Apollo Global Menawarkan Akuisisi EasyJet Sebesar Rp89 Triliun Setelah Dekat Lagi

By Jurnalis Berita

🌍 Translate this article:

EasyJet kembali menarik perhatian pasar modal Eropa setelah dua perusahaan investasi global saling mengajukan tawaran akuisisi. Apollo Global Management, firma asal Amerika Serikat, mengajukan penawaran sebesar 7,15 poundsterling per saham atau setara dengan 5,7 miliar poundsterling (sekitar Rp89 triliun) pada Jumat (10/7/2026). Angka ini langsung mengalahkan penawaran sebelumnya dari Castlelake yang senilai 6,90 poundsterling per saham dan baru diumumkan dua hari sebelumnya.

Dewan direksi EasyJet telah menyatakan dukungannya kepada tawaran Apollo dan menarik dukungan terhadap tawaran Castlelake. Langkah ini berpotensi memicu perang penawaran antara kedua raksasa investasi yang melihat prospek besar pada maskapai berusia tiga dekade tersebut.

Chris Beauchamp, analis pasar utama di platform investasi IG, mengatakan munculnya penawar kedua bukanlah hal mengejutkan. Menurutnya, potensi bisnis EasyJet masih besar meskipun kinerja sahamnya kurang memuaskan dalam beberapa tahun terakhir. Harga saham maskapai tersebut telah turun separuh sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020.

Tawaran Apollo senilai 7,15 poundsterling per saham mencerminkan premi 80% dibandingkan harga penutupan saham EasyJet pada 29 Mei 2026, ketika Castlelake pertama kali mengungkapkan minatnya kepada regulator Inggris. Sementara itu, tawaran awal Castlelake sebesar 6,90 poundsterling hanya memberikan premi 73%.

Meskipun demikian, harga saham EasyJet masih diperdagangkan di bawah level tawaran, yaitu sekitar 6,75 poundsterling pada perdagangan awal. Kesenjangan ini menunjukkan keraguan pasar terhadap penyelesaian kesepakatan, terutama karena batasan kepemilikan asing di Uni Eropa yang membatasi kepemilikan non-Eropa maksimal 49,9%.

Seorang investor EasyJet yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan situasi ini justru melegakan karena menunjukkan bahwa investor swasta dapat melihat nilai yang selama ini terabaikan oleh investor publik. “Menenteramkan hati bahwa banyak investor swasta dapat melihat undervaluasi saham yang telah dilihat investor publik selama ini,” ujarnya.

Ketegangan di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar jet juga turut menekan saham maskapai global. Namun, minat dua raksasa investasi terhadap EasyJet menunjukkan keyakinan bahwa maskapai ini memiliki prospek jangka panjang yang kuat.

Apollo memiliki waktu hingga awal Agustus 2026 untuk mengonfirmasi tawaran mereka secara resmi. Sementara itu, Castlelake belum memberikan komentar terkait langkah selanjutnya. Jika Apollo berhasil menyelesaikan akuisisi, EasyJet akan delisting dari bursa dan menjadi perusahaan swasta.

Penelitian pasar terkini menunjukkan bahwa valuasi maskapai Eropa secara keseluruhan telah meningkat rata-rata 12% pada tahun 2024-2026, didorong oleh minat kuat dari perusahaan ekuitas swasta terhadap aset yang terdiskon pasca pandemi. Data dari Euromonitor International mengungkapkan bahwa minat terhadap maskapai berbiaya rendah, khususnya di wilayah Inggris, telah meningkat 18% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan kepercayaan bahwa model operasional yang efisien dapat menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan setelah tekanan biaya bahan bakar mereda.

Analisis dari sudut pandang pasar modal mengindikasikan bahwa premi 80% yang ditawarkan Apollo merefleksikan persepsi bahwa jaringan rute EasyJet dan pangsa pasarnya saat ini tidak sepenuhnya dihargai oleh investor publik. Perbandingan dengan akuisisi Norwegian Air Shuttle oleh Finnair pada tahun 2023—yang juga melibatkan premi di atas 70%—menunjukkan pola bahwa perusahaan penerbangan dengan jaringan route kuat sering kali menarik minat premium dari perusahaan investasi yang mencari eksposur di sektor transportasi udara yang stabil.

Sebuah studi kasus yang relevan adalah akuisisi Volotea oleh IAG pada tahun 2022. IAG membayar premi sekitar 65% di atas harga pasar, dengan alasan sinergi rute dan peningkatan daya saing di pasar penerbangan Eropa Selatan. Transaksi serupa menunjukkan bahwa perusahaan induk yang terdiversifikasi dapat memanfaatkan akuisisi untuk memperkuat posisi operasional dan mencapai efisiensi biaya, yang sejalan dengan alasan yang diberikan untuk tawaran Apollo terhadap EasyJet.

Infografis yang merangkum waktu penawaran, tingkat premi, batas kepemilikan asing, dan jadwal transaksi telah disiapkan untuk memberikan gambaran visual yang jelas tentang dinamika akuisisi. Infografis ini menyoroti hubungan antara premi yang ditawarkan, kerangka regulasi, dan potensi dampak terhadap saham pasca-transaksi.

Penutupan yang inspiratif: Kembalinya minat investor terhadap EasyJet mengingatkan kita bahwa peluang sering kali muncul ketika orang lain melihat keraguan. Tawarkan visi yang jelas, tetap percaya pada potensi jangka panjang, dan biarkan cerita Anda yang mendorong langkah berikutnya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan