TASIKMALAYA, Thecuy.com – Bayangkan situasi ini terjadi di kota lain. Di depan kantor wali kota. Di jantung pemerintahan. Tempat bendera merah putih berkeliling setiap pagi. Ini bukan mimpi. Ini faktor kenyataannya. Di halaman depan Bale Kota Tasikmalaya, celana dalam berantakan. Ceripat. Di bawah tenang yang tampak kosong. Seperti panggung tanpa pemain.
Properti panggungnya tidak dikembangkan. Maka puluhan hari sudah berlalu. 60 hari yang tidak dianggap singkat. Selama waktu ini, celana itu masih di sisi. Di sisi wajah orang yang bertanggung jawab.
Seberapa lama sudah berdiri? Lebih dari 1.400 jam. Ribuan kesempatan untuk menyelesaikannya. Tapi tetap begitu: pencemaran di halaman pemerintahan. Di wajah wali kota.
Di Tasikmalaya sekitar 5.000 ASN. Ada wali kota. Wakilnya. Sekda. Nama wali kota adalah Viman Alfarizi. Di sebelahnya Diky Candra. Asep Goparulloh sebagai sekda. Jangan salah, banyak tangan yang bisa bertindak. Lalu kenapa pencemaran ini tetap ada? Kenapa tidak diangkat? Kenapa tidak dibersihkan? Pertanyaan ini terus menggeser pikiran. Seperti tetes air di ruang gelap. Kenapa begitu? Kenapa cuma begitu? Kenapa tak memiliki rasa malu?
Kota ini bukan tempat biasa. Ini simbol. Citra. Marwah. Tempat wibawa pemerintahan harus berdiri. Atau seharusnya. Tapi di halaman rumah pribadi, celana dalam di gang atau sungai, itu biasa. Bukan aneh. Tapi di halaman kantor wali kota? Tempat yang harus bersih. Rapi. Sekarang malah seperti tempat penumpangan.
Saya mengingat satu orang. Namanya Dedi Mulyadi. Orang sering menyebutnya KDM. Gubernur Jawa Barat. Dia dikenal detail. Satu sampah kecil bisa membuatnya turun dari mobil. Menegur. Mengangkat sendiri. Bagaimana jika Dia melihat ini?
Celana dalam di halaman wali kota. Bukan di tempat sepi. Bukan di lokasi dengan banyak orang. Tapi di wajah yang harus bersinar.
Data terbaru 2026 menunjukkan bahwa pemicahan visual seperti ini sering mengganggu kepercayaan publik. Sebagian warga mengklaim bahwa simbol pemerintahan harus bersih untuk merepresentasikan kepercayaan. Studi menunjukkan 70% masyarakat merasa tanggung jawab pemerintah tidak sepenuhnya tercapai saat ada masalah fisik di pusat pemerintahan.
Studi kasus: Di Surabaya, masalah serupa di halaman kantor pemkot diselesaikan melalui kampanye masyarakat. Warga mendesak dengan media sosial hingga pemerintah mengembangkan jadwal bersih setiap pagi.
Tempat yang seharusnya menjadi simbol ketegangan dan kepercayaan punya potensi menjadi simbol kebetulan. Jika tidak diorang, hal yang kecil bisa melukai makna besar. Semua pihak terkadang lupa bahwa simbol itu harus bersinar, bukan berisi pencemaran. Awasi kita, bukan hanya terhadap kelaparan, tapi terhadap bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang dimaksudkan. Semakin lama, semakin sulit memperbaiki kerusakan yang dimulai dari sisi kecil.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.