The Mayor is eagerly awaited at the Maulid!

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Ada yang lebih rumit dari mengoordinasikan jadwal pengajian di Tasikmalaya, Thecuy.com? Khususnya ketika yang dinanti tidak hanya para peserta dan penceramah, tetapi juga walikota.

Itulah kisah yang terungkap pada hari Rabu, 2 September 2026, di Masjid Agung Kota Tasikmalaya.

Para ibu yang rutin mengikuti pengajian Reboan telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Jadwalnya sudah ditandai di kalender, bukan dengan pensil tipis, tetapi dengan tanda yang tebal.

Kunjungan Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Ungkap Skandal Parkir dan Tender Kursi Ketua GAPENSI

Pakaian telah dipersiapkan, identitas kelompok pengajian telah ditentukan, katering telah dipesan, penceramah telah siap datang, dan panggung pun telah didirikan.

Bagian Kesra Pemerintah Kota Tasikmalaya juga telah menyusun rencana untuk acara tersebut. Semuanya telah diatur layaknya sebuah proyek yang hanya menunggu tombol “start” untuk dijalankan.

Kabarnya, persiapan telah mencapai sekitar 90 persen. Hanya 10 persen lagi yang tersisa. Namun, justru 10 persen sisa inilah yang menentukan segalanya.

Pada hari Selasa, 1 September, datang kabar bahwa acara yang dijadwalkan untuk hari Rabu dibatalkan. Pembatalan ini bukan disebabkan oleh hujan, pemadaman listrik, ketidakhadiran ustaz, atau renovasi mendadak di Masjid Agung.

Walikota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, harus menghadiri sebuah acara di Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta. Konon, hal ini terkait dengan persiapan peringatan HUT ke-25 Kota Tasikmalaya yang akan diselenggarakan pada tanggal 17 Oktober 2026.

Oleh karena itu, acara Maulid Nabi yang hampir siap diselenggarakan pun dipindahkan. Dari hari Rabu menjadi hari Jumat, tanggal 4 September. Di sinilah kisah ini menjadi menarik. Sebab mengubah tanggal di kalender memang mudah: coret tanggal 2, tulis tanggal 4, selesai.

Namun, katering tidak beroperasi seperti kalender. Ayam tidak bisa dihentikan pertumbuhannya hanya karena jadwal walikota berubah.

GUS KIKIN, Dari Tebuireng ke PBNU – Kebijakan yang Sering Kontroversial, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasikmalaya Perlu Dievaluasi

Nasi yang dimasak untuk hari Rabu pun tidak bisa disimpan hingga hari Jumat, kemudian disajikan dengan wajah penuh keyakinan. “Maaf, Bu. Ini adalah nasi Maulid untuk hari Rabu,” katanya. “Mengapa baru diberikan pada hari Jumat?” “Karena kami menunggu kehadiran walikota.” Hal ini sudah bukan lagi urusan katering, melainkan sejarah.

Panitia pun harus bangkit kembali. Mereka menghubungi kembali semua pihak yang terlibat. Mereka mengatur ulang jadwal penceramah, menyesuaikan pesanan katering, dan mengatur ulang daftar tamu. Bahkan, panggung yang telah terpasang tentu saja memiliki konsekuensi biaya.

Yang awalnya tinggal menyelesaikan acara, kini harus melakukan persiapan lagi. Di sinilah pertanyaan sederhana muncul: Apakah sebuah acara pemerintahan atau kegiatan yang melibatkan pemerintah harus ditunda hanya karena walikota tidak dapat hadir?

Baca juga berita lainnya di News Page Terimakasih sudah mengunjungi thecuy . 🙂

Tinggalkan Balasan