Ancaman Penutupan Prodi Kependidikan, Dirasakan Ketua PGM: Kebijakan yang Tergesa

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Tasikmalaya, Radartasik.ID – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyarankan penutupan beberapa program studi yang dianggap tidak lagi sesuai kebutuhan masa depan. Keputusan ini memicu kekhawatiran di kalangan akademisi.

Asep Rizal Asy’ari, Kepala PW Persatuan Guru Madrasah (PGM) Jawa Barat, meminta pemerintah tidak melakukannya dengan cepat. Ia mengargasikan, pendekatan “tutup segera” tanpa perencanaan jelas bisa memicu masalah baru di sektor pendidikan.

Penutupan prodi kependidikan tidak hanya berhubung pada relevansi industri. Ini terkait dengan masa depan kualitas pendidikan nasional. Jika dilakukan salah, fondasi pendidikan bisa mengalami kerusakan. Asep mengajukan pendapat bahwa prodi kependidikan memiliki peran penting dalam memproduksi tenaga pendidik, yang menjadi dasar pembangunan manusia.

Mereka mengingatkan pemerintah bahwa pasar kerja sering berubah arahnya dalam jangka pendek. Daripada menutup, lebih baik mengecek perluannya secara komprehensif. Pemerintah diusulkan untuk membuat cartografi kebutuhan pendidikan dan tenaga kerja secara lengkap. Dengan peta yang jelas, kebijakan bisa lebih akurat—menentukan prodi yang perlu diperkuat, direvitalisasi, atau dikembangkan dengan metode baru.

Kampus juga diintan untuk tidak hanya menunggu keputusan dari pusat. Mereka dihadapkan pada permintaan untuk berinovasi dan memperbarui kurikulum sesuai perkembangan teknologi. Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dianggap kunci. Tanpa sinergi yang kuat dan berbasis data, kebijakan pendidikan berisiko kehilangan arahnya.

Data terkini menunjukkan 30% prodi kependidikan di Indonesia sedang dipertimbangkan untuk ditutup, sesuai laporan 2026. Contohnya, prodi pemasangan elektronik di beberapa universitas mulai diadaptasi dengan kebutuhan industri 4.0. Program ini berhasil meningkatkan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan tren digital.

Sebagai contoh, kampus di Jawa Timur mempelajari transformasi kurikulum dengan fokus pada soft skill dan teknologi. Hasilnya menunjukkan peningkatan kualitas lulusan dan kesuksesan mereka di pasaran kerja.

Beberapa kampus juga mengembangkan program hibrid yang menggabungkan pengetahuan teoretis dengan praktik industri. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami aplikasi langsung dari prodi mereka.

Mengajukan kebijakan yang berbasis data dan kolaborasi bisa menjaga pendidikan tetap relevan dan berkelanjutan. Memastikan generasi mendatang tidak terpengaruh oleh perubahan cepat, tapi tetap memiliki fondasi kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan