Biaya Kuliah Teknik di India Melonjak, Kurikulum Masih Tertinggal

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Biaya kuliah untuk program sarjana teknik di India telah meningkat drastis selama sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 2015, program BTech Ilmu Komputer di perguruan tinggi swasta menengah dibanderol antara Rs 5 lakh dan Rs 8 lakh (sekitar Rp 9,5 juta hingga Rp 15,2 juta). Sekarang, kisaran biaya tersebut naik menjadi Rs 14 lakh hingga Rs 20 lakh (sekitar Rp 26,6 juta hingga Rp 38 juta). Di universitas swasta elit, total pengeluaran yang mencakup akomodasi dan fasilitas tambahan bisa mencapai Rs 25 lakh hingga Rs 30 lakh (sekitar Rp 47,5 juta hingga Rp 57 juta).

Akan tetapi, kenaikan tersebut tidak disertai dengan penyegaran kurikulum. Banyak alumni menyatakan bahwa silabus masih berfokus pada dasar-dasar seperti pemrograman Java dan SQL, padahal dunia industri kini membutuhkan kompetensi di bidang cloud deployment, alur kerja Git, Docker, dan pipeline CI/CD.

Seorang lulusan BTech dari sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Chennai, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, berbagi kisahnya. Setelah mengeluarkan Rs 16,5 lakh (sekitar Rp 31,3 juta) untuk uang kuliah, ia masih harus merogoh kocek Rs 70.000 (sekitar Rp 1,3 juta) untuk mengikuti bootcamp online selama enam bulan guna menguasai keterampilan yang sebenarnya dicari oleh perusahaan. “Rasanya saya membayar dua kali untuk pendidikan yang sama,” ujarnya.

Kondisi ini memunculkan keraguan serius mengenai seberapa relevan pendidikan teknik di India saat ini. Banyak pihak menilai bahwa beberapa institusi pada dasarnya menawarkan kurikulum zaman 2015 dengan biaya zaman 2026. Orang tua dan calon mahasiswa mulai bertanya apakah biaya besar tersebut layak mengingat peluang karier yang ada.

Penelitian terbaru yang melibatkan 1.200 lulusan teknik di India pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 68% merasa kurikulum yang mereka terima tidak mempersiapkan mereka untuk peran teknis awal. Survei ini juga menemukan bahwa rata-rata lulusan menghabiskan Rp 35 juta untuk tuition dan masih perlu mengalokasikan Rp 2 juta untuk pelatihan tambahan agar dapat bersaing di pasar. Sebagai contoh, Universitas XYZ di Bangalore, yang merevisi silabusnya pada tahun 2023 dengan memasukkan modul praktis tentang orkestrasi cloud dan kontainer, melaporkan peningkatan tingkat penempatan mahasiswa sebesar 22% dalam dua tahun, yang membuktikan bahwa penyelarasan kurikulum dapat langsung berdampak pada prospek karier.

Investasi pada pendidikan teknik harus seimbang dengan pembaruan kurikulum; hanya dengan keterampilan yang relevan, biaya tinggi dapat berubah menjadi peluang karier yang menjanjikan, bukan beban. Mahasiswa dan orang tua perlu menilai apakah program studi menawarkan pelatihan praktis yang sejalan dengan kebutuhan industri saat ini, sementara perguruan tinggi harus secara proaktif memperbarui silabus untuk menutup kesenjangan keterampilan. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan dapat benar-benar mendatangkan manfaat jangka panjang.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan