Wisata Cipatuh di Tasikmalaya mulai ditinggalkan, sehingga wakil bupati mendorong revitalisasi untuk meningkatkan kunjungan.

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mulai merancang rencana revitalisasi kawasan Pemandian Air Panas Cipatuh yang terletak di bagian utara wilayah tersebut, berbatasan dengan Talaga Bodas di Kabupaten Garut. Upaya ini bertujuan untuk menghidupkan kembali fungsi kawasan wisata yang belakangan mengalami kemunduran akibat kurangnya perawatan dan pengelolaan yang kurang optimal.

Komitmen ini terlihat dari kunjungan yang dilakukan oleh Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, ke lokasi tersebut beberapa waktu lalu. Selama peninjauan, politisi Gerindra ini menyaksikan langsung kondisi objek wisata yang dulunya menjadi destinasi favorit masyarakat, namun kini tampak terabaikan. Berbagai fasilitas terlihat rusak dan terbengkalai, sehingga mengurangi daya tarik wisata alam di kawasan tersebut.

Asep menjelaskan, kunjungan tersebut dilakukan untuk memverifikasi kondisi lapangan sekaligus mengidentifikasi berbagai masalah yang menyebabkan kawasan wisata tersebut tidak berkembang lagi. “Saya bersama tim berada di kolam pemandian Cipanas Cipatuh di ujung utara Kabupaten Tasikmalaya yang berbatasan dengan Talaga Bodas, Garut. Dulu saya sering datang ke sini karena kolamnya sangat favorit. Air panasnya nyaman, tidak terlalu panas sehingga cocok untuk dinikmati pengunjung,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi Cipatuh saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Kawasan yang sebelumnya ramai dikunjungi kini sepi karena kurangnya perawatan dan lemahnya pengelolaan. “Hari ini pemandian ini terbengkalai. Mungkin karena perawatan dan pengelolaannya sudah mulai ditinggalkan. Maka dari itu, saya hadir untuk melihat langsung persoalannya dan mencari langkah agar kawasan ini bisa kembali hidup,” katanya.

Asep menilai Cipatuh memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat apabila dikelola secara profesional. Jika kawasan tersebut berada dalam wilayah pengelolaan Perhutani, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya siap membangun komunikasi untuk menjalin kerja sama pengelolaan.

“Kalaupun ini masuk wilayah Perhutani, kita akan meminta kerja sama dengan Perhutani bersama Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya,” katanya. Menurutnya, kerja sama itu juga dapat melibatkan pemerintah desa di sekitar kawasan sehingga manfaat ekonomi dari pengembangan wisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa pariwisata berbasis sumber daya alam di Jawa Barat mengalami kenaikan kunjungan sebesar 18% pada tahun 2023, dengan destinasi wisata air panas menjadi salah satu sektor yang paling diminati. Penelitian dari Universitas Padjadjaran juga mengungkapkan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan pada revitalisasi wisata alam dapat menghasilkan pengembalian hingga 3,5 kali lipat bagi ekonomi lokal dalam jangka waktu dua tahun.

Analisis unik dan simplifikasi dari upaya revitalisasi ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan hanya kerusakan fisik fasilitas, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat akan nilai pelestarian lingkungan. Dengan menggabungkan pendekatan profesional dalam pengelolaan, melibatkan pemerintahan desa, dan memanfaatkan minat yang meningkat terhadap wisata alam, Cipatuh dapat berubah menjadi pusat ekonomi baru yang berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya akan memulihkan keindahan alam, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan desa, dan memperkuat identitas budaya lokal.

Mari bersama-sama mewujudkan kembali kejayaan Cipatuh, mengubah keterpurukan menjadi peluang emas bagi masa depan wisata dan ekonomi masyarakat Tasikmalaya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan