
TASIKMALAYA, Thecuy.com – Ketua Asosiasi Muda Institute (AMI) Jausan Kamil, menyoroti kecenderungan politik yang semakin kuat untuk memprioritaskan aktivitas, publikasi, dan pencitraan daripada berpihak pada kepentingan masyarakat.
Menurutnya, wakil rakyat memang semakin sering terlihat hadir di tengah masyarakat, mulai dari seminar, sosialisasi, kunjungan kerja hingga berbagai kegiatan yang kemudian dipublikasikan melalui media sosial.
Namun, menurut Jausan, intensitas kegiatan tersebut tidak otomatis menunjukkan keberhasilan kerja politik.
Nurul Awalin Resmi Daftar Ketua Partai Golkar Kota Tasikmalaya, Calon Tunggal Pegang Komando! Kendaraan Dinas TNI di Makodim 0612 Tasikmalaya Diperiksa, Utamakan Keselamatan
“Seminar menjadi acara. Sosialisasi menjadi formalitas. Aspirasi menjadi daftar administrasi. Kunjungan menjadi dokumentasi. Kemudian semuanya selesai ketika kamera dimatikan,” kata Jausan, Kamis (17/9/2026).
Ia menilai persoalan utama justru terletak pada pertanyaan mendasar mengenai untuk siapa berbagai aktivitas politik tersebut dijalankan.
Sebab, kata dia, politik tidak pernah benar-benar netral. Setiap kebijakan memiliki dampak, sementara setiap penggunaan anggaran publik selalu memiliki kelompok yang menerima manfaat maupun yang berpotensi tertinggal.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat menurutnya jangan sampai hanya ditempatkan sebagai penonton dalam sebuah pertunjukan politik yang telah disiapkan.
“Kita terlalu sering menyebut kegiatan sebagai keberhasilan, tanpa pernah bertanya apakah kegiatan tersebut benar-benar mengubah kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Jausan menegaskan, masyarakat tidak membutuhkan wakil rakyat yang hanya piawai menyelenggarakan kegiatan. Lebih dari itu, wakil rakyat harus mampu membuka ruang kesadaran agar masyarakat memahami hak dan posisi mereka dalam kehidupan politik.
Sebab, menurutnya, masyarakat yang sadar secara politik jauh lebih penting dibandingkan masyarakat yang sekadar merasa diperhatikan.
Viman Akui Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Penuh Dinamika, Soal Proses: Kembalikan ke AD/ARTAngkatan Pertama Informatika UMTAS Ditantang Jadi Pionir Talenta Digital
Jausan juga mengkritisi praktik politik yang dibangun dengan logika take and give. Dukungan politik, kata dia, berpotensi dipandang memiliki harga, sementara kedekatan dengan masyarakat bisa berubah menjadi investasi untuk kepentingan elektoral.
Ironisnya, meski pemilu masih jauh, menurut Jausan, politik elektoral sudah mulai berjalan.
Masyarakat dikunjungi, kelompok masyarakat dirangkul, bantuan diberikan dan berbagai kegiatan dibuat. Jika tidak dikontrol, seluruh aktivitas tersebut dapat bergeser menjadi modal politik untuk kepentingan berikutnya.
“Inilah wajah politik yang sering tidak ingin kita bicarakan secara terbuka. Hubungan antara rakyat dan politisi dapat berubah menjadi hubungan transaksional,” katanya.
Baca juga Berita lainnya di News Page
Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].