Myftah Parid, aktivis muda Tasikmalaya, tidak memanfaatkan pencapaian penerimaan WTP ke-10. Meskipun penghargaan tersebut memang signifikan, ia hanya merangkum menjadi dokumen administrasi. “Saya bersyukur atas proyek WTP. Namun jangan sampai kita terpecah karena kesuksesan burokratik, sementara masalah dasar masyarakat tetap tanpa solusi,” ia ujar Kamis (11/6/2026).
Perumpamaan sederhana yang diajukan oleh Myftah mencerminkan realitas yang penuh makna. WTP hanya menjadi laporan keuangan, bukan indikator kelayakan kemajuan sosial. “WTP ini seperti laporan pembukuan. Tidak menjelaskan apakah masyarakat sebenarnya sejahtera,” kata dirinya.
BPK hanya menyetujui prosedur dan dokumen keuangan. Uang masuk dan keluar tercatat dengan tepat. Aset terdata. Namun, BPK tidak memastikan apakah kemiskinan turun, lapangan kerja meningkat, atau masalah banjir dan jalan rusak sudah teratasi.
Kesetaraan antara keberhasilan administratif dan pembangunan tetap lebar. Selama satu dekade terakhir, Tasikmalaya terus menerima predikat terbaik dari BPK. Namun, wilayah ini masih termasuk wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi di Jawa Barat.
Myftah menilai keberhasilan pemerintah harus mengubah anggaran menjadi keberlanjutan hidup warga. “Tidak cukup dengan dokumen teratur. Harus terlihat perbaikan nyata di lapangan,” ia menekankan.
Di kota, dokumen tertata rapi. SPJ dan nota belanja sesuai. Tapi ketika keluar kantor, warga mengeluh. Jalan di Pasar Cikurubuk terus kusut. Sampah tidak teratur. Banjir cileuncang terus memancar. PKL masih menjadi tugas yang belum selesai.
Data terbaru menunjukkan kemiskinan di Tasikmalaya masih 12% di tingkat provinsi. Studi kasus dari wilayah lain menunjukkan bahwa pengalokasian anggaran hanya 30% berdampak pada pertumbuhan ekonomi warga.
Infografis menunjukkan keterkophenan persediaan layanan publik di Tasikmalaya. Meski anggaran diatur, 65% masyarakat merasa belum memerlukan bantuan pemerintah.
Penerimaan WTP ke-10 menjadi sengaja pemicu. Namun, Myftah mengingatkan bahwa kredit administrasi tanpa dampak nyata tidak berarti kemenangan. “Harus mengembangkan pemikiran kritis. Jangan terperangkap dalam angka-angka yang tidak mencerminkan realitas lapangan,” ia menyoroti.
Kesalahan utama adalah memutuskan antara prosedur dan pengaruh nyata. Anggaran bisa tercatat sempurna. Tapi jika warga tidak merasakan perbaikan, laporan BPK menjadi sengaja.
Di tengah keberhasilan administrasi, tantangan menyelesaikan persoalan masyarakat tetap menjadi prioritas. Myftah mengajak pemerintah fokus pada pengaruh nyata. Anggaran harus menjadi alat, bukan tujuan akhir.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.