KONI Pangandaran dilanda kekacauan, sementara BPJS atlet masih belum aktif menjelang Porprov 2026.

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

PANGANDARAN, Thecuy.com – Kesiapan kontingen Kabupaten Pangandaran dalam menyongsong Porprov Jawa Barat 2026 masih dihantui masalah klasik, yaitu minimnya anggaran dan dukungan dari pemerintah daerah yang dianggap terlambat datang.

Bahkan, masalah pokok berupa kartu BPJS Kesehatan atlet yang tidak aktif juga ikut menghambat persiapan menjelang kompetisi.

Ketua KONI Kabupaten Pangandaran, Mochamad Arief Hikmawan, menyatakan bahwa pihaknya terus menyempurnakan persiapan dengan mengidentifikasi potensi medali dari 14 cabang olahraga yang akan diikuti.

LPPOM Mendorong Pembangunan Ekosistem Halal bagi Industri Bakso di Tasikmalaya; Seperempat Abad SOG Tasikmalaya: Vespa, Persaudaraan, dan Hydro Coplo!

Monitoring langsung di lapangan juga telah dilaksanakan bersama tim Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres).

Akan tetapi, di balik upaya mengejar prestasi, masalah dukungan pembinaan justru menjadi sorotan.

Menurut Arief, peran pemerintah daerah seharusnya sudah dirasakan sejak awal proses pembinaan atlet, bukan ketika agenda pertandingan semakin mendekat.

“Dalam pembinaan ini, pemerintah seharusnya telah hadir dari awal. Keterlibatan pemerintah dalam pengembangan atlet tidak boleh dianggap terlambat. Kami telah menyampaikan kepada Bupati bahwa pengembangan atlet ini sangat penting untuk menjamin hak-hak mereka,” kata Arief saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).

Masalah tersebut bukan hanya soal administrasi. Keterbatasan anggaran juga membuat proses pembinaan tidak berjalan optimal, padahal atlet memerlukan waktu untuk berlatih dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tanpa menunggu dukungan datang.

Paradoxally, the health coverage issue, which should be a basic need for athletes, also remains unresolved.

FKS Kota Tasikmalaya Menggalakkan Gerakan Pengelolaan Sampah dari Rumah, Pencapaian STBM Terus Ditingkatkan; STMIK DCI Menjadi Pusat Inkubasi Robotika Jawa Barat, Kota Santri Membidik Ekosistem Teknologi

Than rather than let the problem hinder the athletes, Arief said he took the initiative to use his personal funds to help reactivate their BPJS membership.

“The drawback is that many BPJS are inactive. This means it is not facilitated. But I, as an individual, took the initiative to use personal funds to cover their BPJS, because if it’s inactive that becomes a requirement that prevents them from competing,” he emphasized.

This step demonstrates the significant effort to maintain the athletes’ chances of still competing.

However, on the other hand, the situation raises questions about how well the fulfillment of athletes’ basic needs has been prioritized in the preparation of the regional contingent.

Read more news on the News Page. Thanks for visiting thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan