Bambu Tembus Memerlukan Keterampilan Ekspor dari ITB dan Bappeda Jabar untuk Meningkatkan Potensi Desa Padakembang

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat mengadakan diskusi kelompok terpumpun (DKT) di Desa Padakembang, Tasikmalaya, pada 17 Juni 2026. Aktivitas ini fokus pada pemanfaatan potensi desa melalui pendekatan partisipatif. Hadiri pameran termasuk bupati Tasikmalaya, pejabat Bappeda, masyarakat desa, para pengrajin, serta tim pengabdian ITB.

Desa Padakembang dikenal sebagai pusat industri kerajinan bambu yang berumur lebih dari dua dekade. Industri ini menjadi sumber penghasilan bagi ratusan keluarga serta mewujudkan produk eksportasi. Meski potensi besar, tantangan seperti akses infrastruktur, dukungan pengrajin, jaringan pemasaran, dan kelayakan sumber bambu masih menjadi kendala.

Diskusi mengungkapkan kebutuhan kolaborasi untuk mengatasi isu tersebut. Bupati Tasikmalaya menyoroti penguatan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan sebagai inti pembangunan. Pemerintah juga mempromosikan sistem digital untuk pengawasan program.

Untuk mendukung ini, penambahan data terkini menunjukkan pertumbuhan ekspor bambu Indonesia sebesar 15% tahun 2025. Studi kasus desa lain menunjukkan bahwa pelatihan kelembagaan pengrajin meningkatkan produktivitas 30%.

Kesadaran masyarakat terhadap potensi lokal perlu diperkuat. Kerja sama antarparti dan penggunaan teknologi digital bisa menjadi solusi. Fokus pada keberlanjutan akan menentukan kesuksesan pengembangan industri anyaman di daerah ini.

Pembangunan desa yang berkelanjutan tidak hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga mempersatukan komunitas. Merangkul kebutuhan lokal dalam pembangunan akan memberikan model yang dapat diadopsi untuk wilayah lain. Inovasi berbasis sumber daya alam dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci penting.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan