Para psikolog menyarankan agar orang tua mengucapkan kalimat ini ketika mengetahui anaknya berbohong.

anindya

By anindya

🌍 Translate this article:

Tanggapan sebagian orang tua ketika mengetahui anaknya berbohong bisa berupa kemarahan dan kekecewaan. Saat emosi melanda, orang tua mungkin mengucapkan kata-kata yang bisa menyakiti hati anak. Pernyataan seperti “Apakah kamu melakukan hal ini?” dapat membuat anak menjadi tertutup.

Setiap orang pasti pernah berbohong, dan banyak anak merasa perlu untuk tetap mempertahankan kebohongan mereka saat mereka merasa tertekan. Itulah mengapa orang tua memerlukan strategi yang tepat untuk mendorong anak agar mau terbuka dan bersikap jujur.

Para ahli psikologi menyatakan bahwa ada kalimat tertentu yang bisa dipakai orang tua ketika menyadari anaknya sedang berbohong. Mari kita simak penjelasannya, yang dirangkum dari Parade.


                                                                                                                                                                                            <section id="section-detail-2" class="multi-card " data-page="2" data-page-title="Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong" dtr-evt="halaman selanjutnya" dtr-sec="halaman selanjutnya" dtr-act="tombol halaman selanjutnya" dtr-id="323390" dtr-ttl="Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong" onclick="_pt(this)" readability="20.719374456994">
                            <h2 class="fw-bold fs-5">Psikolog menyarankan orang tua untuk mengucapkan kalimat ini ketika mengetahui anak berbohong</h2>
                            <div readability="7">
                                <img src="https://akcdn.detik.net.id/visual/2026/08/24/psikolog-sarankan-orang-tua-ucapkan-kalimat-ini-saat-tahu-anak-sedang-berbohong-1787552987641.jpeg?w=700&q=90" alt="Terkadang orang tua ragu apakah anaknya berkata jujur atau berbohong. Dr. Tamir Aldad, seorang psikiater klinis bersertifikat, merekomendasikan kalimat berikut: Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung dari kamu"/>
                                <p>Psikolog menyarankan orang tua untuk menggunakan kalimat ini saat mengetahui anak berbohong/Foto: Pexels.com</p>
                            </div>
                            <p>Terkadang orang tua merasa ragu apakah anaknya berkata jujur atau berbohong. Dalam situasi seperti ini, Dr. Tamir Aldad, seorang psikiater klinis bersertifikat, merekomendasikan kalimat berikut: Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung dari kamu.</p>

“Pendekatan ini terbukti efektif karena menghilangkan kesan menjebak dalam situasi tersebut,” kata Dr. Aldad, yang menjabat sebagai CEO klinik kesehatan mental Mindful Care.

Kata-kata ini tidak terkesan menghakimi anak, melainkan mengajak anak untuk bersikap terbuka dan jujur.

“Perubahan cara pandang ini jauh lebih penting daripada yang disadari banyak orang karena mengubah tuntutan yang diajukan kepada anak. Mereka tidak lagi dipaksa memilih antara mengakui atau menyangkal. Sebaliknya, mereka diberi kesempatan untuk berkata jujur kepada seseorang yang sudah mengetahui fakta sebenarnya,” ujarnya.

Jangan Menggunakan Kalimat Ini Saat Tahu Anak Berbohong

Terkadang orang tua ragu apakah anaknya berkata jujur atau berbohong. Dr. Tamir Aldad, seorang psikiater klinis bersertifikat, merekomendasikan kalimat berikut: Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung dari kamu

Psikolog menyarankan orang tua untuk menggunakan kalimat ini saat mengetahui anak berbohong/Foto: Pexels.com

Ketika mengetahui anak berbohong, orang tua sering merasa ingin langsung bertanya, “Apakah kamu yang melakukan hal ini?” Namun, Dr. Jenny Yip, seorang psikolog klinis bersertifikat, mengatakan bahwa pertanyaan seperti itu bisa terasa seperti menjebak.

“Anak-anak dengan cepat dapat mengetahui bahwa pertanyaan ini bukan didorong oleh rasa ingin tahu yang tulus, melainkan sebagai bentuk ujian. Begitu mereka merasa sedang diuji, perhatian mereka beralih dari kejujuran ke mencari jalan keluar dari situasi tersebut,” kata Dr. Yip, penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts.

Seiring dengan perkembangan otak anak, mereka belajar mengendalikan dorongan impulsif, mengatur emosi, dan memikirkan masa depan. Ancaman bahaya, baik itu hukuman, kekecewaan, maupun terjauhnya kedekatan hubungan, dapat memicu perubahan dalam perilaku anak.

“Bagian otak yang berfungsi untuk bertahan hidup sering kali mengambil alih kendali sebelum bagian otak yang berfungsi untuk berpikir sempat bekerja,” catatnya. “Daripada mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah Anda ketahui, sampaikanlah apa yang Anda amati. Misalnya: ‘Ibu/Ayah melihat lampunya pecah. Tolong bantu Ibu/Ayah mengerti apa yang terjadi.’ Pendekatan ini mendorong mereka untuk memberikan penjelasan, bukan justru memancing penyangkalan.”

Dr. Aldad menambahkan bahwa anak-anak secara alami cenderung menghindari ancaman jangka pendek daripada memikirkan konsekuensi jangka panjang. Sebagian besar anak akan berbohong ketika dihadapkan pada pertanyaan yang bersifat menjebak seperti itu.

“Dan dampak ini semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Perlahan-lahan, anak mulai merasa seolah-olah mereka sedang dijebak, bukan diajak untuk bersikap jujur; hal ini mengikis kepercayaan dalam hubungan yang sebenarnya ingin Anda jaga,” ungkapnya.

***

Bertindak sebagai bagian dari Buzznesia Community, di mana kamu dapat mengikuti berbagai acara online dan offline yang menarik yang diselenggarakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

                <p>(naq/naq)</p>

terimakasih sudah mengunjungi thecuy. 🙂

Tinggalkan Balasan