Pastikan Bandara Wiriadinata Tidak Ditutup Lagi, Reaktivasi Harus Memperhatikan Harga Tiket

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya diminta serius mengembangkan Bandara Wiriadinata agar rencana menghidupkan kembali penerbangan tidak berakhir dengan penutupan. Evaluasi menyeluruh diperlukan, terutama terkait harga tiket, jumlah penumpang, dan strategi pemasaran.

Sorotan tersebut disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya, Anang Sapaat. Ia mengingatkan, upaya menghidupkan kembali penerbangan di Bandara Wiriadinata sebelumnya beberapa kali tidak bertahan lama karena kurangnya penumpang.

Pada reaktivasi 2023, misalnya, penerbangan hanya berlangsung dua kali. Harga tiket yang mencapai sekitar Rp1 juta dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat. Apalagi jika tarifnya disimulasikan mencapai Rp 1,2 juta, minat terhadap transportasi udara akan makin sepi.

Dianggap makar, istana resmi pecat Listiyo Sigit Prabowo dari jabatan KSPSudahkah tiket pesawat ditaksir Rp 1,2 juta, rute Jakarta-Tasik punya sejarah tak mulus

“Ongkos sekitar Rp 1,2 juta itu masih tergolong tinggi untuk sebagian masyarakat kita. Kondisi ekonomi dan karakteristik masyarakat Tasikmalaya tentu berbeda dengan masyarakat di kota metropolitan. Karena itu, perlu ada pertimbangan agar tarifnya bisa lebih terjangkau,” ujarnya.

Ia meminta Pemkot Tasikmalaya berkomunikasi dengan maskapai untuk mencari skema tarif yang sesuai dengan daya beli masyarakat. Kerja sama atau dukungan pembiayaan juga dapat dipertimbangkan selama sesuai dengan ketentuan dan kemampuan anggaran daerah.

“Harus ada pembicaraan dengan pihak maskapai. Bagaimana caranya agar tarif bisa disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Kalau harga tiket lebih terjangkau, tentu peluang masyarakat untuk menggunakan transportasi udara juga semakin terbuka,” jelasnya.

Menurut Anang, keberhasilan reaktivasi tidak cukup hanya dengan membuka kembali layanan penerbangan. Pemerintah juga harus menyiapkan strategi pemasaran untuk menjaga tingkat keterisian pesawat. Sebab, minimnya penumpang akan berdampak terhadap pendapatan maskapai dan kemampuan menutup biaya operasional.

“Jangan sampai persoalan yang sama kembali terulang. Sebelumnya, salah satu kendalanya adalah minimnya jumlah penumpang sehingga berdampak terhadap operasional penerbangan. Kalau jumlah penumpangnya tidak mencukupi, tentu maskapai akan kesulitan menutup biaya operasional,” ungkap Anang.

Ia menegaskan, Pemkot harus aktif mempromosikan layanan penerbangan dengan melibatkan pengusaha dan masyarakat di wilayah Priangan Timur.

“Marketing-nya harus ditingkatkan. Pemerintah harus mampu mendorong dan mengajak masyarakat agar mau memanfaatkan transportasi udara. Jangan hanya sebatas membuka penerbangan, tetapi bagaimana caranya agar pesawat itu terus digunakan,” katanya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan komentar