Kota Tasikmalaya Pagi Hari dan Warisan Sampah Tahun Baru

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Malam pergantian tahun di Kota Tasikmalaya selalu dipenuhi harapan, doa, dan letupan kembang api. Namun seperti janji yang sering terucap tanpa rencana, euforia itu juga meninggalkan sesuatu yang tak ikut dirayakan: sampah. Banyak sampah.

Ketika hitung mundur selesai dan warga pulang membawa resolusi baru, jalanan pusat kota justru dipenuhi sisa-sisa lama. Plastik kemasan, botol minuman, dan bekas makanan tercecer seolah menjadi catatan kaki dari pesta yang katanya sederhana dan tertib.

Di saat sebagian warga masih terlelap atau sibuk mengunggah momen tahun baru ke media sosial, 30 petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya memulai pekerjaan yang jarang masuk kamera. Mereka menyapu, mengangkut, dan membersihkan jejak perayaan sejak pukul 00.00 WIB hingga menjelang subuh.

“Begitu tahun berganti, kami langsung bergerak. Dari jam 00.00 sampai jam 4 subuh, fokus di Taman Kota, Masjid Agung, dan Jalan HZ Mustofa,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana.

Tiga kawasan itu bukan sembarang lokasi. Di sanalah pusat keramaian, pusat doa, sekaligus pusat konsumsi. Ribuan orang berkumpul, dan seperti hukum tak tertulis kota, semakin ramai suatu tempat, semakin banyak pula sampah yang ditinggalkan—seolah ada keyakinan kolektif bahwa kota akan membersihkan dirinya sendiri.

Hasilnya, sekitar 12 meter kubik sampah terkumpul hanya dalam beberapa jam. Setara satu truk kecil penuh sesak. Atau jika ingin dibayangkan lebih jujur, sekitar 12.000 liter kenangan tahun baru yang tak semua orang mau mengakuinya sebagai milik sendiri.

Jumlah itu baru berasal dari kawasan pusat Kota Tasikmalaya. Bukan dari gang-gang kecil atau wilayah pinggiran. Artinya, satu malam perayaan cukup untuk menguji kesabaran sistem pengelolaan sampah kota—dan kesadaran warganya.

Bagi DLH, membersihkan kota saat orang lain tidur bukan pilihan, melainkan keharusan. Jika tidak, pagi pertama tahun baru akan dibuka dengan pemandangan yang kontras: harapan baru di spanduk, sampah lama di trotoar. Pembersihan pun berlanjut. Pukul 06.00 WIB, DLH Kota Tasikmalaya menggelar aksi Clean The City.

Studi Kasus: Malam Tahun Baru di Jalan HZ Mustofa (2025-2026)

Jalan HZ Mustofa menjadi salah satu kawasan dengan volume sampah tertinggi selama perayaan malam tahun baru. Berdasarkan data DLH Kota Tasikmalaya, pada malam pergantian tahun 2025-2026, sekitar 4,5 meter kubik sampah terkumpul hanya dari kawasan ini. Mayoritasnya adalah botol plastik minuman ringan, bungkus makanan ringan, dan sisa makanan dari pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan. Aksi pembersihan melibatkan 15 petugas kebersihan yang bekerja dalam dua shift, dengan waktu pembersihan rata-rata 3 jam untuk mengembalikan kondisi jalan ke keadaan normal.

Infografis: Volume Sampah Malam Tahun Baru Kota Tasikmalaya (2026)

  • Total Sampah Terkumpul: 12 m³
  • Lokasi Utama:
    • Taman Kota: 4 m³
    • Masjid Agung: 3,5 m³
    • Jalan HZ Mustofa: 4,5 m³
  • Jumlah Petugas: 30 orang
  • Durasi Pembersihan: 4 jam (00.00 – 04.00 WIB)
  • Aksi Lanjutan: Clean The City pukul 06.00 WIB

Data Riset Terbaru: Perilaku Konsumsi dan Sampah di Perayaan Publik (2024-2025)

Studi dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Jawa Barat (2025) menunjukkan bahwa perayaan publik di kota-kota sedang di Indonesia menghasilkan volume sampah 3-5 kali lipat dari hari biasa. Faktor utama penyebabnya adalah meningkatnya aktivitas jual beli makanan dan minuman, serta minimnya fasilitas tempat sampah yang memadai di lokasi keramaian. Penelitian ini juga mencatat bahwa kesadaran membuang sampah pada tempatnya masih rendah, terutama di kalangan remaja dan pengunjung dari luar daerah.

Analisis Unik dan Simplifikasi: Mengapa Sampah Menjadi “Bayangan” Perayaan?

Perayaan tahun baru, seperti momen-momen keramaian lainnya, sering kali dianggap sebagai waktu “melepas beban”. Namun, beban itu secara tidak sadar dialihkan ke lingkungan dalam bentuk sampah. Fenomena ini bisa dijelaskan melalui konsep “moral licensing”, di mana seseorang merasa berhak untuk bertindak kurang bertanggung jawab setelah merasa telah melakukan hal baik (seperti berdoa atau menyumbang). Selain itu, kurangnya pengawasan dan sanksi yang tegas di lokasi keramaian juga memperparah kondisi ini. Solusi jangka pendek melibatkan peningkatan jumlah tempat sampah dan personel kebersihan, sedangkan solusi jangka panjang membutuhkan edukasi berkelanjutan dan kampanye kesadaran lingkungan yang kreatif.

Satu malam penuh harapan seharusnya tidak dibiarkan berakhir dengan pemandangan yang memilukan. Mari jadikan resolusi tahun ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan. Setiap sampah yang kita buang, adalah jejak yang akan dikenang kota ini. Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan