Menanti Mendung Gelap demi Secuil Air, TMMD ke-129 Mengatasi Krisis Kekeringan di Kampung Cilintung, Tasikmalaya

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Banyak tanah pekarangan mulai retak. Lapisan debu tipis menutupi dedaunan kering. Jalan menuju desa juga mulai berdebu. Begitu pula dengan sumur di rumah-rumah warga yang tidak lagi mengalirkan air.

Bagi warga Kampung Cilintung, Desa Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, musim kemarau panjang tidak hanya berupa perubahan cuaca, tetapi juga menjadi ujian bagi kondisi fisik dan kesabaran mereka setiap hari.

Setiap kali musim kemarau melebihi ambang empat bulan, kecemasan semakin menghantui pikiran warga. Hal ini disebabkan oleh kesulitan memperoleh sumber air, terutama air bersih. Tidak heran jika saat ini warga menunggu awan gelap hanya untuk mendapatkan setetes air. Air bersih, yang merupakan sumber kehidupan, perlahan menghilang dari sumur-sumur galian mereka. Perjalanan sejauh 400 meter untuk mendapatkan satu jerigen air telah menjadi tantangan harian.

Worried about potential damage to social cohesion, MUI Pangandaran examines the circulation of religious identity issues during Muskerda. Meanwhile, traditional traders in Pangandaran have experienced a decline in turnover as the digital marketplace replaces them.

Saat awak media Radar Tasikmalaya tiba di Kampung Cilintung, sinar matahari pagi belum terlalu terik. Namun, aktivitas warga sudah ramai. Bukan tawa biasa, melainkan suara ember dan jerigen plastik yang saling berbenturan. Warga berbondong-bondong menuju sumber air di Kampung Cipacing yang berjarak lebih dari 400 meter.

Di desa tetangga, sumber air masih tersedia. “Bahkan saat musim hujan, mendapatkan air bersih sangat sulit,” kata Asep Mustofa, salah satu tokoh masyarakat setempat, saat ditemui radar tasikmalaya di rumahnya beberapa waktu lalu. Desa Parungponteng memiliki topografi berbukit dan lembah, dengan Kampung Cilintung terletak di atas bukit.

“Di desa kami, tidak ada sungai atau aliran air, bahkan tidak ada sistem irigasi sama sekali. Risikonya adalah, saat musim kemarau, kami pasti kesulitan mendapatkan air,” tambah pria yang juga menjabat sebagai ustaz. Sebenarnya, lanjut Asep, ada sumur galian yang dibangun secara gotong royong. Namun, saat musim kemarau tiba, debit air di sumur tersebut tidak mencukupi kebutuhan harian warga.

“Kampung kami terdiri dari 60 kepala keluarga. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan 30 kepala keluarga pun sudah merepotkan,” ujarnya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan