Membangun hubungan yang sehat tidak berarti pasangan tidak pernah bertengkar atau punya perbedaan pendapat. Sebaliknya, pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang tinggi umumnya memiliki cara yang lebih sehat untuk menghadapi konflik dan memenuhi kebutuhan satu sama lain.
Tidak semua masalah dalam hubungan berujung pada putus, Thecuy. Beberapa pasangan justru sanggup mengatasi masalah yang lebih spesifik karena punya kebiasaan yang membantu mereka saling memahami dan menjaga kepercayaan.
Lalu, kebiasaan apa saja yang sering dilakukan pasangan yang memiliki koneksi mental dan emosional yang kuat? Temukan jawabannya di sini!
<section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. Mampu Menerima Masukan dengan Baik" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="324153" dtr-ttl="1. Mampu Menerima Masukan dengan Baik" onclick="_pt(this)" readability="26.828978622328">
<h2 class="fw-bold fs-5">1. Terampil dalam Menerima Masukan dengan Baik</h2>
<div readability="11">
<img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/09/05/mampu-menerima-masukan-dengan-baik-foto-magnificcomlookstudio-1789027024358_169.png?w=700&q=90" alt="Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tapi juga terbuka saat menerima masukan dari pasangannya. Menurut psikolog, menerima masukan harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio" title="Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tapi juga terbuka saat menerima masukan dari pasangannya. Menurut psikolog, menerima masukan harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio"/>
<p>Pasangan yang sehat tidak hanya mampu memberikan kritik, tapi juga terbuka saat menerima masukan dari pasangannya. Menurut psikolog, menerima masukan harus diikuti dengan perubahan nyata agar kepercayaan dalam hubungan tetap terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio</p>
</div>
<p>Setiap pasangan pasti pernah mengalami pertengkaran, perbedaan pendapat, atau saling mengkritik. Hal ini sebenarnya wajar karena masalah dalam hubungan perlu disadari agar bisa diatasi.</p>
Namun, menurut psikolog, pasangan dalam hubungan sehat umumnya mampu memberikan dan menerima umpan balik secara konstruktif. Menyampaikan masukan tentu perlu dilakukan dengan jelas dan penuh empati, sedangkan pihak yang menerimanya harus menghindari reaksi defensif.
Yang sering diabaikan adalah tindakan setelah menerima masukan, Thecuy. Contohnya, ketika pasangan meminta kamu untuk lebih tepat waktu, jangan hanya bilang akan berubah tapi terus datang terlambat. Begitu juga ketika pasangan meminta kamu berhenti bersikap sarkastik saat membahas hal serius.
Jika umpan balik hanya diterima tanpa diikuti perubahan, pasangan perlahan-lahan bisa kehilangan kepercayaan. Ketika kepercayaan berkurang, komunikasi dan keintiman dalam hubungan juga dapat terganggu.
2. Berkomunikasi dengan Asertif
Komunikasi asertif membantu pasangan menyampaikan keinginan dan kebutuhan secara jujur tanpa melukai satu sama lain. Menurut pakar, kebiasaan mengungkapkan kebutuhan sejak awal bisa mencegah timbulnya rasa kesal dan dendam dalam hubungan./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro
Salah satu hal yang bisa merusak hubungan adalah rasa dendam atau kekesalan dan kekecewaan yang menumpuk. Menurut pakar, rasa dendam sering muncul ketika seseorang tidak mampu bersikap asertif.
Komunikasi asertif berarti bisa menyampaikan apa yang kamu inginkan, butuhkan, atau rasakan dengan jujur sambil tetap menghormati pasangan.
Contohnya, kamu sedang ragu tentang kariermu dan sebenarnya butuh dukungan dari pasangan. Namun, karena malu mengatakannya, kamu memilih diam dan berharap pasangan bisa mengerti sendiri.
Ketika kebutuhan tidak pernah diungkapkan tapi kamu tetap berharap pasangan memenuhinya, kekecewaan bisa semakin besar. Oleh karena itu, biasakan menyampaikan keinginan desde awal, mulai dari hal-hal kecil seperti memilih tayangan bersama sebelum membahas keputusan besar.
3. Berani Menunjukkan Kerentanan Emosional
Kerentanan emosional merupakan salah satu kunci penting untuk membangun kedekatan yang lebih dalam dengan pasangan. Menurut psikolog, berbagi perasaan sulit bisa membantu pasangan lebih saling memahami dan menjaga keintiman./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro
Kerentanan emosional berarti bersedia membagikan apa yang kamu rasakan, terutama ketika perasaan tersebut sulit diungkapkan. Contohnya, kamu merasa iri dengan kesuksesan profesional pasanganmu. Daripada memendamnya hingga memicu konflik, kamu berani mengakui perasaan itu dan membicarakannya secara terbuka.
Begitu pula ketika kamu merasa sedih tanpa tahu sebabnya. Meski menganggap perasaan itu sebagai tanda kelemahan, kamu tetap bersedia membaginya dengan pasangan.
Menurut pakar, mengakui dan membagikan emosi yang sulit bisa membuat seseorang tidak terlalu takut pada emosinya sendiri. Sebaliknya, menghindari emosi yang sulit mungkin memberikan kelegaan sementara, tapi bisa meningkatkan kecemasan di kemudian hari.
Selain itu, keterbukaan emosional memungkinkan pasangan saling mengenal pada tingkat yang lebih dalam. Ketika komunikasi emosional terhenti, hubungan juga berisiko terasa hambar dan jauh.
4. Menentukan Batasan yang Sehat
Pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang kuat paham pentingnya menetapkan batasan dalam hubungan. Menurut ahli, batasan bukan soal mengontrol pasangan, melainkan menentukan tindakan yang akan kamu ambil ketika kebutuhanmu tidak dihargai./ Foto: magnific.com/frimufilms
Selain bisa menyampaikan kebutuhan, pasangan juga perlu tahu kapan harus menolak. Misalnya, kamu perlu memberitahu pasangan jika sikapnya terasa tidak sensitif di depan keluarga besar, jika cara dia memperlakukan anak mulai memengaruhi hubungan mereka, atau jika kamu sebenarnya tidak ingin pindah kota meski pasangan sangat bersemangat.
Namun, menurut ahli, batasan sebenarnya berfokus pada diri sendiri, bukan untuk mengendalikan pasangan. Kamu tidak bisa mengatur bagaimana pasangan bersikap, tapi kamu bisa menentukan tindakan dan responsmu ketika batasan yang sudah kamu sampaikan tidak dihormati.
Menetapkan batasan memang tidak selalu mudah karena bisa menimbulkan rasa takut, cemas, atau khawatir akan mengecewakan pasangan. Oleh karena itu, mulailah dari hal-hal kecil. Sama seperti belajar keterampilan lain, kemampuan untuk mengatakan tidak dan menetapkan batasan akan semakin kuat dengan latihan yang konsisten.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi yang sulit menjadi bagian penting dalam membangun batasan yang sehat. Dengan latihan yang konsisten, kamu bisa semakin percaya diri dalam menyampaikan sekaligus mempertahankan batasan tersebut.
Menurutmu, dari empat kebiasaan ini, mana yang paling penting untuk membangun hubungan yang memiliki koneksi mental dan emosional yang kuat, Thecuy?
***
Ingin bergabung dengan Buzznesia Community di mana kamu bisa mengikuti berbagai acara online dan offline yang seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk semua, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Ayo, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
<p>(dmh/dmh)</p>
terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Saya adalah penulis di thecuy.com, sebuah website yang berfokus membagikan tips keuangan, investasi, dan cara mengelola uang dengan bijak, khususnya untuk pemula yang ingin belajar dari nol.
Melalui thecuy.com, saya ingin membantu pembaca memahami dunia finansial tanpa ribet, dengan bahasa yang sederhana.