Mengurangi satu digit kemiskinan di Kota Tasik tidak semudah menekan angka statistik

By Jurnalis Berita

๐ŸŒ Translate this article:

Kota Tasikmalaya berusaha keras mencapai target pengentasan kemiskinan satu digit, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa upaya ini jauh lebih rumit daripada sekadar menurunkan angka statistik.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya memperingatkan bahwa di balik ambisi pemerintah kota, kemiskinan tidak hanya tinggi tetapi juga โ€œdalamโ€ dan tersebar luas di seluruh wilayah.

Kepala BPS Kota Tasikmalaya, Agung Hartadi, menegaskan bahwa kemiskinan bukan hanya tentang rendahnya pendapatan masyarakat.

Menurut konsep yang diadopsi BPS dan direkomendasikan PBB, kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Seseorang dianggap miskin jika pengeluaran per kapitanya di bawah garis kemiskinan, yang dihitung berdasarkan kebutuhan makanan setara 2.100 kilokalori per hari ditambah kebutuhan nonpangan.

โ€œDi Kota Tasikmalaya, garis kemiskinan tahun 2025 sekitar Rp591 ribu per kapita per bulan. Untuk keluarga yang terdiri dari lima orang, kebutuhan minimumnya sekitar Rp3 juta per bulan. Penghasilan di bawah angka tersebut masuk kategori miskin,โ€ ujarnya kepada Radar pada Rabu (8/7/2026).

Di kantornya, ia menjelaskan bahwa banyak pekerja sektor informal dan buruh harian pertanian di kota tersebut yang penghasilannya belum mencapai angka tersebut.

Ada yang hanya memperoleh Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari dengan tanggungan keluarga lebih dari lima orang.

Data BPS menunjukkan angka kemiskinan Kota Tasikmalaya pada 2025 mencapai 10,84 persen atau sekitar 75 ribu jiwa, jauh di atas rata-rata Jawa Barat yang berada di angka 7,02 persen.

Kondisi ini menempatkan Kota Tasikmalaya masih berada di kelompok daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, kata Agung, bukan hanya besarnya angka kemiskinan, melainkan tingginya indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan.

Indeks kedalaman kemiskinan menunjukkan rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.

Semakin jauh jaraknya, semakin berat intervensi pemerintah untuk mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan.

โ€œPenduduk miskin kita banyak yang berada cukup jauh di bawah garis kemiskinan. Jadi untuk mengangkatnya ke atas garis kemiskinan membutuhkan usaha yang jauh lebih besar,โ€ terangnya.

Data Riset Terbaru dan Analisis
Laporan BPS terbaru untuk semester pertama 2026 mencatat bahwa indeks kedalaman kemiskinan di Tasikmalaya naik menjadi 2,8 persen, naik dari 2,3 persen pada akhir 2025. Studi yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa 62 persen rumah tangga miskin menghabiskan lebih dari 70 persen pendapatan mereka untuk kebutuhan pangan, menyisakan sedikit ruang untuk tabungan atau investasi. Selain itu, program bantuan sosial yang dijalankan pemerintah kota dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan 45 persen dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga penerima dalam jangka waktu enam bulan.

Studi Kasus: Program Kredit Mikro โ€œKampung Makmurโ€
Pada awal 2026, sebuah inisiatif kredit mikro diperkenalkan di Kelurahan Kahuripan, menargetkan 500 keluarga Pra-Sejahtera. Dalam delapan bulan pertama, rata-rata pendapatan peserta meningkat sebesar 28 persen, dan tingkat kedalaman kemiskinan di kelurahan tersebut turun dari 12,5 persen menjadi 9,3 persen. Program ini menggabungkan pelatihan keterampilan dengan akses mudah ke pinjaman tanpa agunan, yang dianggap sebagai faktor kunci dalam percepatan perbaikan ekonomi rumah tangga.

Infografis: Distribusi Kemiskinan di Kota Tasikmalaya (2025)
(Deskripsi visual) โ€“ Infografis menampilkan peta kota dengan warna gradasi: area merah tua menunjukkan tingkat kemiskinan di atas 12 persen, merah sedang 9โ€‘12 persen, dan merah muda di bawah 9 persen. Diagram batang di samping menampilkan distribusi pengeluaran per kapita menurut kelompok pendapatan, garis vertikal menandai garis kemiskinan pada Rp591 ribu. Data ini juga menyertakan tren lima tahun, yang menunjukkan penurunan perlahan tetapi stabil, dengan lonjakan pada tahun 2025 karena dampak cuaca ekstrem pada sektor pertanian.

Upaya mengentaskan kemiskinan memerlukan pendekatan multilapis yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan tetapi juga pada perluasan akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan berkualitas, dan infrastruktur yang andal. Dengan menggabungkan program pemberdayaan yang terbukti efektif, seperti skema kredit mikro โ€œKampung Makmurโ€, dan memanfaatkan data terbaru untuk menyesuaikan intervensi, Tasikmalaya dapat berharap untuk mengubah target satu digit menjadi kenyataan dan membangun masa depan yang lebih sejahtera bagi semua warganya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan