Manajemen Misteri Jelang Kursi Terisi

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

Besok pagi, tiga lowongan akan terisi: posisi Kepala Pelaksana BPBD, Kepala Dinas Sosial, dan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A).

Kalau tidak berubah, pada Jumat pagi, 10/7/2026, Gedung Creative Centre (GCC) Dadaha akan menjadi tempat pelantikan dua pejabat eselon II Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Dulu, menjelang pelantikan kepala dinas, masyarakat sibuk menebak: siapa yang naik pangkat, siapa yang turun, siapa yang paling dekat, siapa yang paling berpengaruh. Kini suasana terasa berbeda.

  • Kepemimpinan Baru MA PSM Pangandaran Sudah Ditetapkan, Siap Bersinergi dan Semakin Maju (https://radartasik.id/2026/07/09/kepemimpinan-baru-ma-psm-pangandaran-sudah-ditetapkan-siap-bersinergi-dan-semakin-maju/)
  • Setoran Ilegal Parkir Lebih Besar dari yang Resmi! Rekanan Keluhkan Soal Oknum (https://radartasik.id/2026/07/09/setoran-ilegal-parkir-lebih-besar-dari-yang-resmi-rekanan-keluhkan-soal-oknum/)

Saat ini orang mulai kehilangan rasa ingin tahu, bukan karena birokrasi menjadi lebih transparan, melainkan karena hasil akhir terasa terlalu mudah ditebak.

Yang berubah hanya nama; polanya tetap sama, ritualnya sama, seremoninya sama, pidatonya sama, bahkan kalimat yang diucapkan hampir selalu identik.

“Pejabat yang dilantik agar bekerja profesional, berintegritas, dan melayani masyarakat.” Sayangnya, yang sering tidak ikut dilantik adalah hasil kerjanya.

Masalah terbesar birokrasi kita bukanlah kekurangan pejabat, melainkan kekurangan kejutan; pengisian jabatan sudah terlalu lama menjadi peristiwa administratif.

Masyarakat menunggu peristiwa perubahan, tetapi perdebatan sejak awal selalu berfokus pada siapa yang akan duduk di kursi tersebut, padahal seharusnya yang dibahas adalah siapa yang paling layak.

Siapa yang memiliki rekam jejak, siapa yang berhasil memperbaiki unit kerja sebelumnya, siapa yang mampu membawa inovasi, siapa yang mampu menghemat anggaran, dan siapa yang mampu meningkatkan pelayanan.

Bukan siapa yang paling sering disebut di lorong‑lorong kantor, karena birokrasi bukanlah perlombaan popularitas; ia adalah perlombaan menghasilkan manfaat.

  • King Cobra Masuk Pemukiman di Pangandaran, Takluk di Tangan Petugas Damkar (https://radartasik.id/2026/07/06/king-cobra-masuk-pemukiman-di-pangandaran-takluk-di-tangan-petugas-damkar/)
  • Kas Daerah Bermasalah, Pencairan Hibah Jadi Susah, Organisasi Kena Getah (https://radartasik.id/2026/06/29/kas-daerah-bermasalah-pencairan-hibah-jadi-susah-organisasi-kena-getah/)

Nama-nama yang beredar sudah diketahui publik: Budi Martanova, Boedi Santoso, Ahmad Suparman, Suryaningsih, Nanang Suhara, Hildat Darojat, Iman Budiman, Rahman, dan Gatot Setyobudi.

Semua disebut masuk dalam skema manajemen talenta yang modern dan canggih, tetapi prosesnya masih terasa seperti kotak hitam; publik hanya melihat hasilnya, tidak pernah diajak memahami kriteria yang digunakan.

Jika sistem manajemen talenta benar‑benar diterapkan, mengapa indikator kinerja, ukuran keberhasilan, skor kompetensi, keunggulan masing‑masing kandidat, dan alasan pemilihan disembunyikan dari masyarakat?

The upcoming appointments mark a pivotal moment for Tasikmalaya’s governance, offering a chance to shift from predictable cycles to genuine merit‑based leadership. Let us hope the new officials deliver real change, transparency, and service that reflect the community’s aspirations. We encourage citizens to stay engaged, ask tough questions, and hold leaders accountable to the promises made during the ceremony.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan