Seniman Korea Buka Mata di Kota Tasikmalaya: Seni Alam Tanpa Seremonial

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Kota Tasikmalaya kembali menjadi tujuan bagi tamu, bukan pejabat yang mengajak dengan kata-kata panjang, melainkan seniman yang memilih diam dan memahami alam. Kegadaran Kang Hee Jon, seniman dari Korea Selatan, di Galeri Buleud Komunitas Cermin Tasikmalaya pada Rabu (1/3/2026), membawa pesan sederhana: seni tidak perlu besar untuk memiliki makna.

Dengan lebih dari empat dekade, Kang Hee Jon telah menguasai seni nature art—praktik seni yang berbasis alam dan diinspirasi dari hal-hal kecil yang sering ketinggalan perhatian. Sebelum ke Tasikmalaya, ia telah “bertapa visual” selama sebulan di Yogyakarta, mengejar suasana, tekstur lingkungan, serta kemungkinan baru dari bahan lokal.

Karya-karya ini bukan hasil dari bahan mahal, tetapi dari ranting, daun, hingga interaksi alami sederhana. Sejak 1981, ia telah menciptakan sekitar 3.000 karya, dengan fokus pada detail yang sering dilupakan. “Saya percaya pada fenomena alam,” bahasnya. “Alam di sini sangat berbeda dengan Korea. Saya lebih tertarik pada ranting kecil.”

Pendekatannya di Tasikmalaya mulai diaplikasikan. Rumput, ranting, dan material alami menjadi elemen utama dalam rencana karya yang sedang ia persiapkan. Hal-hal yang sering dianggap remeh, tapi justru di sini nilai artistik dibangun—tanpa panggung atau baliho.

Ketemuan dengan seniman lokal membuka dialog. Andi Ramdani, perupa bambu asal Tasikmalaya, melihat Kang sebagai simbol kebebasan berkarya yang jarang terlihat di tanah air. “Saat di Korea Selatan, ada dukungan material dan artist support,” ceritanya. “Berkarya tidak tertekan.”

Bandingkan kondisi lokal yang sering meninggalkan seniman lebih sibuk mencari biaya daripada mewujudkan ide. Seni, dalam banyak kasus, masih kalah karena upaya proposal. Kang sendiri mengenal berbagai medium alami—bambu, bunga kering, batu, hingga patung es. Namun kedatangan ini bukan hanya kunjungan artistik biasa.

Pesan Kang Hee Jon mengajak kita melihat alam dengan mata baru. Seni tak perlu berwarna atau memerlukan panggung besar. Nilai kreatif bisa muncul dari hal kecil, jika kita memutuskan untuk membacanya.

Kebersamaan dengan alam bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang memahami nilai dari hal-hal yang sering diabaikan. Seni bukan hanya karya, tetapi perjalanan untuk mencari makna di tiap detail. Ini adalah pemberitaan bahwa kreativitas dapat terlihat di mana saja, jika kita siap mendengkrikannya.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan