Fenomena Penghulu Mutasi Terhadap Perubahan Pegawai di Lingkungan BKPSDM Kota Tasikmalaya: Stabilitas Keamanan di Tengah Putaran Penerusan Jabatan

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Terletak di belakang gedung Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tasikmalaya, terdapat cerita unik tentang pengalaman para pegawai yang menikmati keberadaan tanpa gangguan. Di tempat ini, beberapa pegawai seperti memiliki kekebalan terhadap perombakan jabatan, meskipun tahun berubah dan wali kota berganti, beberapa nama tetap tak diganggu.

Seorang pejabat senior yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, “Sudah lebih dari satu dekade bertugas di sini, kelihatan sulit untuk berpindah.” Sementara itu, BKPSDM seharusnya berperan sebagai pusat pengatur mutasi, promosi, dan penempatan pegawai negeri sipil di seluruh instansi pemerintah setempat.

Namun, yang menarik, di kantor ini justru jarang terjadi perombakan. Beberapa pegawai menjadi figur tetap yang selalu tampil di setiap masa jabatan kepala daerah. Di instansi lain, suasana berbeda. Banyak pejabat negeri menantikan giliran untuk berpindah, berharap mendapatkan pengalaman baru atau posisi lebih strategis.

Di BKPSDM, justru ada rasa aman yang membuat pegawai lain iri. “Mereka seperti memiliki perlindungan. Siapa pun yang menjabat sebagai kepala daerah, posisinya tetap aman,” kata seorang pegawai dari dinas lain. Kondisi ini mengangkat pertanyaan: apakah stabilitas tersebut hasil dari kinerja luar biasa — atau justru hasil dari hubungan yang sangat kuat?

Beberapa sumber mengungkapkan, posisi di BKPSDM dianggap “strategis” bukan hanya karena uang, melainkan karena akses terhadap informasi pegawai dan kemungkinan pengaruh dalam proses mutasi jabatan. Setiap kali berita tentang perombakan muncul, sebagian pegawai negeri merasa cemas, sementara sebagian lainnya bersiap-siap. Namun, di BKPSDM, para pegawai tertentu terus bekerja dengan tenang — seperti badai yang tidak pernah mencapai ruang kerja mereka.

Fenomena ini menampilkan ironi birokrasi Kota Tasikmalaya saat ini. Pada saat semangat reformasi mendorong rotasi yang sehat dan transparan, justru ada “zona nyaman” yang sulit ditembus. Para pegawai di sana seperti memiliki “kekebalan jabatan” tanpa peraturan resmi. Sementara di luar sana, banyak ASN yang masih memandang daftar mutasi dengan perasaan takut.

Studi kasus di Kota Tasikmalaya memperlihatkan bahwa stabilitas jabatan tidak selalu berarti kinerja optimal, melainkan bisa jadi hasil dari faktor lain yang tidak terlihat. Hal ini mengajakan refleksi lebih dalam tentang sistem kepegawaian di pemerintah daerah. Reformasi sebenarnya tidak hanya tentang perombakan nama, tetapi juga tentang kemerdekaan dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya manusia.

Kesimpulan tidak perlu diucapkan, namun setiap perubahan harus didasarkan pada keadilan dan profesionalisme. Birokrasi yang sehat baru bisa tercipta ketika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan