GP Ansor criticises the direction of Tasikmalaya’s urban development, urging it not to just be proud of being a city of santri.

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Gelar Kota Santri tidak boleh berhenti hanya sebagai label keagamaan atau slogan tahunan.

Kota Tasikmalaya dituntut untuk membuktikan nilai-nilai keagamaan melalui kebijakan yang adil, layanan publik yang bermutu, serta pembangunan yang betul-betul dirasakan warga.

Sorotan ini disampaikan oleh Ketua Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tasikmalaya dalam acara istigasah dan diskusi publik bertajuk Refleksi Hari Santri: Mengevaluasi Arah Pembangunan Kota Santri di Kantor PCNU Kota Tasikmalaya, Jumat malam (23/10/2026).

Ohan Hafidz Gelombang II Diluncurkan, Kota Tasikmalaya Lanjutkan Pembinaan Generasi Qur’aniBaru Dilantik, Gekrafs Kota Tasikmalaya Buktikan Kinerja Lewat Pekraf dan Dipuji Wamenekraf

Acara tersebut menjadi ajang evaluasi kritis terhadap arah pembangunan daerah, sekaligus mempertanyakan sejauh mana nilai-nilai pengabdian, kemandirian, kepedulian sosial, dan keadilan telah diterjemahkan ke dalam kebijakan pemerintah.

Ketua PC GP Ansor Kota Tasikmalaya, Bubung Nizar, menegaskan bahwa gelar Kota Santri harus memiliki dampak nyata dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Menurutnya, identitas keagamaan seharusnya tercermin dalam keberpihakan kepada masyarakat, bukan sekadar hiasan dalam narasi pembangunan.

“Jangan sampai gelar Kota Santri hanya menjadi identitas dan slogan yang terus diucapkan setiap tahun, tetapi nilai-nilai di dalamnya tidak tercermin dalam arah pembangunan. Semangat keagamaan harus hadir dalam kebijakan yang adil, keberpihakan kepada masyarakat, dan layanan publik yang melayani kepentingan rakyat,” kata Bubung.

Dia mengingatkan, peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti pada seremoni dan kegiatan simbolis.

Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengukur apakah nilai-nilai yang selama ini dibanggakan telah menjadi bagian dari praktik pemerintahan dan pembangunan daerah.

Menurut Bubung, keberhasilan pembangunan kota tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi atau banyaknya infrastruktur yang dibangun.

Stok Darah RSUD dr. Soekardjo Terpenuhi, Ratusan Prajurit Macan Putih Turun TanganRetribusi Kios Pasar Kota Tasikmalaya Naik 25 Persen, Pedagang Minta Tunggakan Dihapus

Pemerataan kesejahteraan, kualitas layanan publik, keadilan sosial, serta keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan harus menjadi ukuran yang tidak kalah penting.

“Kalau kita bicara tentang Kota Santri, pertanyaannya sederhana, apakah masyarakat sudah merasakan keadilan, kesejahteraan, dan layanan yang baik? Identitas keagamaan harus berdampak pada kebijakan. Jangan sampai nilai-nilai yang kita banggakan hanya berhenti pada simbol dan narasi,” tegasnya.

Bubung juga menyoroti pentingnya adanya ruang dialog yang sehat antara pemerintah, organisasi pemuda, pesantren, akademisi, dan masyarakat sipil.

Baca juga berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan