Harus Jago Dulu atau Mulai Dulu? Cara Berani Memulai Karier Sambil Meningkatkan Skill

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

“Jika kamu harus sempurna dulu baru berani mencoba, kapan kamu akan pernah jadi sempurna?”

Dalam rapat, kamu mungkin punya gagasan untuk meningkatkan proses kerja, tetapi memilih diam karena khawatir ide tersebut belum cukup matang. Sebenarnya, karier tidak selalu tentang memilih antara menguasai skill terlebih dahulu atau langsung mencoba; ini lebih tentang berani mengambil langkah sambil terus mengembangkan kemampuan.

Menunggu sepertinya masuk akal. Kamu ingin merasa lebih siap, memiliki portofolio yang lebih rapi, atau memahami segala hal sebelum mengambil risiko. Akan tetapi, ada perangkap tersembunyi: persiapan bisa terasa produktif, sementara diam-diam itu sebenarnya adalah bentuk penundaan.

Saya juga pernah menunda hingga merasa benar-benar siap. Ternyata, standar ‘cukup siap’ terus berubah. Begitu satu kekhawatiran teratasi, muncul kekhawatiran lain. Hehehe, rasa siap sepertinya tidak selalu muncul sebelum kamu benar-benar bertindak.

Menguasai Skill Terlebih Dahulu atau Langsung Mencoba? Jawaban Terletak pada Metode Latihan yang Kamu Terapkan

Karyawan berlatih presentasi singkat di ruang rapat kantor
Keterampilan sering berkembang ketika kamu mengerjakan tugas nyata dengan kesempatan untuk belajar.

Jika kamu sedang mengejar promosi, ingin beralih ke bidang baru, atau berencana mengambil proyek tambahan, wajar jika kamu bertanya apakah keterampilanmu sudah memadai. Kamu tidak perlu menguasai segalanya, tetapi kamu perlu memiliki fondasi untuk mencoba sesuatu dengan aman.

Mulai terlebih dahulu bukan berarti bertindak ceroboh. Ini berarti memilih tantangan yang sedikit lebih sulit dari kemampuanmu saat ini, lalu belajar dari masukan. Kamu tidak perlu langsung memimpin proyek besar jika pengalamanmu masih terbatas pada tugas-tugas pendukung.

Misalnya, kamu ingin beralih ke bidang analisis data. Daripada menunggu hingga menguasai semua alat, coba jawab satu pertanyaan sederhana dari data tim, buat grafik yang jelas, lalu minta masukan dari rekan yang lebih berpengalaman.

“Bagaimana jika hasil awal saya buruk, dan orang-orang menganggap saya tidak kompeten?” Memang, hasil awal mungkin belum sempurna, tetapi hasil yang belum sempurna bukan bukti bahwa kamu tidak mampu berkembang.

Saya melihat banyak orang menilai keterampilan berdasarkan hasil pertama, padahal hasil itu lebih mirip titik awal. Yang perlu dinilai bukan hanya hasilnya, tetapi juga apa yang kamu pelajari dan perbaiki setelah mencobanya.

Mengapa Tunda Sampai Mahir Bisa Membuat Karier Stagnan

Keterampilan jarang berkembang hanya karena kamu membaca panduan atau menyimpan daftar kursus. Kamu perlu mempraktikkannya untuk menghadapi masalah nyata, menerima koreksi, lalu mengulang dengan cara yang lebih baik.

Jika kamu selalu menunggu sampai merasa yakin, kamu juga kehilangan kesempatan untuk mengetahui standar kerja yang sebenarnya. Kamu bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan belajar teori, lalu baru sadar bahwa tantangan di kantor justru ada pada komunikasi, prioritas, atau cara menjelaskan hasil.

Ada perbedaan antara belajar sebelum mencoba dan belajar sambil mencoba. Yang pertama membangun bekal, sedangkan yang kedua menguji apakah bekal itu cukup untuk menghadapi situasi nyata.

Misalnya, seorang staf pemasaran ingin belajar presentasi. Ia bisa menonton sepuluh video tentang teknik berbicara, atau mengambil kesempatan untuk mempresentasikan hasil kampanye selama lima menit di rapat tim. Pilihan kedua memberikan pengalaman, pertanyaan, dan masukan yang spesifik.

Jika kamu ingin membaca lebih lanjut tentang bagaimana mengubah keterampilan menjadi nilai, artikel tentang mengapa keterampilan penting untuk menghasilkan uang bisa menjadi bacaan lanjutan yang relevan.

Bagaimana Keterampilan Berkembang Melalui Latihan yang Terarah dan Fokus

Peneliti K. Anders Ericsson, Ralf Krampe, dan Clemens Tesch-Römer membahas latihan terarah dalam studi tentang musisi tingkat tinggi yang diterbitkan di jurnal Psychological Review pada tahun 1993. Gagasan pentingnya bukan hanya mengulang, tetapi berlatih dengan tujuan, fokus, dan masukan.

Jadi, mengerjakan hal yang sama berulang kali belum tentu membuatmu berkembang jika kamu tidak tahu aspek mana yang perlu diperbaiki. Latihan yang efektif memiliki target kecil dan cara untuk mengevaluasi hasilnya.

Misalnya, targetmu bukan hanya menjadi lebih mahir menulis laporan. Buat target yang dapat diamati, seperti menyusun ringkasan satu halaman dengan tiga rekomendasi yang didukung data, lalu minta atasan memberikan masukan tentang kejelasan dan akurasinya.

Ide ini juga selaras dengan konsep efikasi diri dari psikolog Albert Bandura. Dalam bukunya Self-Efficacy: The Exercise of Control, pengalaman sukses dalam melakukan tugas menjadi salah satu sumber penting keyakinan seseorang terhadap kemampuannya.

Dengan kata lain, rasa percaya diri dapat tumbuh dari bukti kecil bahwa kamu mampu belajar, bukan hanya dari kalimat motivasi. Kamu mencoba, melihat kemajuan, lalu memiliki alasan yang lebih kuat untuk mengambil tantangan berikutnya.

Praktik Sederhana yang Bisa Kamu Lakukan di Lingkungan Kerja

Dua rekan kerja membahas draf proyek dan memberi umpan balik
Masukan yang spesifik membantu kamu mengetahui aspek mana yang perlu diperbaiki.

Kamu tidak perlu membuat perubahan karier besar dalam semalam. Pilih satu keterampilan yang paling relevan dengan pekerjaanmu dan cari tempat berlatih yang risikonya masih dapat dikelola.

1. Pilih Satu Kemampuan yang Memberi Pengaruh

Tentukan keterampilan yang dapat membantu pekerjaanmu dalam tiga bulan ke depan, seperti presentasi, negosiasi, analisis data, menulis proposal, atau memimpin rapat.

2. Cari Tugas Sederhana sebagai Tempat Berlatih

Minta kesempatan untuk mengerjakan bagian tertentu dari sebuah proyek, menawarkan diri untuk menyampaikan pembaruan mingguan, atau membantu menyusun draf pertama sebelum tugas tersebut diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab.

3. Minta Saran yang Bermanfaat dan Dapat Diterapkan

Jangan hanya bertanya apakah hasilmu bagus. Tanyakan aspek mana yang sudah jelas, aspek mana yang membingungkan, dan satu hal yang sebaiknya kamu perbaiki pada kesempatan berikutnya.

4. Dokumentasikan Bukti Kemajuan yang Tercapai

Setelah mencoba, simpan catatan singkat tentang tugasnya, masukan yang kamu terima, dan perubahan yang akan kamu lakukan. Cara sederhana ini membantu kamu melihat perkembangan yang mungkin terlewatkan jika hanya mengandalkan ingatan.

Awal yang Berani Tidak Sama dengan Mengabaikan Risiko

Ada perbedaan antara mencoba dengan perhitungan dan melompat tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Kamu boleh berani mengambil peluang sambil tetap menjaga kualitas kerja, hubungan dengan tim, dan kondisi keuangan.

Jika ingin beralih bidang, misalnya, kamu bisa mulai dengan proyek lintas tim, kursus yang langsung dapat diterapkan, atau portofolio kecil di luar jam kerja sebelum memutuskan untuk berhenti. Jika ingin mengajukan ide kepada atasan, sediakan data awal dan jelaskan dampaknya sebelum meminta perubahan besar.

“Apakah aku harus selalu menerima setiap kesempatan?” Tidak juga. Kesempatan yang baik tetap perlu sesuai dengan kapasitas, prioritas, dan batasan yang kamu miliki.

Berani memulai juga termasuk berani bertanya, meminta dukungan, dan mengakui bahwa kamu sedang belajar. Sikap itu lebih bertanggung jawab daripada berpura-pura menguasai sesuatu yang belum kamu kuasai.

Jika kamu merasa sulit bergerak karena terlalu banyak berpikir, baca juga tulisan tentang bertindak. Kadang, satu langkah kecil memberikan informasi yang tidak dapat kamu peroleh dari terus menimbang-nimbang.

Rencana Satu Minggu untuk Mencoba Tanpa Menunggu Sampai Sempurna

Rencana latihan karier mingguan di buku catatan pada meja kerja
Rencana sederhana dapat mengubah niat menjadi pengalaman pertama.
  1. Hari pertama, pilih satu keterampilan dan tulis alasan mengapa keterampilan tersebut penting untuk pekerjaanmu.

  2. Hari kedua, cari satu tugas sederhana yang bisa menjadi tempat berlatih dalam dua minggu ke depan.

  3. Hari ketiga, tentukan ukuran hasil yang dapat diamati, seperti durasi presentasi atau jumlah kesalahan data yang berhasil dikurangi.

  4. Hari keempat, siapkan materi atau latihan singkat selama 30 menit.

  5. Hari kelima, minta rekan yang dapat dipercaya memberikan masukan sebelum hasilnya digunakan lebih luas.

  6. Hari keenam, lakukan tugas atau simulasi pertama kamu.

  7. Hari ketujuh, catat apa yang berhasil dan satu hal yang akan kamu ubah saat mencoba lagi.

Angka tujuh hari ini bukan batas waktu untuk langsung mahir. Ini adalah cara sederhana untuk menghentikan kebiasaan menunggu tanpa arah dan membangun pengalaman pertama.

Pada akhirnya, coba tanyakan pada diri sendiri: keterampilan apa yang ingin kamu buktikan melalui satu tindakan kecil minggu ini, dan bantuan siapa yang dapat membuat percobaan tersebut lebih aman? Jawabanmu tidak harus sempurna, tetapi mungkin sudah cukup untuk menentukan langkah berikutnya.

Gratis dibaca. Jika merasa terbantu, boleh traktir kopi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terima kasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan