“Mereka yang punya alasan untuk hidup dapat menanggung hampir segala cara untuk menjalaninya.”
Ide ini dikutip oleh Viktor Frankl dari Nietzsche dalam bukunya Man’s Search for Meaning.
Mungkin kamu sedang duduk di depan laptop setelah jam kerja, melihat teman mengumumkan promosi atau bisnis baru, lalu bertanya, “Sebenarnya tujuan hidupku apa, ya?” Pertanyaan itu terasa semakin berat ketika kamu merasa harus memiliki jawaban pasti sekarang juga.
Namun, merasa bingung tentang tujuan hidup bukan berarti kamu gagal atau kurang ambisius, karena mungkin kamu sedang berusaha memilih di antara banyak hal yang sama-sama penting.
Mengapa Merasa Bingung tentang Tujuan Hidup adalah Hal yang Wajar
Pada usia 25 hingga 34 tahun, banyak keputusan mulai terasa memiliki konsekuensi besar, mulai dari pindah kerja, membangun hubungan, hingga memilih tempat tinggal.
Kamu mungkin berpikir, “Jika aku salah memilih, waktuku akan terbuang.” Lalu pikiran lain menyela, “Tapi jika aku tidak memilih apa-apa, aku juga tidak akan bergerak.” Dua suara itu bisa membuat keputusan sederhana terasa seperti ujian hidup.
Masalahnya, kita sering membayangkan tujuan hidup sebagai satu jawaban besar yang harus ditemukan, padahal arah hidup bisa berubah setelah kita mencoba sesuatu dan mendapatkan informasi baru tentang diri sendiri.
Tekanan dari lingkungan juga memperkeruh keadaan, terutama ketika linimasa media sosial dipenuhi kabar tentang orang-orang yang terlihat sudah tahu tujuan, pekerjaan impian, dan rencana lima tahun mereka.
Kamu hanya melihat hasil yang mereka bagikan, bukan percakapan penuh keraguan, kesempatan yang ditolak, atau masa percobaan yang gagal di belakangnya.
Kadika pernah merasa harus memilih satu label yang terdengar meyakinkan agar hidup terasa terarah, tapi semakin dipaksa menemukan jawaban akhir, semakin sulit membedakan keinginan sendiri dari ekspektasi orang lain.
Jika kata passion membuatmu merasa tertinggal, kamu bisa membaca tulisan Passion? Makhluk Apa itu? untuk melihat mengapa minat tidak selalu muncul sebagai petunjuk yang sudah jelas sejak awal.
Tujuan Hidup Tidak Harus Berupa Satu Jawaban Besar
Viktor Frankl menulis tentang pentingnya makna dalam hidup, tetapi itu tidak berarti kamu harus menemukan satu misi besar sebelum mengambil langkah kecil.
Makna dapat muncul dari pekerjaan yang terasa bermanfaat, hubungan yang kamu rawat, kemampuan yang kamu kembangkan, atau tanggung jawab yang kamu pilih dengan sadar.
Contohnya, seorang analis keuangan mungkin belum tahu pekerjaan yang ingin dijalani sampai pensiun, tetapi ia tahu ingin menggunakan kemampuannya untuk membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih sehat.
Arah itu belum menjawab semua hal, tetapi cukup membantu menyaring pilihan pekerjaan berikutnya tanpa harus meramal seluruh masa depan.
Dalam buku Designing Your Life, Bill Burnett dan Dave Evans dari Stanford mengajak pembaca memperlakukan hidup seperti proses desain, yaitu membuat dugaan, mencoba prototipe, lalu belajar dari hasilnya.
Pendekatan ini menggeser pertanyaan dari “Apa satu tujuan hidupku?” menjadi “Pengalaman apa yang bisa membantuku memahami pilihan ini?”
Mulai dari Hal-hal yang Kamu Inginkan Lebih Banyak dan Lebih Sedikit

Keinginan yang sudah kamu tulis mungkin tidak terasa cocok saat dijalani, jadi beri dirimu kesempatan untuk mengujinya dalam skala kecil sebelum membuat keputusan besar.
Jika kamu tertarik pindah ke bidang pemasaran, misalnya, kamu tidak harus langsung resign atau mengambil kuliah mahal, karena ada cara yang lebih ringan untuk mendapatkan gambaran.
- Pilih satu asumsi yang ingin kamu periksa, seperti “Mungkin aku suka merancang strategi konten.”
- Atur percakapan selama 20 hingga 30 menit dengan seseorang yang bekerja di bidang tersebut dan tanyakan tentang rutinitas hariannya.
- Coba satu proyek kecil selama dua minggu, misalnya membuat kalender konten untuk komunitas atau membantu kampanye internal.
- Catat bagian yang membuatmu merasa bersemangat, bagian yang terasa melelahkan, dan keterampilan yang ternyata diperlukan.
Eksperimen seperti ini tidak menjamin kamu langsung menemukan pekerjaan ideal, tetapi dapat memberikan bukti yang lebih berguna daripada menebak-nebak dari jauh.
Jika hasilnya ternyata kurang cocok, itu bukan waktu yang terbuang, melainkan informasi yang dapat mencegahmu mengambil langkah yang lebih mahal berdasarkan gambaran saja.
Bedakan Keinginan Diri dari Tekanan Sekitar
Coba periksa alasan di balik setiap target yang kamu kejar, terutama target yang terasa harus dicapai sebelum usia tertentu.
Tanyakan tiga hal ini pada diri sendiri saat mempertimbangkan perubahan besar:
- Apakah aku masih menginginkan ini jika tidak ada yang melihat atau memuji?
- Bagian mana yang benar-benar menarik bagi saya, bukan hanya terlihat keren dari luar?
- Pengorbanan harian apa yang saya bersedia terima untuk pilihan ini?
Misalnya, kamu ingin menjadi manajer karena tertarik mengembangkan orang, atau karena posisi itu dianggap sebagai tanda bahwa karirmu berhasil.
Kedua alasan itu tidak otomatis benar atau salah, tetapi mengenali keduanya akan membantu kamu memilih dengan lebih sadar.
Jika belum punya jawaban, jangan paksa diri untuk menyimpulkan hari itu juga, karena pertanyaan yang baik kadang membutuhkan pengalaman baru sebelum menjadi jelas.
Buat Rencana Sementara untuk 90 Hari ke Depan

Kamu tidak perlu memiliki rencana hidup 10 tahun untuk mulai bergerak, tetapi akan lebih mudah bertindak jika memiliki fokus sementara yang dapat diperiksa ulang.
Pilih satu tema untuk 90 hari ke depan, seperti “menguji apakah saya menikmati pekerjaan yang banyak berinteraksi dengan klien” atau “membangun kebiasaan menabung sebelum pindah kerja.”
Setelah itu, tentukan tindakan mingguan yang terukur, misalnya berbicara dengan satu orang di bidang yang diminati, menyelesaikan satu proyek portofolio, atau menyisihkan lima persen gaji.
Di akhir setiap bulan, evaluasi tiga hal: apa yang kamu pelajari, apa yang terasa semakin cocok, dan apa yang ingin kamu ubah pada bulan berikutnya.
Jika arahmu berubah setelah evaluasi, kamu tidak sedang plin‑plan, selama perubahan itu datang dari informasi yang lebih baik dan bukan hanya dorongan untuk melarikan diri dari rasa tidak nyaman.
Kadika merasa bahwa tujuan hidup lebih mudah didekati ketika kamu berhenti menuntut satu jawaban sempurna dan mulai mengumpulkan bukti kecil tentang kehidupan yang ingin dijalani.
Malam ini, coba tulis satu hal yang ingin kamu tambahkan, satu hal yang ingin kamu kurangi, lalu satu eksperimen kecil yang bisa kamu lakukan minggu ini, kemudian tanyakan pada diri sendiri: “Langkah mana yang terasa paling jujur untuk dicoba sekarang?”
Baca secara gratis. Jika ini membantu, kamu bisa membeli saya kopi.
Terima kasih, sudah membantu
Bahkan dukungan sekecil apa pun dapat membantu tulisan berikutnya terbit lebih cepat.

Silakan tinggalkan komentar setelah mengirim dukungan, agar saya bisa mengucapkan terima kasih. ^^
Baca juga Berita lainnya di News Page. Terima kasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].