Diky Candra Berharap Sejarah Perempuan-perempuan Hebat dari Tasikmalaya Dikenal Generasi Muda

By Jurnalis Berita

๐ŸŒ Translate this article:

Organisasi perempuan Pasundan Istri di Kota Tasikmalaya menegaskan bahwa mereka terus beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah. Semangat pengabdian yang telah bertahan selama lebih dari sembilan dekade dianggap sebagai contoh bahwa pelayanan masyarakat tidak harus menunggu dukungan anggaran.

Pernyataan tersebut disampaikan saat pelantikan Pengurus Daerah Pasundan Istri Kota Tasikmalaya untuk masa jabatan 2026โ€“2031 di Bale Binangkit Hotel Mandalawangi pada hari Selasa (7/7/2026). Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, menyatakan bahwa Pasundan Istri dikenal sebagai organisasi yang mampu mengelola kegiatannya sendiri tanpa bantuan eksternal.

Menurutnya, organisasi tersebut tidak pernah menjadikan bantuan pemerintah sebagai syarat untuk terus bergerak. โ€œKalaupun ada bantuan dari pemerintah tentu mereka siap menerima. Tetapi kalau tidak ada pun mereka tetap berjalan. Itu yang paling utama. Mereka ingin menjadi contoh bahwa berbuat untuk masyarakat tidak harus selalu meminta kepada pemerintah,โ€ ujarnya.

Diky mengaku belum mengetahui secara pasti apakah selama ini Pasundan Istri pernah menerima bantuan keuangan dari pemerintah daerah. Namun, ia melihat bahwa organisasi tersebut tetap eksis dan konsisten menjalankan berbagai kegiatan sosial maupun pelestarian budaya.

Menurut Diky, urusan dukungan anggaran berada pada kewenangan kepala daerah sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Ia menyebut aspirasi tersebut nantinya dapat diperjuangkan melalui jalur yang sesuai.

Di sisi lain, Diky mengingatkan pentingnya mengangkat kembali sejarah perempuan-perempuan hebat asal Tasikmalaya yang belum banyak dikenal generasi muda. Salah satunya adalah Raden Ayu Rasmini Rat, tokoh perempuan intelektual yang lahir sekitar tiga dekade sebelum R.A. Kartini.

Ia menyebut Raden Ayu Rasmini Rat pernah menulis buku Carita Erman Warnasari jilid 1 dan 2 yang pada masanya mampu terjual hingga sekitar 6.000โ€“7.000 eksemplar. Kiprah tersebut menjadi bukti bahwa Kota Tasikmalaya memiliki sosok perempuan pelopor literasi yang layak mendapat perhatian lebih luas.

โ€œSeharusnya beliau juga tercatat sebagai pahlawan nasional, khususnya pahlawan perempuan intelektual. Kota Tasikmalaya memiliki sejarah yang luar biasa dan jangan sampai terlupakan,โ€ katanya. Diky menambahkan, pelestarian budaya Sunda menjadi pekerjaan rumah bersama.

Data Riset Terbaru: Sebuah survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan tahun 2024 menunjukkan bahwa 68โ€ฏ% organisasi perempuan di Jawa Barat beroperasi tanpa pendanaan pemerintah, mengadopsi model kemandirian yang dipraktikkan Pasundan Istri. Analisis ini menyoroti potensi replikasi pendekatan tersebut di wilayah lain untuk memperkuat keberlanjutan program sosial.

Mari terus inspirasikan generasi muda dengan kisah perjuangan mereka yang tak kenal lelah. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini membangun fondasi kuat bagi masa depan yang lebih cerah dan berdaya. Bersama, kita bisa mewujudkan perubahan positif yang berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan