Dituding Sebabkan Kekeringan Irigasi Pertanian di Tasikmalaya, BBWS Citanduy Memberikan Penjelasan Berikut Ini:

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Isu kekeringan kembali viral di media sosial, terutama di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Namun, isu yang dibahas bukan kekeringan akibat musim kemarau, melainkan dugaan dampak dari proyek pembangunan yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy di Daerah Irigasi (D.I.) Cikunten II.

Salah satu postingan menuduh bahwa proyek rehabilitasi irigasi Cikunten II oleh BBWS Citanduy menyebabkan pasokan air untuk pertanian di Kabupaten Tasikmalaya mengering. Selain itu, pasokan air untuk beberapa pondok pesantren juga disebut terganggu, meskipun tidak disebutkan pondok pesantren mana saja yang terdampak.

Ketika Bupati dan Wakil Tidak Berebut CahayaMAN 1 Tasikmalaya Dorong Guru Lebih Adaptasi dengan Teknologi

Namun demikian, BBWS Citanduy membantah hal ini. Mereka menyatakan bahwa kekeringan yang terjadi tidak sepenuhnya berkorelasi dengan pekerjaan fisik yang sedang berlangsung di Daerah Irigasi Cikunten II. Kekeringan lahan pertanian lebih disebabkan oleh akumulasi faktor alamiah musim kemarau dan kebutuhan teknis untuk pengeringan berkala guna mempercepat rekonstruksi beton dinding saluran air yang sedang dijalankan.

“Langkah ini justru diambil demi menyelamatkan masa depan pertanian Kota/Kabupaten Tasikmalaya yang selama bertahun-tahun dihantui masalah kebocoran serta pendangkalan saluran irigasi,” ujar Kepala BBWS Citanduy, Roy Panagom Pardede S.T., M.Tech., dalam keterangan resmi yang diterima radartasik.id, Jumat (17/7/2026).

Roy menilai narasi yang beredar di media sosial tidak berdasarkan fakta sebenarnya di lapangan, sehingga menyudutkan proyek rehabilitasi D.I. Cikunten II.

“BBWS Citanduy menegaskan bahwa narasi yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu tersebut tidak komprehensif, tidak melihat fakta hulu-hilir secara utuh, dan berpotensi mengaburkan tujuan mulia dari proyek strategis nasional ini,” paparnya.

Dalam penjelasannya, Roy juga menyampaikan bahwa yang terjadi di lapangan bukanlah penghentian aliran air secara permanen, melainkan pengaturan teknis selama pembangunan berlangsung.

“BBWS Citanduy tidak pernah menutup aliran air secara permanen. Bersama dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan tokoh masyarakat, telah disepakati sistem rotasi pengaliran air. Jadwal penutupan dilakukan secara terukur agar kontraktor dapat memperkokoh struktur dinding saluran utama, sementara pasokan ke hilir tetap diberikan haknya secara bergantian,” jelasnya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan