Di review Ghost in theCell, saya ingin menyoroti satu poin awal: film ini tidak mengikuti pola horor konvensional yang sering mengandung keterangan hantu langsung menyerang manusia atau dangdut gore ekstrim. Saya lebih kesulitan menikmati film yang fokus pada kekacauan visual tanpa pencapaian naratif kuat. Namun, Ghost in the Cell justru menarik dengan pendekatannya yang berbeda dari yang lainnya.
Film terbaru Joko Anwar ini bukan sekadar cerita penjara dengan hantu. Ia menawarkan eksperimen genre yang mengencerkan dan tetap terkait. Prefeksinya sederhana, tapi efisien. Cerita membuka di sisi dimas, yang dimainkan Endy Arfian, seorang penghuni baru yang dimenjakan karena didakwa menciptakan kematian. Di pengadang, ada festin sengaja oleh sengaja seseorang, menyentuh ikatan antara kekuasaan, korupsi, dan ketidakadilan sosial.
Struktur film ini linier dan mudah diikuti, tapi pengalaman penonton terasa intens. Narratif tidak beruntun, tidak berusaha terlalu cahl. Namun, ketika film masuk ke lapisan horornya, ACTION dan gore meningkat dengan tajam. Ada juga elemen komedi yang tak terduga, seperti adegan slapstick yang muncul di tengah kekacauan, serta kritik sosial yang tajam melalui dialog.
Dari hal performance, film ini berhasil menarikan para karakter. Endy Arfian, Morgan Oey, Aming Sugandhi, dan Abimana Aryasatya membawa energi yang beda. Aming, yang biasanya lebih komik, muncul sebagai karakter rigid dan mengintimidasi, menjadi penembus yang mempengaruhi suasana penjara. Setiap tokoh menambahkan lapisan ke kerumitan lingkungan prison, yang terlihat lebih sebagai simbol sistem korupsi daripada tempat fisik.
Salah satu kekuatan film adalah kemampuannya menggabungkan genre. Horor brillian, gore intens, komedi absurd, serta satire sosial semua terasa terkait. Ada adegan yang liar, seperti pertarungan antara Morgan Oey dan Abimana, yang dipenuhi humor tanpa merusak tensi. Di sisi lain, film ini tidak mengilangkan kekacauan visuel, melainkan memaksimalkannya untuk menciptakan pengalaman berisik.
Pencapaian akhir film terasa kurang memenuhi harapan. Setelah build-up yang kuat, penutupnya lebih berasa “tahan” daripada “pukul”. Namun, hal inilah yang menjadi bagian dari identitas film: ia tidak menawarkan solusi sederhana. Fokusnya lebih pada pengalaman penonton dalam menghadapi kekacauan, bukan hanya solusi logis.
Sebagai penutup, Ghost in the Cell menunjukkan bahwa film horor Indonesia mampu berinovasi. Ia tidak terjebak pada tropes tradisional, tapi mengeksperimen dengan gaya yang berani. Untuk yang mencari pengalaman unik, film ini bisa menjadi rekomendasi.
Rating: 8/10. Kalau kamu tertarik, coba film Joko Anwar lainnya atau ceritanya tentang genre eksperimen di TheCuy.com.
Baca juga games lainnya di Info game terbaru atau cek review mobile legends lainnya.

Penulis Berpengalaman 5 tahun.