Kota Tasik, ini sebuah lelucon!

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com – Tampaknya Kota Tasikmalaya sedang mencari metode baru untuk menangani Dadaha: penertiban terlebih dahulu, konsep belakangan. Jika sempat.

Itu kurang lebih adalah kisah tentang penataan kawasan olahraga Dadaha. Awalnya sederhana.

Walikota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, mengunjungi Dadaha. Pada saat itu, kawasan tersebut baru saja menjadi perhatian setelah terjadi ledakan.

Walikota melakukan inspeksi. Ia tidak sendirian. Pejabat eselon II juga turut serta. Saat itu hadir Asda III, Asep Maman Permana. Juga hadir Kadispora Dedi Mulyana. Ada Kepala Disperindag Sofian Zainal Muttaqien. Kadishub Iwan Setiawan juga hadir. Kasatpol PP Yogi Subarkah hadir. Kepala Kesbang Ade Suhendar hadir. Kepala UPTD Dadaha hadir. Serta sejumlah pejabat lainnya.

Hasil penilaian PCNU terhadap Walikota Tasikmalaya: Kita adalah teman yang tidak selalu setuju. NU bukan ingin menghakimi, hanya ingin mendengarkan!

Saat kunjungan itu, sebuah ide spontan muncul. Walikota kemudian menunjuk Asep Maman Permana untuk menangani penertiban Dadaha. Selesai?

Belum selesai. Karena penunjukannya juga spontan. Tanpa SK. Tanpa surat tugas resmi. Tanpa tim khusus yang jelas. Namun pekerjaan sudah dimulai.

Karena itu perintah pimpinan, Asep langsung bertindak. Ia memetakan masalah-masalahnya. Ia mengajak dinas-dinas terkait untuk membantu menyelesaikan masalah Dadaha.

Lalu datang kabar baik. Satpol PP menertibkan kawasan jogging track. Pedagang kaki lima diusir. Jogging track menjadi lebih luas. Bersih. Rapi.

Video-video beredar luas. Selama sekitar tiga hari, pujian mengalir. Dadaha tampak seperti sudah berubah. Seolah-olah masalahnya selesai. Ternyata masalahnya hanya selesai di video.TV. Setelah itu, Dadaha kembali ke keadaan semula.

Pedagang kaki lima berkumpul kembali. Titik-titik aktivitas menjadi tidak teratur lagi. Kawasan yang seharusnya menjadi ruang publik untuk olahraga justru kembali menjadi ruang publik yang bercampur aduk.

Ada yang berolahraga. Ada yang berdagang. Ada yang parkir sembarangan. Ada juga yang bingung mengatur semuanya. Perbedaannya, yang terakhir tidak terlihat.

Ketika PCNU Ikut Membuka Rapor Wali Kota Tasikmalaya! Bagaimana nasib akal sehat!

Di sinilah bagian yang lucu. Atau mungkin tidak lucu. Ternyata penertiban lebih mudah daripada pengaturan. Penertiban bisa dilakukan besok pagi.

Tapi setelah penertiban, di mana pedagang bersedia dipindahkan? Di mana lokasinya? Siapa yang menyiapkan? Berapa kapasitasnya? Bagaimana pengelolaannya? Berapa anggarannya? Bagaimana agar pedagang tetap bisa mencari nafkah?

Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata tidak selesai hanya dengan peluit Satpol PP. Masalah ini berkaitan dengan tata ruang, olahraga, perdagangan, transportasi, parkir, kebersihan, keamanan, hingga nasib orang-orang yang bergantung pada dagang di sana untuk hidup.

Baca juga berita lainnya di News Page Terima kasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan