Ruth Bader Ginsburg, lebih dikenal sebagai RBG, merupakan seorang Hakim Agung yang memberikan pengaruh yang sangat besar di ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai sosok yang tangguh dan telah mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan keadilan, khususnya hak-hak perempuan. Tokoh keadilan ini meninggal dunia pada bulan September 2020 pada usia 87 tahun akibat komplikasi kanker.
Disiarkan dari situs Global Citizen, Encyclopedia Britannica, Reuters, dan Town & Country, berikut adalah kisah inspiratif Ruth Bader Ginsburg yang berhasil mengubah kerah jubahnya menjadi simbol perlawanan yang ikonik. Yuk, mari kita simak perjalanannya!
Berbagai penolakan yang membentuk RBG menjadi sosok yang kuat

Ruth Bader Ginsburg di masa muda yang gigih saat bekerja di Italia pada tahun 1977/ Foto: globalcitizen.org/Supreme Court of the United States
Perjuangan RBG bermula dari pengalaman pahitnya sendiri. Lulus dengan predikat cum laude dari Columbia Law School pada tahun 1959 tidak lantas membuatnya mudah mencari pekerjaan. Saat itu, ia ditolak oleh banyak firma hukum hanya karena ia seorang perempuan dan seorang ibu.
Diskriminasi ini tidak hanya terjadi sekali. Bahkan saat bekerja sebagai dosen, ia terpaksa mengenakan pakaian khusus untuk menyembunyikan kehamilannya agar kontrak kerjanya tidak diputus. Alih-alih menyerah, serangkaian pengalaman diskriminatif ini justru membuatnya menjadi pribadi yang gigih. Kompetensinya sangat dihargai, bahkan teman sekaligus koleganya, Hakim Antonin Scalia, menjulukinya sebagai harimau di ruang sidang yang siap mengoyak argumen-argumen konyol tanpa ampun.
Strategi bijak dalam membela hak perempuan dari perspektif kesetaraan
Ruth Bader Ginsburg menunjukkan ketegasannya saat berargumen dalam sidang konfirmasi Senat pada tahun 1993/ Foto: space.com/Rob Crandall
Sepanjang kariernya, RBG mendedikasikan dirinya untuk menghancurkan hambatan bagi perempuan. Berkat perjuangan tanpa hentinya, perempuan di AS akhirnya memiliki hak untuk mandiri secara finansial, seperti membuka rekening bank dan kartu kredit tanpa perlu persetujuan suami. Ia juga berhasil membuat undang-undang yang melarang pemecatan perempuan hanya karena kehamilan, dan memaksa lembaga pendidikan yang didanai negara untuk berhenti menolak pendaftar perempuan.
Namun, pendekatan hukumnya tidak terbatas pada satu sisi. RBG menyadari bahwa kesetaraan yang sebenarnya harus menguntungkan semua orang. Untuk membuktikan bahwa bias gender itu nyata, ia juga membela laki-laki yang menjadi korban stereotip. Misalnya, pada pertengahan tahun 1970-an, ia berhasil memenangkan kasus seorang pria yang ditolak saat mengajukan tunjangan sosial dari almarhumah istrinya.
Melalui pendekatan dari berbagai sudut pandang ini, RBG membuka mata pengadilan bahwa sistem yang diskriminatif merugikan semua pihak. Prinsip inilah yang terus ia perjuangkan, seperti yang tercermin dalam kutipannya yang paling terkenal: “Perempuan berhak berada di semua tempat di mana keputusan dibuat. Perempuan tidak seharusnya hanya menjadi pengecualian.”
Kerah pembedaan: Simbol perlawanan tanpa kata
Ruth Bader Ginsburg mengenakan Dissenting Collar yang menjadi simbol penolakannya di ruang sidang/ Foto: mercurynews.com/Mandel Ngan
Awalnya, jubah standar hakim di Mahkamah Agung AS hanya didesain untuk pria, dengan kerah ‘V’ yang memperlihatkan kemeja dan dasi. Untuk mengatasi hal ini sekaligus menambahkan sentuhan feminin, RBG mulai rutin mengenakan kerah hiasan atau jabot di atas jubah hitamnya.
Aksesori ini kemudian berkembang menjadi alat komunikasi simbolis, bukan sekadar fashion statement. Jika ia mengenakan kerah putih berenda atau kuning berliontin yang elegan, itu menunjukkan bahwa ia setuju dengan pendapat mayoritas.
Namun, yang paling ikonik adalah dissenting collar alias “kerah penolakan”. Saat ia mengenakan kerah gelap dengan detail yang tajam, semua orang di ruang sidang tahu bahwa RBG sedang bersiap untuk menentang keputusan yang dianggapnya tidak adil.
Kutipan favoritnya sangat jelas: “I dissent” (Saya menolak). Karena ia berbicara dengan keras demi keadilan, generasi muda menjulukinya “Notorious R.B.G.” Ia berubah dari seorang hakim yang serius menjadi pahlawan budaya pop yang diabadikan dalam film dan bahkan action figure.
Melalui kecerdasan dan ketelitiannya, Ruth Bader Ginsburg menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu memerlukan teriakan. Terkadang, sebuah argumen yang kuat dan selembar kerah jubah sudah cukup untuk mengguncang dunia.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikut berbagai acara online dan offline seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa. Yuk, bergabunglah dengan Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(thanks/thanks)
Terima kasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.