Selama bulan Juli, tercatat 90 kejadian kebakaran di Garut.

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

GARUT, Thecuy.com – Musim kemarau melanda Kabupaten Garut. Dampaknya juga mulai terasa. Selain banyak masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih di beberapa wilayah, kebakaran lahan atau hutan pun terjadi.

Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kabupaten Garut menyatakan telah menangani 63 insiden kebakaran lahan sepanjang bulan Juli.

Kepala Disdamkar Kabupaten Garut, Usep Basuki Eko, mengatakan bahwa pemadaman dilakukan untuk mencegah api meluas ke area lain yang dapat merusak lahan bahkan menyebabkan korban jiwa.

Upaya agar jalan Pamegatan‑Singajaya di Garut naik status menjadi jalan provinsi; kawasan Pasar Baru Garut akan direnovasi, pedagang kaki lima dipindahkan sementara.

“Bulan Juli tercatat 90 kejadian (kebakaran), 63 di antaranya berupa kebakaran lahan dan 27 berupa kebakaran non‑lahan,” ujarnya pada Rabu, 29 Juli 2026.

Dia mengungkapkan bahwa musim kemarau sudah mulai terasa sejak Juni dan beberapa titik kebakaran lahan telah terjadi di berbagai tempat.

Memasuki Juli 2026, insiden kebakaran lahan meningkat, tercatat ada 63 lokasi kebakaran yang berhasil ditangani.

Dia menjelaskan bahwa kebakaran lahan terjadi di sejumlah tempat, terutama di wilayah selatan Garut yang memiliki banyak area lahan. Salah satu insiden terjadi di perkebunan sawit milik PT Condong.

“Terakhir kali itu di Condong. Perkebunan Condong, penanganannya cukup parah juga itu, dilakukan bersama‑sama,” katanya.

Dia menyampaikan bahwa mereka selalu siaga 24 jam di pos utama maupun di pos kewilayahan untuk membantu penanganan kebakaran lahan selama musim kemarau agar tidak terus meluas.

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, untuk mengatasi bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Penerangan jalan umum mati, jalur RTA Prawira Adiningrat Tasikmalaya dianggap rawan kecelakaan; bersiap, akan ada program mudik gratis di Garut, ini kuota yang tersedia.

“Untuk penanganan kebakaran lahan, tentu saja kami berkoordinasi dengan kewilayahan, karena banyak lahan yang tidak terjangkau oleh unit kami,” lanjutnya.

Eko menjelaskan bahwa tingginya jumlah kebakaran lahan umumnya dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang kering.

Kemudian aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar, serta kelalaian saat membakar sampah atau membuang puntung rokok sembarangan.

Dalam upaya pencegahan kebakaran lahan, kata dia, diperlukan kesadaran semua elemen masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di lahan sembarangan.

Selain itu, perlu cepat tanggap ketika muncul api yang berpotensi menyebabkan kebakaran.

“Diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat serta upaya pencegahan dan pengawasan secara berkelanjutan untuk menekan potensi kebakaran lahan,” tutupnya. (Agi Sugiana)

Baca juga berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan