RSUD Pandega Pangandaran Edukasi Warga Soal Nyeri di Leher

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Nyeri di leher menjadi masalah kesehatan yang sering dipencari orang, terutama dalam era digital di mana aktivitas kerja dan komunikasi sering dilakukan melalui perangkat elektronik. Kondisi ini bukan selalu karena kelelahan biasa, tetapi bisa terkait dengan gangguan otot, saraf, atau disi.

Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran, Nuri Syata Lestari, menjelaskan hal ini dalam kegiatan edukasi kesehatan di ruang tunggu poliklinik. Ia mengungkapkan faktor penyebab nyeri leher, seperti spasme otot, saraf terjepit (cervical root syndrome), cedera karena degenerasi atau spondylosis, hingga cedera akibat trauma.

“Setiap penyebab membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jadi penting mengetahui sumber keluhannya sebelum menentukan terapi tepat,” kata Nuri. Spasme otot terjadi sering karena posisi tubuh tidak tepat dalam waktu lama, aktivitas berulang, atau kurangnya peregangan kerja. Kondisi ini bisa menyebabkan leher kaku dan mengganggu aktivitas harian, serta turunkan produktivitas dan kualitas hidup.

Faktor risiko utama saat ini adalah kebiasaan menunduk saat menggunakan telepon, duduk terlalu lama di depan komputer, atau postur tubuh tidak ergonomis. Untuk mematikan masalah ini, fisioterapi adalah solusi. Melalui evaluasi dan terapi sesuai kondisi pasien, terapi ini bertujuan mengurangi nyeri, meningkatkan fleksibilitas, dan mengembalikan fungsi gerak.

“Fisioterapi tidak hanya mengatasi nyeri, tetapi juga memperbaiki penyebabnya agar keluhan tidak kambuh lagi,” ujar Nuri.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan perangkat elektronik berlebihan selama 3 jam atau lebih sehari meningkatkan risiko nyeri leher hingga 40%. Kebiasaan tidak ergonomis menjadi faktor krusial yang perlu diatasi.

Mengatasi nyeri leher memerlukan kesadaran terhadap kebiasaan harian. Konsultasi dini dengan tenaga kesehatan bisa mencegah kerumunan dan memperbaiki kondisi sebelum mempersulit aktivitas sehari-hari. Jangan tunda jika nyeri berkelanjutan atau disertai gejala seperti kesemutan atau kelemahan motorik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan