Berbagai fakta terkait event lari di Bali yang jadi viral karena dugaan penolakan terhadap peserta WNI.

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Bali tidak hanya mengalami masalah overtourism, tapi juga menghadapi kasus diskriminasi yang terjadi belakangan ini. Entourage Run Club menyelenggarakan sebuah lomba lari di Canggu, Bali, yang diduga melarang warga negara Indonesia (WNI) untuk bergabung.

Insiden ini mulai mendapat perhatian setelah sebuah screenshoot dipublikasikan dan viral di media sosial. Foto yang beredar menunjukkan bahwa calon peserta setempat merasa mendapat perlakuan diskriminatif dari penyelenggara.


Perlakuan Tak Seimbang bagi Calon Peserta

Event lari Bali Silent Disco yang diduga diskriminatif terhadap warga lokal. (Tangkapan instagram entourage.bali)

Foto acara lari Silent Disco di Bali yang diduga diskriminatif terhadap warga lokal./ Foto: Instagram.com/entourage.bali

Screenshot memperlihatkan percakapan chat warga setempat yang ditolak saat mendaftar untuk acara Disco Silent Run yang diselenggarakan pada hari Rabu (22/7/2026). Mengutip Detiknews, calon peserta asal Indonesia merasa prosesnya rumit dan diabaikan. Sebaliknya, pendaftar asing langsung disetujui untuk bergabung.

Oleh karena itu, muncul spekulasi kuat bahwa seleksi peserta didasarkan pada kewarganegaraan. Kecaman kemudian membanjiri acara yang diprakarsai oleh dua warga negara Belanda tersebut, tidak hanya karena diskriminasi tetapi juga karena acara tersebut mengganggu aktivitas warga sekitar dan menyebabkan kemacetan.

Seorang pelari asal Inggris, Josh Fothergill, mengatakan dalam unggahan media sosialnya, “Ada klub lari di Bali yang melarang orang Indonesia untuk bergabung. Kami membuat video ini karena sudah waktunya untuk bersuara demi kebenaran.”

Dalam video yang sama, Jack Ahearn, seorang pelari asing lainnya, menambahkan, “Bagaimana bisa kamu datang ke negara orang lain dan merasa berhak melakukan hal seperti itu? Entourage Bali, perbaiki perilaku kamu atau pergi dari sini!”

Penyelenggara Menyampaikan Permohonan Maaf

Pihak penyelenggara memberikan pernyataan permintaan maaf

Penyelenggara menyampaikan pernyataan permintaan maaf/ Foto: instagram.com/entourage.bali

Panitia penyelenggara acara lari mengeluarkan pernyataan melalui akun media sosial Thecuy. Mereka meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa terluka dan tersinggung atas kontroversi yang muncul. Mereka juga menyangkal tudingan diskriminasi terhadap peserta.

“Hal terpenting bagi kami adalah mohon maaf atas ketidaknyamanan dan rasa sakit yang dialami pihak terkait, dan kami tidak pernah berniat untuk tidak menghormati atau mendiskriminasikan siapa pun,” kata Entourage dalam pernyataannya.

Mereka menyatakan bahwa Entourage adalah sebuah komunitas untuk para digital nomad yang baru tiba di Bali, bertujuan untuk menghubungkan mereka. Status digital nomad, menurut mereka, tidak terkait dengan kebangsaan, mengingat komunitas tersebut beranggotakan berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Beberapa kegiatan kami selalu terbuka dan tanpa biaya untuk siapa pun, sementara yang lain memiliki persyaratan partisipasi sesuai tujuan acara. Contohnya, ada acara yang dirancang khusus untuk pekerja lepas digital, sedangkan yang lain, seperti jalan santai dan lokakarya untuk perempuan, dikhususkan bagi peserta perempuan.”

Mereka kemudian menjelaskan bahwa acara Silent Disco Run adalah acara berbayar pertama karena keterbatasan headphone, dengan peserta asal Indonesia sebagai mayoritas mencapai 25 persen. Namun, mereka mengalami permasalahan teknis dalam persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp dan aktivitas non-aktif.

Entourage juga menegaskan komitmen mereka untuk membangun komunitas inklusif dan memberikan kontribusi positif bagi Bali. “Kami menghentikan sementara seluruh acara dan kegiatan kami. Kami bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi dan berjanji akan melakukan perubahan nyata di masa depan,” tambah mereka.

<h2>Orang Asing Dilarang Mengatur Acara di Indonesia</h2>
<p>Masalah diskriminasi pada acara lari tersebut juga dikritik oleh otoritas imigrasi. Dikutip dari CNN Indonesia, Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Hendarsam Marantoko, menyatakan bahwa dua warga negara Belanda yang bertanggung jawab atas acara tersebut kini telah meninggalkan Indonesia. Diduga, pelaku berinisial JAS (35) yang memiliki Izin Tinggal Terbatas (ITAS) untuk bekerja, dan HQV (37) yang berstatus ITAS investor.</p>
<p>“Acara lari tersebut dianggap sebagai bentuk negara di dalam negara. Saat ini, warga asing yang bersangkutan diketahui telah berada di luar wilayah Indonesia dan imigrasi telah memberlakukan larangan masuk kepadanya,” jelas dia. “Saya telah memerintahkan Kantor Imigrasi Bali untuk memeriksa penyelenggara acara; jika ada warga negara asing yang terlibat, mereka akan langsung ditahan.”</p>
<p>Selain itu, Hendarsam menegaskan bahwa warga negara asing tidak diperbolehkan mengatur sebuah acara di Indonesia atau bertindak sebagai penyelenggara acara. Orang asing hanya diizinkan untuk menjadi kru atau tim resmi dalam acara yang melibatkan penampilan atau artis internasional.</p>

<p>***</p>
<p>Jadilah bagian dari Buzznesia Community dan ikuti berbagai acara online dan offline menarik yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia. Komunitas ini terbuka untuk siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki grup khusus bagi mahasiswa. Ayo bergabung dengan Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!<span> </span></p>

(dmh/dmh)

Tinggalkan Balasan