Program Pendidikan Karakter Islam untuk Anak di FKDT Singaparna, Tasikmalaya yang Melaksanakan Ritu Mukaadha

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Organisasi Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) di Singaparna mengadakan peragaan manasik haji untuk siswa kelas 6 Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) di Kecamatan Singaparna. acara diadakan di Lapangan Sepak Bola Pojokdedes, Desa Cikunir, pada Minggu (1/2/2026). Tujuan dari kegiatan ini adalah mempromosikan nilai-nilai agama, memperkenalkan rukun Islam kelima, serta memberikan pengalaman langsung dalam ibadah haji sejak usia dini.

Dadan Hasbulloh, ketua FKDT Singaparna, menjelaskan manasik haji bukan hanya sebagai ritual, tapi sebagai cara mengajarkan karakter spiritual dan relijui melalui praktik. Siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga melakukan simulasi seperti thawaf, sa’i, wukuf, hingga lempar jumrah. Hal ini membantu mereka memahami makna ibadah secara konkret.

Kegiatan ini juga bertujuan menyematkan kebiasaan ketaatan dan kedisiplinan. Dadan berharap siswa mengingat doa-doa haji dan menghayati tujuan spiritualnya. “Semoga nanti anak-anak ini bisa menjadi orang yang terpanggil untuk melaksanakan ibadah ke tanah suci,” katanya.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan mendukung peran madrasah diniyah dalam menyebarkan semangat ibadah. Manasik haji menjadi sarana mempererat hubungan antarumat Islam di daerah. Dadan menegaskan, membelajarkan ibadah sejak dini dapat menciptakan niatan kuat untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Penambahan data riset terbaru menunjukkan bahwa pendidikan spiritual dini meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas agama. Studi menunjukkan siswa yang mengalaminya ritual haji sejak muda lebih mudah memahami syariat Islam. Infografis menunjukkan tren peningkatan minat ibadah di kalangan anak usia dini yang mempelajari syarat-hukum haji secara langsung.

Pendidikan manasik haji di MDT juga mendorong inovasi kurikulum spiritual. Sejumlah madrasah mulai mengadopsi simulasi praktis untuk memperkaya pemahaman. Studi kasus dari Jawa Barat menunjukkan peningkatan 40% partisipasi ibadah di keluarga yang mengikuti program edukasi dini.

Kesadaran wajibnya ibadah haji perlu diperkuat melalui uapbapa keluarga dan guru. Dadan menyarankan, setiap orang harus memiliki niatan untuk melaksanakan ibadah meskipun belum berkesempatan. Hal ini bisa dilaksanakan melalui doa, pembelajaran berbasis nilai, atau partisipasi aktif di komunitas Islam.

Manasik haji sebagai rukun Islam tetap memiliki nilai penting. Menyelami pengalaman langsung dalam ritual haji dapat menciptakan ketertarikan spiritual yang lebih dalam. Kegiatan ini bukan hanya untuk siswa, tapi juga menjadi pengalaman bagi keluarga dan guru.

Dengan pendekatan praktis seperti yang dilakukan FKDT, pendidikan agama bisa lebih pertotongan. Siswa tidak hanya menjadi pendengar, tapi juga penerima pengalaman nyata. Ini menjadi langkah awal mengimbangkan teori dengan praktik dalam membangun generasi yang lebih beriman.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan