Ratusan KK di Bojonggambir, Tasikmalaya, berkeluhan karena krisis air bersih, warga antre di sumur masjid.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Ketimpangan air mencakup Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Tasikmalaya. Hampir dua bulan berturut-turut, warga di Dusun Cipari dan Cipatat dipaksa berantre setiap hari untuk mengambil air dari sumur Masjid Jami Al-Ihsan. Sumur masjid ini menjadi satu-satunya sumber air yang masih bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti masak, mandi, dan cuci pakaian.

Uun Suhendar, ketua dikotak masjid, menjelaskan pengaturan waktu pengambilan air dari sumur ini dilakukan setiap 10 menit sebelum orasat salat lima. Tujuannya adalah memastikan masyarakat dapat melaksanakan wudhu sebelum beribadah.

Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengungkapkan krisis air memengaruhi sekitar 600 keluarga di wilayahnya. “Warga terpaksa memanfaatkan sumur masjid karena tidak ada sumber air lainnya,” kata dia. Masalah ini bukan baru, karena Dusun Cipari dan Cipatat mengalami kekeringan hampir setiap musim kering.

Bunyamin menambahkan pemerintah desa sudah menyampaikan laporan ke Pemkab Tasikmalaya melalui BPBD. Namun, hingga akhir Juni, bantuan tangki air belum tercapai meski kekeringan masih berlangsung. “Kami belum bisa mengetahui apakah air akan kembali mengalir,” ujarnya.

Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari, menyertakan bahwa sumur yang awalnya mengeluarkan air di kedalaman tiga meter kini sudah digali hingga 10 meter tetapi masih kering.

Solusi permanen seperti pembangunan sumur bor air diperlukan untuk menghindari krisis air di masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan