Sirene Tsunami di Kulon Progo yang Eror Berdering 20 Menit Menggoncang Warga

Jurnalis Berita

By Jurnalis Berita

Warga di Karangwuni, Wates, Kulon Progo, mengalami kejutan saat mendengar sirene peringatan dini tsunami (EWS) berdengung selama 20 menit. Pasca pengecekan, ternyata suara itu berasal dari kerusakan pada sistem sirene.

Insiden ini terjadi pada Sabtu malam (6/9) sekitar pukul 23.15 WIB. Warga yang mengira tsunami datang segera melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi. Muh Juaini, Kepala Bidang Pencegahan BPBD Kulon Progo, menyebutkan peralatan tersebut baru dipasang di lokasi tersebut bulan Agustus lalu. “Benar, EWS ini baru dipasang tahun ini, tepatnya awal Agustus,” ujarnya.

Perangkat tersebut merupakan hasil pengadaan dari BNPB pada tahun 2025. Awalnya, BPBD Kulon Progo mengajukan enam unit EWS, namun hanya satu saja yang berhasil direalisasikan dan ditempatkan di Karangwuni. Sayangnya, Juaini belum dapat menjelaskan penyebab kerusakan sistem tersebut. “Kami juga masih bingung mengapa tiba-tiba berbunyi, padahal sudah diuji dan petugas telah dilatih. Biasanya kalau eror, EWS akan berdentung saja,” katanya.

Data riset terbaru menunjukkan bahwa sistem EWS di berbagai daerah Indonesia masih menghadapi tantangan teknis serupa. Sebagai contoh, dalam studi kasus di Lombok, sistem serupa mengalami gangguan karena gangguan listrik yang tidak terduga. Analisis unik dan simplifikasi: Kerusakan sistem peringatan dini bisa terjadi karena faktor teknis atau kukuhnya maintenance. Jika sistem tidak diawasi dengan baik, bisa menimbulkan kebingungan publik dan potensi kerusakan infrastruktur.

Kesimpulan: Insiden ini mengingatkan betapa pentingnya sistem peringatan dini yang handal. Investasi teknologi ini harus disertai dengan pelatihan yang berkesinambungan bagi petugas dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang prosedur evakuasi. Semua upaya perlu dilakukan agar teknologi ini bisa menjadi mitra sejati dalam penanggulangan bencana.

Baca juga Berita lainnya di News Page

Tinggalkan Balasan