Di Malioboro, Tasikmalaya, trotoar dikuasai PKL, lampu padam, serta parkir Semrawut gagal.

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Dengan waktu berlalu, area yang dulu dikenal sebagai “Malioboro-nya Tasik” di Tasikmalaya mulai kehilangan keindahannya. Proyek yang dulu menjadi simbol keunikan kota sekarang mengalami penurunan visibilitas—both secara fisik dan filosofis. Lima tahun setelah dirancang pada 2022, ruang ini terasa seperti sebuah kenangan yang terlalu cepat tenggelam.

Lampu hias yang sempat menarik perhatian kini banyak mati. Tiang-tiang yang dulu berdiri penuh energi kini bersemi kesenangan. Kota ini seperti lupa menyala lampu yang pernah menawarkan keindahan. Trotoar yang dirancang untuk keamanan pejalan kaki kini berubah menjadi ruang yang disemprot parkir liar.

Pemilik toko kaki lima (PKL) menyelenggarakan bisnis tanpa ketat, memaksa warga berjalan di jalan. Kendaraan parkir sembarangan membuat ruang gerak semakin terbatas. Rina (27), warga yang sering melewati, mengakui perubahan ini sangat nyata: “Dulu jalan kaki sangat nyaman, malah saat ini lampu berubah menjadi tantangan.”

Semakin jauh, konsep pembangunan yang dulu direncanakan dengan serius kini terlihat seperti dibiarkan berjalan tanpa pengawasan. Senada, Andi (34) menilai, “Dulu targetnya Malioboro, tapi sekarang ruang ini seperti semrawut.” Parkir liar menjadi penyebab utama kemacetan, terutama jam sore hingga malam.

Penerangan menunjukkan pergeseran fungsi ruang publik. Dari area ramah manusia menjadi kompromi antara bisnis informal dan ketidaktertiban. PKL memang menjadi bagian dari dinamika ekonomi, tapi tanpa struktur, mereka berubah dari pelayanan menjadi masalah.

Warga meminta pemerintah tidak hanya mengingat proyek ini sebagai simbol masa lalu. Penataan ulang menjadi kebutuhan mendasar. Tapi, harus dikerjakan dengan cara yang tidak menghancurkan ekonomi informalis yang sudah berjalan.

Data terkini menunjukkan bahwa parkir liar di kota-kota bisa meningkatkan ketidaktertiban di ruang publik hingga 35% jika tidak diatur. Contohnya, kota X berhasil mengurangi masalah parkir dengan konsep parking alternatif.

Kehilangan keindahan Tasikmalaya bukan cuma tentang lampu atau trotoar. Ini adalah tanda bahwa ruang publik harus tetap menjadi ruang yang hidup. Jika kita tidak segera merawatnya, area ini akan akan menjadi contoh ketidakteringinan kota.

Aksi segera diperlukan—bukan hanya untuk memperbaiki lampu atau trotoar. Yang lebih penting adalah menyesuaikan prioritas dan memastikan ruang rakyat tetap menjadi jantung kehidupan kota. Tanpa itu, Tasikmalaya mungkin akan terlihat seperti sebuah kota yang lupa mengingat apa yang pernah membuatnya spesial.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan