Kebiasaan Wanita Dewasa yang Tidak Memiliki Ayah Menurut Seorang Pelatih Kehidupan

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Seorang anak tidak hanya memerlukan ibu untuk pertumbuhannya. Peran ayah juga sama pentingnya.

Mengutip Psychology Today, seorang ayah berpengaruh terhadap kehidupan relasional, kreativitas, rasa otoritas, kepercayaan diri, dan harga diri anak perempuan. Selain itu, hubungan anak dengan seksualitasnya dan reaksinya terhadap pria dipengaruhi oleh seberapa nyaman atau tidaknya ayahnya terhadap jenis kelamin dan tubuhnya sejak lahir. Meski demikian, karena berbagai sebab, banyak anak yang tumbuh tanpa figur ayah, atau disebut fatherless.

Mengacu data dari situs BKKBN, hasil Pendataan Keluarga tahun 2025 menunjukkan bahwa 25,8% anak di Indonesia mengalami fatherless, dengan indikator menyeluruh seperti interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, dan keterlibatan emosional sang ayah.

Pada perempuan, dampak fatherless bisa terus terbawa hingga masa dewasa. Mengutip YourTango, pelatih kehidupan Mitzi Bockmann bercerita tentang pengalamannya tumbuh tanpa kehadiran fisik maupun emosional dari seorang ayah.

Ia kemudian membeberkan sejumlah kebiasaan perempuan yang mengalami fatherless dan terbawa hingga dewasa. Apa saja itu? Simak!

                                                                                                                                                                                            <section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="1. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="323787" dtr-ttl="1. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain" onclick="_pt(this)" readability="22">
                            <h2 class="fw-bold fs-5">1. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain</h2>
                            <div readability="7">
                                <img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/09/02/perempuan-yang-fatherless-1788336638293.jpeg?w=700&q=90" alt="kebiasaan perempuan dewasa yang fatherless menurut pelatih kehidupan" title="kebiasaan perempuan dewasa yang fatherless menurut pelatih kehidupan"/>
                                <p>Ilustrasi perempuan fatherless/Foto: Magnific.com</p>
                            </div>
                            <p>Perempuan yang mengalami fatherless umumnya cenderung menjadi people pleaser atau senang menyenangkan orang lain. Mereka kesulitan untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan.</p>

Ini merupakan reaksi traumatis sejak kecil, di mana mereka merasa kepergian ayah mereka disebabkan oleh perilaku mereka yang kurang baik. Akibatnya, mereka menjadi orang yang selalu berusaha bersikap baik dan patuh agar orang terdekat tidak meninggalkan mereka.

Sayangnya, baik buruk perilakunya, tidak menjamin ayah atau orang terdekat tetap tinggal. Mereka bisa tetap pergi. Pelatih kehidupan Patricia Bonnard juga menjelaskan dampak buruk dari sikap people-pleasing ini.

“Meskipun niatnya baik, ketidakcocokan antara keinginan dan tindakan pelaku people pleaser justru bisa mengikis rasa percaya dan merusak hubungan. Mereka tidak bermaksud jahat, hanya saja rasa takut dan keinginan menyenangkan orang lain mengalahkan segalanya,” ujarnya.

2. Sulit Membangun Kedekatan dengan Orang

Anak yang tumbuh fatherless bisa sulit membangun kedekatan dengan orang lain. Hal ini karena sejak kecil mereka telah bersikap acuh tak acuh dengan kehadiran ayahnya tersebut.

Ilustrasi pasangan/Foto: Magnific.com/azerbaijan_stockers

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless dapat mengalami kesulitan dalam membangun kedekatan dengan orang lain. Hal ini dikarenakan sejak kecil mereka telah bersikap acuh tak acuh terhadap kehadiran ayahnya.

Sayangnya, sikap acuh tak acuh atau sikap melindungi diri ini terbawa hingga masa dewasa. Setiap kali bertemu orang baru, mereka bersikap sangat berhati-hati dan membangun tembok pertahanan yang tinggi.

Butuh waktu lama bagi seseorang untuk menembus tembok pertahanan itu, karena sebelumnya mereka telah dikhianati oleh orang yang mereka sayangi.

Mereka kesulitan untuk menjalin hubungan. Bahkan, jika ada seseorang yang benar-benar dapat mendekat, perempuan yang mengalami fatherless tetap menciptakan jarak tersendiri.

Bukan berarti mereka tidak berusaha memperbaiki masalah tersebut, tetapi kecemasan dan rasa sakit atas kepergian ayahnya terasa sangat mendalam.

“Dampak dari sosok ayah yang tidak hadir atau bersikap kasar merupakan salah satu trauma masa kecil yang sering diabaikan. Kebanyakan dari kita memilih untuk menyimpan trauma masa kecil tersebut. Meski terasa menyakitkan, kita memilih untuk bertahan dan melanjutkan hidup dengan harapan dapat melupakannya. Padahal, apa yang kita abaikan justru bisa memicu masalah di kemudian hari,” kata psikolog Jed Diamond berdasarkan pengalaman klinisnya.

3. Kesulitan untuk Setia

Kebiasaan perempuan fatherless selanjutnya adalah kesulitan untuk setia. Mereka memiliki keyakinan bahwa pasangan mereka akan meninggalkannya, seperti yang terjadi pada ayahnya sendiri.

Ilustrasi pasangan/Foto: Magnific.com

Kebiasaan lain pada perempuan yang mengalami fatherless adalah kesulitan untuk setia. Mereka yakin bahwa pasangan mereka akan meninggalkannya, seperti yang terjadi pada ayahnya.

Sebelum mereka ditinggalkan, mereka sering melakukan sabotase diri dengan memicu kehancuran hubungan terlebih dahulu. Mereka akan mencoba meninggalkan pasangannya dengan cara berselingkuh.

Tindakan ini dilakukan hanya sebagai upaya untuk melepaskan diri dari orang yang mereka cintai sebelum mereka terluka. Mereka percaya jika mereka sendiri yang mengendalikan perpisahan tersebut, mereka akan baik-baik saja.

Namun, cara berselingkuh agar ditinggalkan ini justru berdampak buruk. Perselingkuhan tersebut bisa merusak diri sendiri.

Psikolog Perrin Elisha mengatakan, “Orang dengan anxious attachment style cenderung terburu-buru dalam menjalin hubungan. Mereka bisa saja terikat pada seseorang yang kemudian baru disadari tidak cocok, atau masuk ke dalam hubungan tersebut dengan alasan yang salah. Ketika hal ini terjadi, konflik batin yang menyakitkan pun tak terhindarkan, dipenuhi kebingungan, keraguan pada diri sendiri, hingga siklus putus-nyambung yang terus memicu rasa cemas.”

4. Sering Cemas dan Depresi

perempuan yang fatherless sering berjuang melawan rasa cemas dan depresi. Kecemasan tersebut terjadi karena ketidakpastian dan depresi karena rasa sakitnya ditinggalkan.

Ilustrasi perempuan cemas/Foto: Magnific.com

Terakhir, Mitzi mengatakan bahwa perempuan yang mengalami fatherless sering berjuang melawan rasa cemas dan depresi. Kecemasan tersebut muncul karena ketidakpastian, sementara depresi disebabkan oleh rasa sakit karena ditinggalkan.

Keduanya terus dirasakan setiap hari. Meski telah menjalani pengobatan, kehadiran ayah yang datang dan pergi tetap membawa kecemasan emosional yang mendalam.

Thecuy, itulah beberapa kebiasaan perempuan dewasa yang mengalami fatherless menurut pelatih kehidupan. Bagaimana pendapatmu?

***

Apakah kamu ingin bergabung dengan Buzznesia Community di mana kamu bisa ikut berbagai acara online dan offline yang seru yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk semua, baik perempuan maupun laki-laki, dan kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, bergabunglah dengan Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

                <p>(ria/ria)</p>

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan