Tasikmalaya Mungkin Jadi Kota Terkotor se-ASEAN Karena Sampah Terus Menggunung

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya menghadapi penumpukan sampah yang semakin mengacaukan di jalan raya, hal ini menggugah kritik tajam dari Pemerhati Masalah Sosial Ade Ruhimat. Ia mempertanyakan pendekatan pemerintah yang terasa lurus dan tidak berinovasi, padahal kondisi sampah sudah berkembang menjadi ancaman kesehatan. “Ini bukan masalah rutin yang bisa dilewatkan,” kata Ade, menambahkan bahwa penumpukan sampah di Tasikmalaya sudah menjadi kontras dengan kebersihan di daerah tetangga seperti Ciamis yang sukses meraih predikat ASEAN.

Ada dua faktor utama yang diungkapkan dalam kritiknya: kelembapan pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta jumlah kenderaan truk pengangkut yang terpinggirian. Konsekuensinya, sampah tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan masyarakat. Ade menyarankan untuk belajar dari pengalaman di luar daerah, terutama di Ciamis, yang telah berhasil mengelola sampah modern dengan strategi yang lebih efektif. Namun, ia juga menyadari bahwa Tasikmalaya masih terpinggirian dalam berdiskusi atau studi banding yang berkelanjutan dengan daerah tersebut.

Sebagai solusi, Ade menawarkan konsep pengolahan sampah berbasis teknologi seperti penggunaan sampah untuk menghasilkan bioetanol atau Dimetil Ether (DME) sebagai alternatif bahan bakar. Selain itu, konsep Refuse Derived Fuel (RDF) juga diungkapkan, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk PLTU atau industri semen. Meskipun ide-ide ini dulu tidak mendapat respon serius, Ade tetap mengajak pemerintah untuk mengembangkan sistem profesional melalui pembentukan BUMD khusus atau kolaborasi dengan pihak ketiga.

Kerapatan sampah tidak boleh diabaikan karena dampaknya bisa meluas hingga mengganggu citra kota. Iaji meminta segera mengimplementasikan pendekatan berinovasi dan berorientasi bisnis, agar Tasikmalaya bisa menjadi contoh kecleanan yang bisa dicintai di Indonesia. Solusi ini memerlukan komitmen sepenuhnya dari pemerintah, serta participasi yang lebih aktif dari masyarakat dan pihak ketiga untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan