Sistem SimarTradisional Dikenai Sebagai Media Belajar Matematika yang Menyenangkan di Sekolah Dasar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Pelatihan penguatan kompetensi guru sekolah dasar melalui Permainan Tradisional Simar dimulai pada Jumat, 8 Mei 2026, di Komplek SDN Gunungpereng, Tasikmalaya. Aktivitas ini melibatkan 30 guru dari tiga SDN di daerah tersebut, serta 12 mahasiswa S2 PGSD UPI Kampus Tasikmalaya. Pembelajaran matematika melalui game ini dirancang untuk lebih konkret, kontekstual, dan menyenangkan.

Prof. Dr. Karlimah, M.Pd., menjadi pemateri utama, disiplin timnya terdiri dari Dr. Ika Fitri Apriani, Dindin Abdul Muiz Lidinillah, dan lainnya. Kegiatan didanai melalui Hibah UPI Batch 2 Skema PKM Bidang Ilmu dengan nomor kontrak 336/UN40.F7/AM.02.01/2026.

Dr. Irvan Kristian, Kepala SDN 1 Gunungpereng, mengakui pengaruh positif pelatihan ini. Ia menekankan bahwa Simar membantu guru merancang pembelajaran kreatif sambil memperkenalkan budaya lokal. Prof. Karlimah menjelaskan bahwa permainan ini mengintegrasikan konsep operasi hitung campuran dengan aktivitas langsung, sehingga lebih mudah dipahami.

Permainan Simar menggunakan biji-bijian dengan nilai poin bervariasi: sirsak (1 poin), asam (5 poin), sawo (10 poin), peundeuy (50 poin), dan tanjung (100 poin). Pendekatan ini mengkombinasikan budaya Sunda dengan pembelajaran matematika.

Tetapi, aplikasi Simar dalam pendidikan masih perlu dioptimalkan. Studi menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan game tradisional menunjukkan peningkatan 25% dalam pemahaman konsep matematika dibanding dengan metode konvensional. Case study di daerah lain menguji efektivitas Simar pada siswa muda, dengan hasil positif dalam keterlibatan dan kreativitas.

Infografis menunjukkan strukturen bermain Simar, menggambarkan pengaitan antara nilai poin dan strategi pertaruhan. Mengeksteran ini bisa menjadi referensi untuk pengembangan media pembelajaran lokal.

Pembelajaran matematika melalui_game_tradisional_berbasis_budaya_terutamanya_menjadi_solusi_mengatasi_keterbatasan_metode_konvensional. Guru yang belajar menggunakan Simar bisa menawarkan pengalaman unik bagi siswa, menjadikannya sarana pengabdian budaya sambil meningkatkan prestasi akademik.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan