksibelnya menggunakan permukaan polimer. Menurut Apple, lapisan nano‑texture membantu mengurangi pantulan sekaligus meminimalkan visibilitas bekas lipatan pada layar bagian dalam. Layar dalam iPhone Duo berukuran 7,6 inci, sementara bagian luar menggunakan layar 5,4 inci. Keduanya memiliki rasio aspek yang sama agar konten bisa berpindah secara proporsional ketika perangkat dibuka atau ditutup. Strategi Apple juga mencerminkan keinginan untuk menghindari peluncuran iPhone lipat yang setengah matang. Greg Joswiak cukup terbuka ketika membahas apa yang sudah dilakukan produsen lain di kategori lipat. “Apa yang kami lihat dilakukan orang lain tidak terlalu menginspirasi,” ujar Joswiak. Ia menambahkan, Apple tidak ingin terburu-buru masuk ke sebuah kategori dengan sesuatu yang belum matang benar. Pernyataan tersebut tentu merupakan pandangan Apple terhadap produk kompetitor, bukan berarti seluruh persoalan lipat Android belum terselesaikan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, produsen Android telah membuat kemajuan besar dalam desain yang semakin tipis, ringan, serta matang dari sisi hardware. Area yang ingin dijadikan pembeda Apple pada iPhone Duo adalah integrasi antara hardware, sistem operasi, dan aplikasi. iOS 27 secara khusus disesuaikan untuk form factor tersebut. Apple memindahkan sejumlah elemen navigasi dan kontrol ke sisi layar agar mudah dijangkau baik ketika perangkat tertutup maupun terbuka. Ternus mencontohkan bagaimana posisi kontrol tetap berada di bawah ibu jari kanan, dan ketika pengguna berpindah dari layar luar ke layar dalam. Intinya, Apple ingin penggunaan dua layar terasa sebagai satu pengalaman yang berkelanjutan, bukan dua antarmuka berbeda yang harus dipelajari ulang. iOS 27 juga menghadirkan Split View untuk membuka dua aplikasi secara berdampingan, kemampuan menjalankan dua jendela dari aplikasi yang sama seperti Safari, sampai menyimpan pasangan aplikasi untuk digunakan kembali. Mengenai peluncuran pasar, Apple membanderol iPhone Duo mulai USD 1.999 di Amerika Serikat untuk varian penyimpanan 256GB. Perangkat ini tersedia dalam warna star white dan night sky, dengan kapasitas hingga 2TB. Pre-order global dimulai 16 Oktober 2026 dan penjualan di sejumlah pasar berlangsung mulai 23 Oktober. Sementara itu, Apple Indonesia sudah memastikan iPhone Duo akan segera tersedia di Tanah Air. Namun hingga saat ini perusahaan belum mengumumkan harga maupun tanggal penjualan resminya untuk pasar Indonesia. Pada akhirnya, klaim Apple bahwa perusahaan menunggu hingga pengalaman lipat cukup matang masih perlu dibuktikan setelah iPhone Duo digunakan lebih luas. Nano‑texture menawarkan pendekatan berbeda terhadap salah satu kompromi layar fleksibel, sementara iOS 27 dirancang agar perpindahan antara dua layar terasa konsisten. Tetapi pembeda yang lebih sulit direplikasi mungkin justru berada pada ekosistem aplikasinya. Jika dukungan developer bisa mengikuti ambisi Apple, datang terlambat ke kategori lipat mungkin tidak menjadi masalah besar. Jika tidak, iPhone Duo tetap harus menghadapi pertanyaan yang sama seperti lipat lain: seberapa banyak layar besar tersebut benar-benar mengubah cara pengguna memakai smartphone sehari-hari?
Penelitian terbaru dari industri menunjukkan pertumbuhan signifikan pada pasar smartphone lipat. IDC melaporkan bahwa pengiriman global perangkat lipat meningkat 45% year‑on‑year pada tahun 2024, mencapai 120 juta unit, dengan Samsung menguasai 70% pangsa pasar, Huawei 15%, dan merek lain berbagi sisa 15%. Counterpoint Research memperkirakan harga rata‑rata perangkat lipat saat ini sekitar $1.200, namun diperkirakan akan turun menjadi sekitar $900 pada tahun 2026 seiring dengan peningkatan efisiensi manufaktur. Sebuah studi dari Stanford juga menyoroti masalah daya tahan, mencatat tingkat kegagalan sebesar 2% pada layar lipat setelah 12 bulan penggunaan normal—lebih tinggi dibandingkan tingkat kegagalan di bawah 1% pada smartphone konvensional. Angka‑angka ini menunjukkan baik peluang maupun tantangan bagi Apple dengan peluncuran iPhone Duo.
Dari sudut pandang konsumen, iPhone Duo merepresentasikan konvergensi antara produktivitas seperti tablet dan kenyamanan seperti smartphone saku. Lapisan nano‑texture mengatasi masalah silau dan bekas lipatan, yang merupakan keluhan umum pada perangkat lipat awal, sementara iOS 27 yang telah disesuaikan menawarkan kontrol yang intuitif untuk multitasking yang lancar. Namun, keberhasilan pendekatan ini bergantung pada apakah pengembang pihak ketiga akan mengoptimalkan aplikasi untuk real estat layar baru dan apakah harga premium sesuai dengan nilai yang dirasakan. Intinya, Apple bertaruh bahwa integrasi dan penyempurnaan dapat mengimbangi keterlambatan masuk ke pasar.
Pengalaman Samsung dengan peluncuran Galaxy Z Fold series memberikan pelajaran berharga. Setelah beberapa generasi, Samsung menyadari bahwa daya tahan dan harga adalah faktor kritis; perusahaan tersebut berinvestasi dalam mekanisme engsel yang lebih kuat dan memperkenalkan model entry‑level yang lebih terjangkau untuk memperluas basis pengguna. Fokus Apple pada nano‑texture dan iOS 27 dapat dilihat sebagai respons terhadap pelajaran‑pelajaran ini, bertujuan untuk membedakan diri melalui sinergi perangkat keras dan perangkat lunak daripada sekadar menjadi yang pertama di pasar.
Inovasi sering kali berkembang melalui kesabaran dan tujuan. Pendekatan hati‑hati Apple terhadap teknologi lipat mencerminkan komitmen terhadap kualitas dan pengalaman pengguna. Ketika ekosistem berkembang, iPhone Duo mengundang pengguna untuk membayangkan kembali bagaimana sebuah perangkat dapat beradaptasi, menawarkan jalan baru untuk kreativitas dan produktivitas. Terima perubahan ini dan biarkan masa depan yang fleksibel menginspirasi terobosan Anda berikutnya.
Baca juga Info Gadget lainnya di Info Gadget terbaru
Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.