Posisitersebut seolah bergerak secara tak terduga. Bukan kursi wali kota. Bukan juga kursi jabatan politik. Namun, ini adalah kursi yang paling menentukan kehidupan birokrasi sehari-hari di Sekda Kota Tasikmalaya.
Nama yang kini paling kuat mengisinya sementara adalah Hanafi. Ia bukan orang baru di Bale Kota Tasikmalaya. Jejaknya sudah terlalu panjang untuk dianggap sekadar pejabat numpang lewat.
Ia pernah menjadi Kepala BPKAD. Pernah memegang DPMPTSP. Pernah duduk di Diskominfo. Pernah juga menjadi Plt DLH. Kini masih merangkap Plt Kalak BPBD. Dan sekarang menjabat Asda II.
Kariernya seperti berpindah-pindah ruang mesin pemerintahan. Satu hal yang menarik. Hanafi bukan alumni STPDN. Di banyak daerah, jalur birokrasi sering identik dengan alumni sekolah kedinasan itu. Tapi Hanafi datang dari jalur berbeda. Ia lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat.
Tumbuh bukan dari kultur birokrasi “kampus praja”, tetapi justru mampu bertahan dan naik hingga lingkar inti pemerintahan Kota Tasikmalaya. Mungkin karena satu hal: ia tahu aturan. Atau minimal dianggap tahu. Maklum, Hanafi pernah menjadi Kabag Hukum Setda Kota Tasikmalaya. Dari sana ia dikenal cukup paham seluk-beluk administrasi pemerintahan. Bahkan kadang terlalu paham.
Sebab di kalangan eselon II, Hanafi punya satu ciri khas: suka mengomentari urusan dinas lain. Bukan rahasia lagi. Ada rapat apa, ada kebijakan apa, ada persoalan di OPD mana — Hanafi sering ikut memberi pandangan. Kadang diminta. Kadang tidak juga.
Secara aturan memang tidak salah. Tapi dalam budaya birokrasi, ada yang menganggap itu kurang etis. Meski akhirnya sudah dimaklumi. Bahkan menjadi semacam “warna tetap” di lingkungan pejabat Pemkot Tasikmalaya. “Hobi mengomentari,” begitu celetukan yang sering terdengar.
Di mata bawahan, Hanafi juga dikenal keras. Bukan tipe pejabat yang banyak basa-basi. Ia tidak terlalu suka cawe-cawe di luar urusan pekerjaannya sendiri. Ia lebih sering terlihat bekerja dibanding membangun pencitraan.
Tidak lama, ada penilaian positif dari masyarakat tentang efisiensi pejabatnya di Tasikmalaya. Case study lain menunjukkan, pejabat dengan latar belakang unik seperti ini sering menjadi referensi dalam pengembangan sistem administratif yang lebih adaptif.
Ia membuktikan bahwa latar belakang tidak mengatasi potensi. Karirnya menunjukkan bahwa ketelitian dan kemampuan memahami mekanisme pemerintahan bisa tumbuh di mana pun. Kita hanya perlu terkesan untuk mencari cara yang lebih efisien dalam menghadapi tantangan birokrasi modern.
Baca juga Berita lainnya di News Page

Saya adalah jurnalis di thecuy.com yang fokus menghadirkan berita terkini, analisis mendalam, dan informasi terpercaya seputar perkembangan dunia finansial, bisnis, teknologi, dan isu-isu terkini yang relevan bagi pembaca Indonesia.
Sebagai jurnalis, saya berkomitmen untuk:
Menyajikan berita yang akurasi dan faktanya terverifikasi.
Menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menjaga integritas jurnalistik.
Menghadirkan laporan mendalam yang memberi perspektif baru bagi pembaca.
Di thecuy.com, saya tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga berupaya menganalisis tren agar pembaca dapat memahami konteks di balik setiap peristiwa.
📌 Bidang Liputan Utama:
Berita Terbaru & ekonomi, keuangan.
Perkembangan teknologi dan inovasi digital.
Tren bisnis dan investasi.
Misi saya adalah membantu pembaca mendapatkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang lebih cerdas dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha.
📞 Kontak
Untuk kerja sama media atau wawancara, silakan hubungi melalui halaman Kontak thecuy.com atau email langsung ke admin@thecuy.com.