Kekeringan Meluas, 30.000 Warga Pangandaran Tergantung pada Bantuan Air

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

PANGANDARAN, Thecuy.com – Krisis air bersih di Kabupaten Pangandaran meluas dengan cepat. Sebanyak 30.146 jiwa dari 10.286 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang kini melanda 10 kecamatan.

Walaupun permintaan air bersih semakin meningkat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran masih mempertahankan status siaga bencana dan belum menetapkan status tanggap darurat.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran per Minggu (11/10/2026), sebanyak 3.013.000 liter air bersih telah didistribusikan melalui 240 kali pengiriman tangki.

AMI: Kritisnya Kapan-Kapan!Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-Kubuan

Jutaan liter air itu menjadi penopang kebutuhan dasar warga yang kesulitan mendapatkan pasokan dari sumber air setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Dodo Kusnadi mengatakan, dampak kekeringan awalnya tercatat di 38 desa yang tersebar di sembilan kecamatan.

Namun, cakupan kini bertambah setelah warga Kecamatan Langkaplancar turut meminta pengiriman air bersih.

“Namun, cakupan kini meluas ke seluruh kecamatan di Pangandaran seiring masuknya permintaan pengiriman air dari warga di Kecamatan Langkaplancar,” katanya kepada Radar, Selasa (13/10/2026).

Sebelum meluas ke Langkaplancar, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kalipucang dengan 8.086 jiwa atau 2.730 KK, Pangandaran 5.916 jiwa atau 2.071 KK, Padaherang 5.583 jiwa atau 1.880 KK, Parigi 2.209 jiwa atau 780 KK, Cigugur 2.169 jiwa atau 707 KK, Cijulang 1.936 jiwa atau 753 KK, Sidamulih 1.806 jiwa atau 606 KK, Cimerak 1.763 jiwa atau 523 KK, serta Mangunjaya 355 jiwa atau 132 KK.

Meluasnya wilayah terdampak menunjukkan kebutuhan air bersih tak lagi terkonsentrasi di sejumlah desa. Distribusi bantuan terus berjalan, sementara penetapan status tanggap darurat masih menunggu proses koordinasi lintas sektor.

Dodo menjelaskan, peningkatan status menjadi tanggap darurat tidak bisa dilakukan secara sepihak. Penetapannya harus melalui rapat koordinasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), sebelum disahkan oleh bupati.

Dinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan KekuasaanKetika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh Santun

Di sisi lain, penanganan krisis dilakukan melalui kolaborasi sejumlah instansi. Taruna Siaga Bencana (Tagana) menjadi pihak dengan distribusi terbesar, yakni 1.600.000 liter air. BPBD menyalurkan 1.080.000 liter, sedangkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy memasok 333.500 liter.

“Tagana mendistribusikan porsi terbesar yaitu sebanyak 1.600.000 liter air, disusul oleh BPBD dengan 1.080.000 liter air, dan BBWS Citanduy sebesar 333.500 liter air,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi penurunan debit air di sejumlah mata air dan sungai, BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Empat titik sumur bor pertanian diupayakan bisa dimanfaatkan untuk dua kebutuhan sekaligus, yakni irigasi sawah dan pemenuhan kebutuhan harian warga.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan