
TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada pertandingan yang pemainnya kalah setelah bertanding.
Ada pula pertandingan yang pemainnya mendapat kartu merah sebelum peluit pertama berbunyi.
Mukota V KADIN Kota Tasikmalaya tampaknya sedang menuju jenis pertandingan yang kedua.
Belum sempat pemanasan terlalu lama, salah satu bakal calon ketua sudah harus keluar lapangan. Namanya H.M. Fauzan Wahyu Noor. Kartu merahnya datang melalui meja verifikasi.
Baca Juga:Malik Mahpud dan Burung Macaw!PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk Prioritas
Bukan dari wasit di lapangan. Melainkan dari hasil verifikasi yang disebut dilakukan KADIN Jawa Barat dan kemudian ditindaklanjuti Steering Committee (SC) Mukota V KADIN Kota Tasikmalaya.
Ketua SC, Dr H Dodo Murtado, menegaskan panitia hanya menjalankan aturan. Kalimat ini tentu menenangkan. Sebab kalau panitia sudah berkata, “Kami hanya menjalankan aturan,” biasanya percakapan memang belum selesai.
Justru baru dimulai. Karena pertanyaan berikutnya sederhana: Aturan siapa? Dan yang lebih penting: Siapa yang meniup peluit?
Dodo mengatakan keputusan tersebut bukan hasil penilaian sepihak SC. Panitia hanya menindaklanjuti hasil asistensi dan verifikasi KADIN Jawa Barat sesuai AD/ART dan Peraturan Organisasi.“Terkait syarat bakal calon itu sudah jelas di Peraturan Organisasi Bab V Pasal 11,” tegasnya.
Baik. Kalau memang jelas, sebenarnya tidak ada masalah. Tinggal dibuka. Pasalnya dibaca. Dokumennya diperlihatkan. Proses verifikasinya dijelaskan. Selesai.
Masalah muncul ketika sesuatu yang disebut jelas justru terasa belum jelas bagi pihak yang terkena keputusan. Fauzan tidak mempersoalkan kalau dirinya memang tidak memenuhi syarat.
Ia hanya ingin tahu dasar administrasinya. Ini permintaan yang sangat sederhana. Tidak meminta kursi ketua diantar ke rumah. Tidak meminta karpet merah. Tidak meminta wasit mengganti hasil pertandingan.
Baca Juga:Meski Jalur Ditutup Demi Penataan, PKL Jalan Dadaha Kota Tasikmalaya Tetap Bertahan Walau Pendapatan AnjlokMisi Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak Realistis
Hanya meminta tahu: kenapa kartu merah diberikan? Apalagi ada cerita soal formulir pendaftaran. Dokumen yang sebelumnya diterima ketika pendaftaran, belakangan dipersoalkan pada tahap verifikasi.
Ini yang membuat suasana semakin menarik. Formulir itu benda kecil. Kertas.Beberapa lembar. Tetapi dalam sebuah kontestasi, formulir bisa menjadi benda paling sakti.
Ia bisa menjadi tiket masuk. Ia bisa menjadi bukti kelengkapan. Dan pada waktu tertentu, ia bisa pula berubah menjadi alasan seseorang tidak boleh melanjutkan perjalanan.
Baca juga Berita lainnya di News Page
Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].