“People don’t want to buy a quarter-inch drill.
They want a quarter-inch hole.”
Theodore Levitt, “Marketing Myopia”
Kamu sudah menghabiskan waktu dan uang untuk membuat produk, tetapi pesanan masih sepi, bahkan orang yang melihatnya pun tidak banyak bertanya.
Kadika mengerti betapa menjengkelkannya ketika sebuah produk sudah terasa siap dipasarkan, tetapi respons pasar tidak sesuai harapan.
Seringkali, masalahnya bukan karena produknya buruk, melainkan karena manfaatnya belum sesuai dengan kebutuhan orang yang kita sasar.
Mengapa Produk Tidak Laku Walau Sudah Dibuat dengan Sungguh-Sungguh?
Produk bisa tidak laku karena beberapa alasan berbeda, misalnya masalah yang dituju kurang mendesak, calon pembeli yang disasar terlalu luas, atau cara menjelaskan manfaatnya belum jelas.
Ketiganya bisa terasa mirip karena sama-sama berakhir dengan penjualan rendah, tetapi cara memperbaikinya berbeda-beda.
Masalah yang cukup spesifik biasanya lebih mudah diidentifikasi dan ditangani dibandingkan keinginan umum seperti ingin hidup lebih praktis atau ingin bisnis berkembang.
Contohnya, aplikasi pencatat keuangan mungkin terdengar berguna bagi semua orang, tetapi kebutuhan pemilik warung untuk memisahkan uang pribadi dan uang usaha jauh lebih konkret.
Jika sasaranmu jelas, kamu bisa menjelaskan kapan masalah itu muncul, apa dampaknya, dan mengapa solusi yang kamu tawarkan layak untuk dicoba.
“Tapi aku udah bikin produk terbaik yang aku bisa, masa masih kurang?”
Kualitas itu penting, tetapi calon pembeli biasanya menilai apakah produk itu menyelesaikan masalah mereka, bukan berapa lama kamu membuatnya.
Jujur saja, Kadika dulu juga mengira produk yang bagus akan menjual dirinya sendiri, padahal orang perlu paham dulu mengapa produk itu relevan bagi mereka.
Product-Market Fit Dimulai dari Permasalahan yang Nyata Kita Hadapi

Kesesuaian produk-pasar berarti ada sekelompok pelanggan yang memiliki masalah nyata dan merasa solusi yang kamu tawarkan cukup bernilai untuk digunakan atau dibeli.
Ini bukan lencana yang kamu dapatkan setelah meluncurkan produk, tetapi kecocokan yang perlu diuji melalui kebiasaan dan respons calon pembeli.
Clayton Christensen dan rekan-rekannya menjelaskan pendekatan Jobs to Be Done dalam artikel Harvard Business Review berjudul Know Your Customers’ Jobs to Be Done, yaitu memahami kemajuan yang ingin dicapai pelanggan dalam situasi tertentu.
Orang mungkin membeli katering kantor bukan hanya karena butuh makanan, tetapi karena ingin makan siang tim tetap teratur tanpa membuang waktu memilih menu setiap hari.
Pandangan itu membantumu menggali pemicu pembelian, bukan hanya mencatat umur, pekerjaan, atau lokasi calon pelanggan.
Kadika menyarankan kamu berbicara dengan lima sampai sepuluh orang yang pernah mengalami masalah tersebut, lalu tanyakan apa yang mereka lakukan sebelum mengenal produkmu.
Tanyakan juga kapan masalah itu terakhir muncul, berapa banyak waktu atau uang yang terbuang, dan solusi apa yang pernah mereka coba.
Jangan terburu-buru bertanya apakah mereka suka idemu, karena orang sering menjawab sopan tanpa benar-benar berniat membeli.
“Kalau aku tanya langsung, mereka pasti bilang produknya menarik, kan?”
Respons seperti menarik belum membuktikan banyak, jadi cari tanda yang lebih nyata seperti kesediaan mencoba, meluangkan waktu, atau membayar.
Jika beberapa orang mengulang masalah yang sama dan sudah mengeluarkan usaha untuk mengatasinya, itu petunjuk yang lebih berguna daripada pujian umum.
Positioning Membantu Calon Pembeli Memahami Alasan Memilih Produkmu

Positioning adalah cara kamu menempatkan produk di pikiran calon pembeli dibandingkan pilihan lain yang mereka miliki.
Calon pembeli bisa memilih pesaing, membuat solusi sendiri, menggunakan produk gratis, atau menunda menyelesaikan masalahnya.
Oleh karena itu, pesan seperti produk berkualitas dan pelayanan terbaik belum cukup jika tidak menjelaskan untuk siapa produkmu, masalah apa yang dibantu, dan apa pembeda yang berarti.
Contohnya, alih-alih menawarkan kopi premium untuk semua orang, kamu bisa menjelaskan bahwa kopi siap minum ini dibuat untuk pekerja komuter yang ingin kopi enak tanpa harus antre sebelum masuk kantor.
Pesan itu lebih mudah dibayangkan karena situasi pengguna dan manfaatnya jelas.
Dalam buku Obviously Awesome, April Dunford membahas positioning sebagai cara membantu pelanggan memahami konteks produk dan alasan produk itu cocok bagi mereka.
Kamu bisa mulai menyusun pesan sederhana dengan pola: produk ini membantu siapa, menghadapi masalah apa, dan memberi hasil seperti apa.
Contohnya, “template anggaran ini membantu freelancer memisahkan uang pajak dari penghasilan bulanan supaya saldo yang bisa dipakai lebih jelas.”
Hindari klaim besar yang sulit dibuktikan, seperti solusi nomor satu atau pasti membuat bisnis sukses, karena janji berlebihan justru membuat orang ragu.
“Tapi pesaingku punya fitur lebih banyak dan harganya lebih murah.”
Kamu tidak harus unggul di semua hal, tetapi perlu menunjukkan mengapa satu keunggulan tertentu penting bagi kelompok pembeli yang kamu tuju.
Jika pelanggan memilih produkmu karena lebih mudah dipakai, layanan lebih cepat, atau cocok untuk kebutuhan yang diabaikan pemain besar, tonjolkan alasan itu dengan bukti yang sesuai.

Jika penjualan sepi, reaksi pertama yang sering dilakukan adalah menambah unggahan, diskon, atau iklan sebelum memastikan pesannya sudah tepat.
Sebenarnya, promosi yang lebih ramai hanya menyebarkan pesan yang sama ke lebih banyak orang, termasuk orang yang memang tidak membutuhkan produkmu.
Mulai dari satu kelompok calon pembeli dan satu pesan utama, lalu pilih kanal tempat mereka biasa mencari informasi atau membuat keputusan.
Produk untuk pekerja lepas mungkin lebih cocok dikenalkan melalui komunitas profesi dan contoh penggunaan nyata daripada memasang iklan luas tanpa sasaran.
Ukur hal yang dekat dengan keputusan pembelian, seperti berapa orang yang bertanya tentang harga, meminta demo, mencoba produk, lalu kembali membeli.
Uji sebelum memperbesar berarti kamu mencoba tawaran dalam skala kecil, misalnya menjual sepuluh paket awal sebelum memproduksi seratus unit.
Kamu juga bisa menguji dua cara menjelaskan manfaat, tetapi ubah satu hal dalam satu waktu agar hasilnya lebih mudah dibaca.
Eric Ries menjelaskan proses belajar melalui eksperimen dalam buku The Lean Startup, dan Harvard Business Review membahas pendekatan itu dalam artikel Why the Lean Start-Up Changes Everything.
Catat tanggal, jumlah orang yang melihat tawaran, jumlah yang bertanya, dan jumlah yang membeli, agar keputusanmu tidak hanya berdasarkan perasaan.
“Kalau aku belum punya banyak dana, gimana mau marketing?”
Kamu tidak harus langsung mengeluarkan anggaran besar, karena percakapan dengan calon pembeli, demonstrasi sederhana, dan penawaran uji coba bisa memberi petunjuk awal.
Jika ingin memperluas promosi setelahnya, pelajari juga cara mempromosikan web lewat Instagram dan sesuaikan kontennya dengan pertanyaan yang sering muncul dari calon pembeli.
Perbaiki Tawaran dengan Memperhatikan Umpan Balik dari Pembeli
Respons calon pembeli memberikan petunjuk untuk membedakan masalah produk, harga, pesan, dan proses pembelian.
Jika orang tertarik tetapi mundur setelah melihat harga, cari tahu apakah manfaatnya belum terasa sepadan atau pilihan paketnya kurang pas.
Jika mereka melihat halaman produk tetapi tidak bertanya, periksa apakah manfaat utama terlihat jelas dalam beberapa detik pertama.
Jika banyak yang mencoba tetapi tidak kembali, cari tahu bagian mana yang mengecewakan atau membuat produk sulit digunakan.
Bukti yang relevan bisa berupa demonstrasi, contoh hasil pelanggan, ulasan yang spesifik, atau kebijakan mencoba yang risikonya terasa wajar.
Pastikan bukti itu menjawab keraguan pembeli, bukan hanya memajang pujian umum yang sulit dipercaya.
Penjualan sebagai percakapan membantu kamu mendengar keberatan tanpa langsung menganggap calon pembeli sedang menolak semuanya.
Tanyakan bagian mana yang terasa kurang cocok, apa yang mereka butuhkan sebelum memutuskan, dan pilihan apa yang mereka bandingkan.
Kadika pernah terlalu cepat mengubah banyak hal sekaligus, lalu bingung sendiri perubahan mana yang membuat respons membaik, hehehe.
Lebih aman membuat catatan singkat setiap minggu, memilih satu dugaan untuk diuji, lalu melihat apakah perilaku pembeli berubah.
Kamu tidak harus mempertahankan semua fitur atau kemasan hanya karena sudah menghabiskan waktu untuk membuatnya.
Produk yang berkembang biasanya lahir dari keberanian memperhatikan kenyataan di lapangan, termasuk saat respons pembeli berbeda dari bayangan awal.
Coba pikirkan satu hal yang kamu tahu sekarang: kebutuhan siapa yang ingin dibantu produkmu, dan bukti apa yang bisa menunjukkan bahwa kebutuhan itu nyata?
Jika Kadika boleh menitipkan satu refleksi, jangan hanya bertanya bagaimana caranya menjual lebih keras, tetapi apa yang perlu dibuat lebih jelas, berguna, atau mudah dipercaya oleh orang yang tepat.
Boleh dibaca gratis. Jika merasa terbantu, silakan traktir kopi.
<button type="button" class="dnpst__btn dnpst__btn--subtle" data-dnpst-open="dnpst-1" aria-haspopup="dialog">
<svg class="dnpst__ico" viewBox="0 0 24 24" width="16" height="16" aria-hidden="true" focusable="false">
<path fill="currentColor" d="M12 20.7s-7.6-4.6-9.6-8.9C.9 8.3 2.7 5 6 5c2 0 3.3 1.1 4 2.1.7-1 2-2.1 4-2.1 3.3 0 5.1 3.3 3.6 6.8-2 4.3-9.6 8.9-9.6 8.9z"></path>
</svg>
<span>Bantu tulisan ini</span>
</button>
</div>
<div class="dnpst-modal" id="dnpst-1" role="dialog" aria-modal="true" aria-label="Terima kasih, ya" hidden>
<div class="dnpst-modal__card" role="document">
<button type="button" class="dnpst-modal__x" data-dnpst-close aria-label="Tutup">×</button>
<h3 class="dnpst-modal__title">Terima kasih banyak</h3>
<p class="dnpst-modal__desc">Dukungan sekecil apapun akan membantu tulisan berikutnya terbit lebih cepat.</p>
<figure class="dnpst-modal__qr">
<img src="https://www.dwiandikapratama.com/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260828_055321_795.jpg" alt="Kode QRIS" loading="lazy"/>
<figcaption>Scan menggunakan aplikasi bank atau e‑wallet apa pun</figcaption>
</figure>
<p class="dnpst-modal__foot">Silakan tinggalkan komentar setelah mengirim dukungan, agar aku bisa mengucapkan terima kasih. ^^</p>
</div>
</div><p style="margin-top:20px">Baca juga berita lainnya di <a href="https://www.thecuy.com/category/news/" target="_blank" rel="noopener">News Page</a>
Terima kasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke [email protected].