Perselisihan antara pedagang warungan di Dadaha meningkat menjadi ledakan, sehingga kepolisian mengerahkan regu penjinak bom.

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

TASIKMALAYA, Thecuy.com — Sebuah perselisihan antar Pedagang Kaki Lima (PKL) di Dadaha telah berkembang menjadi kasus serius. Kepolisian Jawa Barat pun menurunkan Penjinak Bom (Jibom) Gegana dari Brimob, Minggu (12/7/2026).

Informasi yang dikumpulkan Radar, kasus ini bermula pada Sabtu malam (11/7/2026) sekitar pukul 23.00 WIB ketika terjadi konflik antar PKL. Tanpa diduga, permasalahan tersebut berujung pada ledakan yang mengejutkan warga sekitar.

Ledakan terjadi di lokasi kotak meteran listrik yang terpasang pada salah satu tiang lampu taman.

Rumah penjual es teh di Cilembang digeledah Densus 88, RW menyebut polisi menyita senjata api dan buku. Penggeledahan Densus 88 bermula dari ledakan di Dadaha, berikut kronologi lengkapnya!

Akibat kejadian tersebut, polisi langsung memasang garis polisi (police line) di lokasi. Mengingat kasus ini melibatkan bahan peledak, Tim penjinak bom Gegana Brimob pun diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian.

Sementara itu, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggeledah sebuah rumah kontrakan di kawasan Gunung Koneng, Jalan Bebedilan, RT 01 RW 12, Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Minggu (12/7/2026) sore.

Penggeledahan yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu berlangsung selama beberapa jam dan menjadi perhatian warga sekitar.

Beberapa personel Densus 88 tampak memeriksa seluruh ruangan rumah kontrakan bercat putih tersebut, sementara lokasi dijaga ketat aparat keamanan.

Sebelum penggeledahan dilakukan, petugas lebih dahulu mengamankan seorang pria yang menghuni rumah tersebut sekitar pukul 13.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Ketua RT 01 RW 12 Gunung Koneng, H. Ade Mumu, mengaku tidak mengetahui latar belakang penghuni kontrakan tersebut. Menurutnya, pria itu baru sekitar dua bulan tinggal di lingkungan tersebut.

“Yang bersangkutan mengaku hanya mengontrak sementara sambil menunggu rumah yang sedang dibangun selesai. Istrinya merupakan warga asli Cilembang dan sehari-hari berdagang di pasar,” ujar Ade.

Bupati Eksekutor! Ketika Babi dan Kera Masuk Pidato!

Ia mengatakan selama tinggal di lingkungan itu, terduga dikenal sebagai pedagang yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga.

“Kalau pulang berdagang langsung masuk rumah. Orangnya jarang bersosialisasi, sehingga kami tidak mengetahui aktivitasnya secara detail,” katanya.

Saat proses penggeledahan berlangsung, Ade melihat petugas mengamankan sejumlah barang dari dalam rumah.

“Yang saya lihat ada senapan angin jenis mimis dan sebilah belati. Barang-barang lainnya saya tidak mengetahui karena itu sudah menjadi kewenangan penyidik,” ungkapnya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan