Pekerja di PT Albasi Priangan Lestari Ngaku Kesepakatan Bersama untuk Mendapatkan Pendapatan Lebih Besar

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

PT AlbasiPriangan Lestari (APL) di Bandjar menetapkan urutan kerja 12 jam dan 8 jam berdasarkan kesepakatan bersama dengan pekerja. Hal ini diungkapkan oleh Adung, seorang karyawan yang bekerja di bagian bahan baku. Ia menjelaskan bahwa penentuan 12 jam bukan peraturan dari perusahaan melainkan kesepakatan mutual antar pekerja. “Tidak semua pekerja harus 12 jam, ada juga yang 8 jam. Ini kesepakatan bersama karena penghasilannya lebih banyak,” ujarnya Rabu (6/5/2026).

Seperti Adung, pekerja di bagian bahan baku bisa menghasilkan Rp3 juta dalam dua minggu, atau Rp6 juta dalam sebulan. Penghasilan ini jauh lebih tinggi dari UMK Bandjar yang sebesar Rp2,3 juta per bulan. “Alhamdulillah, kerja 12 jam memberikan penghasilan yang besar, karena kebutuhan hidup sekarang bengkak,” katanya.

Adung menyoroti bahwa pilihnya kerja 12 jam lahir dari keinginan, bukan dikebatinya. “Kalau tidak mau, bisa pilih 8 jam, tapi hasilnya harus disesuaikan,” ujarnya. Sebelumnya, HRD PT APL Dadan menyatakan pemberlakuan jadwal kerja sesuai permintaan karyawan. “Pemberlakuan 12 jam sesuai keinginan dan juga bertujuan meningkatkan penghasilan,” ucapnya Selasa (5/5/2026).

Kepala Dinas Tenaga Kerja Banjar, Sri Hidayati, menegaskan bahwa jadwal kerja harus tetap mengacu pada regulasi pemerintah. “Kita telah minta perusahaan pertimbangkan ulang terkait jadwal kerja sesuai UU,” kata dia.

Penetapan kerja 12 jam di APL mencerminkan kesepakatan mutual yang mematuhi kebutuhan pekerja. Banyaknya yang memilih jadwal ini karena dampaknya pada penghasilan. Contohnya, dua pekan kerja 12 jam bisa menghasilkan sampai Rp3 juta. Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan regulasi, tapi tetap masuk dalam kesepakatan bersama yang mendukung kesejahteraan karyawan.

Pola kerja yang fleksibel ini menunjukkan bahwa kesepakatan mutual bisa menjadi solusi praktis untuk memajukan kesejahteraan ekonomi. Karyawan memiliki kebebasan memilih jadwal sesuai kemampuan, sementara perusahaan memastikan kinerja tetap optimal. Model ini bisa menjadi referensi untuk perusahaan lain yang ingin mengoptimalkan daya tapak tenaga kerja.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan