Malik Mahpud bersama burung macaw!

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com — Ada pertemuan yang sudah diatur. Ada juga pertemuan yang terjadi tiba-tiba, bagaikan hujan yang turun saat kita lupa membawa payung.

Ini adalah pertemuan kedua saya dengan Al Malik Masahiko Otsuka Mahpud—atau yang lebih dikenal sebagai Malik Mahpud.

Pada siang hari, sekitar pukul 14.00, saya sedang berbincang dengan seorang teman dekat di sebuah kafe di Jalan Kapten Naseh. Tiba-tiba, seseorang masuk, dan saya merasa kenal dengannya.

PKL Dadaha “Dipilah” oleh Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179 Pedagang, Sekitar 50 yang Memasuki Prioritas. Meski Jalan Ditutup demi Penataan, PKL di Jalan Dadaha Tasikmalaya Tetap Berjualan Meskipun Penghasilan Turun Drastis

Saya melihat lagi. Oh, itu Malik. Seorang pemuda berusia 32 tahun yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan masyarakat Tasikmalaya.

Bukan karena membuat keributan. Justru karena memilih jalan. Malik memutuskan bergabung dengan Partai Golkar. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum DPD Golkar Jawa Barat.

Bagi pemuda berusia 32 tahun, itu bukan posisi kecil. Jabatan itu prestisius. Namun, juga berbahaya. Bukan berbahaya karena kursinya bisa jatuh. Tapi karena semakin tinggi kursi, semakin banyak orang yang berharap kita tidak jatuh.

Malik datang dengan pakaian yang jauh dari kesan pejabat. Kaos berkerah putih, dengan kombinasi garis putih, hijau, dan biru. Celana jeans. Terlihat segar. Sangat muda.

Namun, ada satu hal yang membuat saya berhenti memperhatikan pakaiannya. Dua jam tangan. Satu di tangan kiri, satu di tangan kanan. Keduanya berwarna hijau. Saya tidak tahu apa maksudnya.

Mungkin Malik ingin memastikan bahwa jika satu jam berhenti, masih ada jam lain. Atau mungkin dia sedang belajar bahwa dalam politik, waktu tidak cukup dilihat dari satu sisi.

Ada waktu untuk maju. Ada waktu untuk menunggu. Ada waktu untuk diam. Dan ada waktu untuk mengatakan sesuatu yang sebaiknya tidak dikatakan.

Misi Penataan Dadaha di Kota Tasikmalaya Dianggap Tidak Realistis. Pemerintah Kota Tasikmalaya Ingin Menata Dadaha, Meskipun Pedagang Tetap Ada

Dua jam tangan, ternyata, bisa menjadi pelajaran politik. Mungkin Malik hanya suka jam. Begitu pula manusia. Kita sering memberi makna pada sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Jujur, itu pertama kalinya saya bertemu Malik secara langsung. Sekaligus pertama kali berdiskusi langsung dengannya. Dan saya mendapatkan kejutan. Bukan kejutan karena nama besar keluarganya.

Bukan juga karena jabatan barunya di Golkar. Saya justru terkejut oleh cara berpikirnya. Pembicaraan bergerak ke sana kemari. Ekonomi. Sosial. Politik. Perubahan masyarakat.

Baca juga berita lain di News Page

Terima kasih telah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan