Gen Z Makin Sulit Diberi Saran? Orang Tua Masih Punya Peran Penting

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Kemajuan teknologi digital menimbulkan tantangan tersendiri dalam pembinaan watak generasi muda. Di era kemudahan memperoleh informasi dan maraknya media sosial, keluarga dianggap memiliki peranan krusial dalam menanamkan disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan keterampilan menyaring informasi.

Momentum Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-98 tahun 2026 dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” menjadi pengingat bahwa pembinaan karakter pemuda harus dimulai dari lingkaran terdekat, terutama keluarga.

Salah seorang orang tua, Dede Irpan (37), menilai pola pengasuhan anak masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan zaman dulu. Kehadiran telepon pintar dan media sosial juga turut memengaruhi perilaku, kebiasaan, bahkan pola komunikasi anak.

Beban Zaman Generasi Muda: Antara Potensi, Etika, dan Semangat Juang di Era Teknologi Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter Siswa

“Sekarang memang cukup berbeda dibandingkan dengan masa lalu. Anak-anak sudah terbiasa dengan gawai dan media sosial. Perubahannya bisa terlihat pada perilaku mereka,” kata Dede.

“Menurutnya, orang tua terkadang harus memberikan nasihat berkali-kali sebelum anak menjalankan petunjuk. Penggunaan telepon genggam juga bisa mengurangi perhatian anak terhadap interaksi dengan orang-orang di sekitarnya.”

“Sekarang memang agak sulit untuk dinasihati. Kalau diberikan arahan atau nasihat, terkadang harus berkali-kali terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dede memberlakukan aturan penggunaan ponsel kepada anaknya yang saat ini duduk di kelas VIII SMP. Penggunaan ponsel hanya diizinkan pada hari Sabtu dan Minggu, kecuali jika untuk keperluan tugas sekolah.

“Seperti saya, meskipun anak sudah duduk di kelas VIII SMP, penggunaan HP hanya diizinkan dua hari dalam seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu,” katanya.

“Kecuali ada tugas sekolah yang mengharuskan penggunaan HP. Kalau tugasnya sudah selesai, HP disimpan lagi,” terang Dede.

Menurutnya, pembatasan tersebut merupakan salah satu bentuk pengawasan agar anak mampu mengatur waktu, menjalankan kewajiban, dan tidak terlalu bergantung pada perangkat digital. Meski demikian, ia menilai tanggung jawab pembentukan karakter tidak hanya berada di tangan orang tua, tetapi juga sekolah dan lingkungan masyarakat.

GMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Menjadi Temuan BPKMAN 1 Tasikmalaya Menekankan Peran Santri dalam Mengisi Kemerdekaan

“Menurut saya, orang tua tetap menjadi pihak terpenting dalam membentuk karakter anak. Namun, sekolah juga harus berperan melalui pendidikan dan evaluasi agar karakter baik dapat terus dibangun,” katanya.

Jangan lupa baca berita-berita lain di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan